Gangguan Ritme Sirkadian: Remaja Sulit Tidur dan Sekolah Terganggu

The Washington Post

The Washington Post

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Gangguan ritme sirkadian membuat Brandon Luu, sejak remaja, kerap baru bisa tidur sangat larut hingga lewat pukul 02.00. Pola tidur itu membuat pagi hari terasa menyiksa dan sekolah menjadi jauh lebih berat.

Terjemahan akurat kutipan sumber: Brandon Luu mulai memikirkan “mesin” sirkadian tubuh sejak remaja, ketika ia secara rutin tidak mampu tertidur sampai larut, kadang jauh lewat pukul 2 pagi. Jadwal itu membuat pagi hari menyedihkan dan sekolah lebih sulit.

Kisah ini terdengar sederhana, tetapi ia membuka pintu ke isu kesehatan publik yang lebih luas: jam biologis manusia tidak selalu sejalan dengan jam sekolah dan tuntutan sosial. Ketika ketidaksinkronan itu terjadi berulang, dampaknya bisa merembet dari konsentrasi hingga kesehatan mental.

Ritme sirkadian adalah sistem pengatur waktu internal yang memengaruhi rasa kantuk, kewaspadaan, dan hormon. Pada banyak remaja, fase tidur memang cenderung bergeser lebih malam, sehingga “tidur cepat” bukan sekadar soal kemauan.

Jika seseorang baru bisa tidur setelah tengah malam, bangun pagi untuk sekolah berarti memotong durasi tidur secara kronis. Akibatnya muncul “utang tidur” yang menurunkan fokus, memicu mudah marah, dan membuat pembelajaran terasa seperti menanjak dengan beban tambahan.

Dalam konteks kebijakan, jam masuk sekolah yang terlalu pagi sering mengabaikan realitas biologis ini. Ketika sistem menuntut performa tinggi pada jam tubuh masih “malam”, yang terjadi adalah penalti kolektif terhadap remaja yang ritme sirkadiannya terlambat.

Di sisi lain, budaya layar dan paparan cahaya malam dapat memperparah keterlambatan tidur. Namun menyederhanakan masalah menjadi “remaja kecanduan gawai” juga keliru, karena ada komponen biologis yang kuat dan berbeda pada tiap individu.

Kisah Brandon Luu memperlihatkan bagaimana sains tubuh sering baru terasa penting ketika hidup sehari-hari terganggu. Ia bukan sekadar “kurang disiplin”, melainkan sedang berhadapan dengan mesin biologis yang menolak dipaksa.

Di sinilah kritiknya tajam: kita menilai moral seseorang dari jam tidurnya, padahal jadwal sosial sering tidak ramah terhadap variasi biologis. Sekolah menuntut hadir pagi, tetapi jarang bertanya apakah waktu itu selaras dengan kebutuhan tidur remaja.

Solusi yang masuk akal perlu memadukan tanggung jawab pribadi dan perubahan sistem. Edukasi kebersihan tidur penting, tetapi penyesuaian jam sekolah dan pemahaman publik tentang ritme sirkadian sama pentingnya agar beban tidak hanya ditaruh pada individu.

Gangguan ritme sirkadian bukan kisah “malas bangun”, melainkan benturan antara jam biologis dan jam sosial. Ketika benturan itu dibiarkan, sekolah menjadi lebih sulit bukan karena kemampuan menurun, tetapi karena tubuh dipaksa beroperasi di luar waktunya.

Pertanyaannya, sampai kapan kita mengukur prestasi remaja dengan jadwal yang mungkin tidak manusiawi bagi biologi mereka. Jika kita serius soal pendidikan dan kesehatan, mungkin yang perlu diubah bukan hanya kebiasaan tidur anak, tetapi juga cara masyarakat menyusun waktu. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Oktober 2026)