Serangan Houthi ke Saudi, Koalisi Janji Balas Tegas

Al Jazeera

Al Jazeera

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Serangan rudal dan drone Houthi ke Arab Saudi melukai 13 warga sipil di Khamis Mushait, Abha, dan Taif. Koalisi pimpinan Saudi berjanji akan merespons “secara tegas” sambil perang Yemen kembali memanas dan mengguncang jalur pelayaran Laut Merah.

Koalisi pimpinan Saudi yang mendukung pemerintah Yemen yang diakui internasional menyebut serangan Houthi menyebabkan luka ringan hingga sedang, serta merusak tujuh rumah dan dua kendaraan. Juru bicara koalisi, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, menegaskan mereka akan bertindak “bertanggung jawab dan tegas” untuk melindungi kedaulatan kerajaan.

Di sisi lain, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) memperingatkan eskalasi terbaru telah mengungsikan sedikitnya 18.000 rumah tangga, atau sekitar 125.000 orang, sejak awal bulan. OCHA menilai pertempuran memaksa warga lari, meningkatkan korban sipil, dan menekan operasi bantuan yang sudah kewalahan.

Houthi, yang juga dikenal sebagai Ansar Allah, menuduh Saudi melancarkan 54 serangan udara di Lahj, Taiz, al-Jawf, Marib, dan Hajjah dalam 24 jam. Mereka mengklaim kompleks pemerintahan di distrik Khadir, Taiz, menjadi sasaran dan menimbulkan korban luka.

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyebut jet tempur F-15 dan Typhoon dari pangkalan Saudi di Khamis Mushait dan Taif digunakan dalam serangan itu. Ia juga mengancam pembalasan, sementara media pro-Houthi melaporkan tiga warga sipil tewas, termasuk dua anak, di distrik Dhubab dan Maqbanah, Taiz.

Arab Saudi belum menanggapi klaim Houthi secara terbuka, dan Kementerian Luar Negeri Saudi tidak merespons permintaan komentar. Celah informasi ini membuat publik hanya melihat potongan narasi yang saling meniadakan, di tengah perang informasi yang sudah lama menyertai konflik Yemen.

Eskalasi ini muncul setelah Houthi mengaku menembakkan puluhan rudal dan drone ke Pangkalan Udara King Khalid di Khamis Mushait. Target yang disebutkan spesifik, dari hanggar hingga radar, landasan pacu, dan depot amunisi, yang menunjukkan upaya menekan kapasitas udara Saudi.

Houthi juga menyatakan Saudi melakukan 300 serangan udara di Yemen dalam lima hari terakhir. Jika angka ini mendekati kenyataan, maka intensitasnya menandai kembalinya pola “serang-balas” yang pernah membuat konflik Yemen menjadi salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia.

Pertukaran serangan udara mengikuti kemajuan cepat Houthi di darat di wilayah barat Yemen. Kelompok itu disebut menguasai sebagian besar pesisir Laut Merah dan mendekati Selat Bab al-Mandeb, titik sempit yang menentukan arus perdagangan global.

Bab al-Mandeb menjadi semakin strategis karena gangguan besar di Selat Hormuz akibat perang Amerika Serikat–Iran. Ketika Hormuz terganggu, jalur alternatif dan simpul-simpul penghubung seperti Laut Merah otomatis naik nilainya, dan setiap pergeseran kontrol di Yemen berdampak regional.

Pemerintah Yemen menyatakan pasukannya maju di Taiz setelah merebut kembali posisi dari Houthi. Mereka juga mengklaim menghantam pejuang dan peralatan Houthi di Dhubab dan al-Khokha di pesisir Laut Merah, namun Al Jazeera menyebut klaim medan perang ini tidak bisa diverifikasi secara independen.

Pejabat Houthi dan pemerintah Yemen juga menyebut Houthi merebut Pulau Hanish Besar dan Hanish Kecil, sekitar 160 km di utara Bab al-Mandeb. Kemajuan terbaru juga mencakup Pulau Mayyun di mulut Laut Merah, yang memperkuat gambaran bahwa perebutan garis pantai adalah inti strategi saat ini.

