Lonjakan Cyclosporiasis di Maryland: Diare Parah dari Sayur Buah

CBS News

CBS News

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Lonjakan cyclosporiasis di Maryland kembali menguji kewaspadaan publik terhadap diare parah yang tak kunjung reda. Pada 2026, negara bagian ini mencatat 32 kasus terkonfirmasi, dan 28 di antaranya muncul sejak 1 Mei.

Maryland sedang menyelidiki kenaikan kasus cyclosporiasis, penyakit parasit yang terkait dengan diare berat. MedStar Health menyebut setidaknya satu kasus terkonfirmasi terjadi di Baltimore.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) menyatakan ratusan orang terinfeksi di sedikitnya 18 negara bagian. Namun hingga kini, sumber penularan belum berhasil dipastikan.

Departemen Kesehatan Maryland menegaskan belum ada “benang merah” yang menghubungkan kasus-kasus dari 1 Mei hingga 7 Juli. Pola musiman juga dikenal, karena kasus biasanya meningkat pada musim semi dan musim panas, terutama 1 Mei sampai 31 Agustus.

Data Maryland menunjukkan fluktuasi yang mengundang pertanyaan tentang faktor pemicu di balik gelombang tahunan. Pada 2025 ada 128 kasus terkonfirmasi, dan 18 kasus terjadi pada 1 Mei hingga 7 Juli.

Pada 2024, Maryland mencatat 204 kasus terkonfirmasi, dengan 19 kasus pada rentang 1 Mei hingga 7 Juli. Pada 2026, jumlah 32 kasus memang lebih kecil dibanding total tahunan sebelumnya, tetapi laju kemunculannya sejak 1 Mei terasa mengkhawatirkan.

Cyclosporiasis bukan keracunan makanan “biasa” karena gejalanya bisa muncul sekitar satu minggu setelah terpapar. Keterlambatan ini membuat pelacakan sumber menjadi rumit, karena orang cenderung lupa apa yang mereka makan beberapa hari sebelumnya.

Dokter juga menekankan parasit dapat berubah saat bereplikasi, sehingga semakin sulit mengaitkan semua kasus pada satu sumber tunggal. Akibatnya, wabah bisa menyebar senyap melalui rantai pasok tanpa segera terlihat polanya.

Gejala yang dilaporkan mencakup diare berair, kram perut, hilang nafsu makan, dan kelelahan ekstrem. Dalam praktiknya, kombinasi “diare berair yang menetap” dan lemas berkepanjangan sering menjadi alarm yang terlambat disadari.

Parasit Cyclospora kerap ditemukan pada produk segar, sehingga isu ini menabrak kebiasaan publik yang menganggap buah dan sayur selalu identik dengan hidup sehat. Mencuci buah dan sayur dapat menurunkan risiko, tetapi bukan jaminan mutlak jika kontaminasi terjadi pada permukaan yang sulit dibersihkan.

Dr. Jonathan Thierman, Presiden Expresscare Urgent Care Centers, menjelaskan mekanismenya sebagai penularan fekal-oral. “Artinya berasal dari tinja yang kemudian mencemari sumber makanan dan masuk ke sistem orang lain,” ujarnya.

Menurut Thierman, kontaminan paling umum adalah produk segar seperti selada dan beri. Ia menambahkan raspberry termasuk yang paling signifikan karena sulit dicuci akibat banyak celah, sementara “telur-telur kecil parasit ini sangat lengket dan menempel pada permukaan produk.”

Lonjakan cyclosporiasis di Maryland memperlihatkan paradoks modern: semakin global rantai pasok pangan, semakin luas pula peluang kontaminasi menyebar. Ketika otoritas belum menemukan sumber bersama, publik terjebak pada ketidakpastian yang mudah berubah menjadi kepanikan atau justru abai.

Masalahnya bukan sekadar “cuci lebih bersih”, karena sebagian produk memiliki struktur yang membuat pembersihan tidak sempurna. Ini menuntut transparansi lebih keras dari industri pangan dan sistem pelacakan yang lebih cepat, bukan hanya imbauan umum yang berulang setiap musim.

Ada pula risiko bias persepsi, karena gejala yang muncul terlambat membuat orang mengira itu gangguan pencernaan biasa. Padahal parasit bisa diobati dengan antibiotik, sehingga keterlambatan memeriksakan diri berarti memperpanjang penderitaan dan membuka peluang penularan lanjutan.

Cyclosporiasis mengingatkan bahwa makanan sehat pun bisa menjadi kendaraan penyakit ketika rantai kebersihan putus pada satu titik. Jika diare berair menetap disertai kram dan kelelahan ekstrem, saran dokter jelas: temui tenaga kesehatan karena terapi antibiotik tersedia.

Di sisi lain, kasus yang belum terhubung ke satu sumber menuntut kerja investigasi yang lebih presisi, dari kebun hingga rak toko. Pertanyaannya, apakah kita akan menunggu gelombang berikutnya setiap musim, atau membangun sistem pangan yang lebih dapat dilacak dan lebih bertanggung jawab?

(Orbit dari berbagai sumber, 17 Juli 2026)