Perang Yemen yang telah berlangsung lebih dari satu dekade disebut “menyala kembali” pada Juli setelah Houthi mendeklarasikan blokade laut terhadap Saudi. Serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah menggerus ketenangan relatif pasca-gencatan senjata PBB tahun 2022 yang sempat menahan kekerasan skala besar.

Dalam konteks ini, serangan ke kota-kota Saudi bukan sekadar aksi simbolik, melainkan pesan bahwa garis depan tidak lagi berada di Yemen semata. Ketika 13 warga sipil terluka di tiga kota, dampak politik di Riyadh menjadi bagian dari kalkulasi militer.

PBB melalui OCHA memberi angka pengungsian 125.000 orang sejak awal bulan, yang menegaskan biaya sosial langsung dari eskalasi. Data ini penting karena menunjukkan bahwa setiap “kemajuan taktis” di peta, selalu dibayar oleh perpindahan massal dan runtuhnya layanan dasar.

Janji koalisi Saudi untuk merespons “tegas” terdengar seperti bahasa standar perang, tetapi ia menutup dilema yang lebih besar: balasan keras sering memperpanjang siklus serangan dan memperluas korban sipil. Di Yemen, setiap putaran serang-balas cenderung mengunci para pihak pada logika pembalasan, bukan logika penyelesaian.

Houthi memadukan serangan drone-rudal dengan ekspansi wilayah pesisir, sehingga tekanan terhadap Saudi dan jalur pelayaran berjalan bersamaan. Ini membuat konflik berubah dari perang domestik menjadi instrumen tawar regional, terutama ketika Bab al-Mandeb dan Laut Merah menjadi “urat nadi” energi dan perdagangan.

Bagian yang paling mengkhawatirkan adalah kabut klaim yang tak terverifikasi dan narasi korban yang saling bertabrakan. Ketika Saudi tidak berkomentar atas klaim Houthi, ruang publik diisi oleh propaganda, sementara warga sipil di kedua sisi menjadi angka yang mudah diperdebatkan.

Di luar medan perang, muncul pertanyaan tentang Pakta Pertahanan Bersama Mecca Joint Defence Agreement yang ditandatangani Turkiye dan Pakistan dengan Saudi bulan lalu. Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif menyebut agresi tanpa provokasi terhadap Saudi atau limpahan konflik Yemen ke wilayah kerajaan akan mengaktifkan pakta itu, dan ia menegaskan “tak perlu ada keraguan”.

Namun pensiunan Letnan Jenderal Tariq Khan mengatakan Ankara maupun Islamabad kecil kemungkinan terlibat. Ia menilai klausul pertahanan bersama sulit dijalankan saat konflik Yemen masih berlangsung, karena bisa dipersepsikan sebagai keberpihakan terhadap negara tertentu.

Tariq Khan juga menyebut ada “kelalaian penting” dalam perjanjian yang menghambat operasional penuh, meski detailnya tidak dipaparkan. Ini mengisyaratkan bahwa pakta tersebut lebih kuat sebagai sinyal diplomatik daripada sebagai mekanisme militer yang siap pakai.

Refleksi paling tajamnya adalah ini: ketika perjanjian pertahanan dipakai sebagai alat gertak, risiko salah hitung meningkat. Di kawasan yang sudah dipenuhi konflik berlapis, satu salah interpretasi bisa menyeret aktor baru dan memperlebar perang.

Serangan Houthi yang melukai 13 warga sipil di Arab Saudi, klaim serangan udara Saudi di berbagai provinsi Yemen, dan lonjakan pengungsian 125.000 orang menunjukkan eskalasi yang bergerak cepat dan mahal. Perebutan pesisir Laut Merah dan pulau-pulau dekat Bab al-Mandeb menegaskan bahwa yang dipertaruhkan bukan hanya Yemen, tetapi juga keamanan rute dagang global.

Di tengah janji “balasan tegas” dan ancaman “pembalasan” berikutnya, pertanyaan yang jarang dijawab adalah siapa yang menghentikan putaran ini sebelum menjadi perang regional penuh. Jika diplomasi tidak segera menemukan jalan keluar, apakah Laut Merah akan menjadi medan baru yang menormalisasi krisis kemanusiaan sebagai biaya geopolitik? (Orbit dari berbagai sumber, 17 September 2026)