Nasionalisasi British Steel: Jingye Tuntut Kompensasi dari Inggris

Al Jazeera

Al Jazeera

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Nasionalisasi British Steel memicu sengketa baru antara Inggris dan China, setelah Jingye Steel menuntut kompensasi penuh atas kerugian investasi. Perusahaan China itu menuding London “menginjak-injak aturan investasi internasional” dan menawarkan kompensasi yang nyaris nol.

Terjemahan ringkas artikel sumber: Sebuah perusahaan China menuntut kompensasi dari pemerintah Inggris atas kerugian investasi setelah nasionalisasi pabrik baja pekan lalu. Jingye Steel meminta Inggris segera berhenti “menginjak-injak aturan investasi internasional” dan segera memberi kompensasi “penuh dan efektif” atas seluruh kerugian investasi akibat keputusan nasionalisasi British Steel.

Terjemahan ringkas artikel sumber: Pemerintah Inggris mengambil alih kendali operasional tahun lalu setelah Jingye mempertimbangkan menutup tanur tinggi (blast furnace) di Scunthorpe, Inggris utara. Pabrik itu disebut sebagai yang terakhir di Inggris yang memproduksi “baja perawan” dari bahan baku, bukan dari besi tua daur ulang.

Terjemahan ringkas artikel sumber: Pemerintah menyatakan nasionalisasi dilakukan untuk melindungi kapasitas pembuatan baja nasional dan mencegah pemilik China menutup tanur tinggi. Departemen Bisnis dan Perdagangan menyebut langkah itu menyelamatkan ribuan pekerjaan dan menjaga pasokan baja domestik bagi proyek konstruksi besar serta industri pertahanan.

Terjemahan ringkas artikel sumber: Menteri Bisnis Peter Kyle mengatakan British Steel kini “milik rakyat Inggris” dengan fokus menstabilkan bisnis, mendukung komunitas, dan membangun sektor baja yang berkelanjutan, kompetitif, serta terdekarbonisasi. Perselisihan ini muncul ketika Andy Burnham diperkirakan menggantikan Keir Starmer sebagai perdana menteri pada Senin, membuka potensi kebuntuan awal dengan China sebagai mitra dagang besar.

Terjemahan ringkas artikel sumber: Jingye menyatakan Inggris mengabaikan investasi dan kontribusi signifikan perusahaan, sambil menawarkan kompensasi hampir nol. Jingye juga menyebut Inggris telah menghabiskan 377 juta pound hingga akhir Januari untuk mengoperasikan British Steel, dengan total diperkirakan melampaui 600 juta pound pada akhir Juni dan bisa menembus lebih dari 2 miliar dolar pada 2028.

Terjemahan ringkas artikel sumber: China menyatakan akan memantau dan mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi hak dan kepentingan sah. Kementerian Perdagangan China menilai Inggris “memaksa mengambil alih lalu menasionalisasi” atas nama keamanan nasional, yang merusak hak Jingye dan menggerus kepercayaan investor China di Inggris.

Terjemahan ringkas artikel sumber: Kementerian Luar Negeri China menyinggung kewajiban hukum Inggris karena kedua negara memiliki perjanjian perlindungan investasi. Perjanjian investasi bilateral 1986 memuat klausul “perlindungan dari perampasan sewenang-wenang tanpa kompensasi”, yang menjadi rujukan klaim Jingye.

Terjemahan ringkas artikel sumber: British Steel dinilai penting karena mampu memproduksi baja dari bahan baku, bukan sekadar mendaur ulang skrap. Pabrik Scunthorpe mempekerjakan hampir 2.700 orang dan memproduksi sekitar tiga juta ton baja per tahun, meski tidak selalu menguntungkan.

Terjemahan ringkas artikel sumber: Pada 2016, Tata Steel menjual perusahaan itu seharga satu pound kepada Greybull Capital yang menamainya British Steel. Pada krisis 2019, layanan kepailitan pemerintah Inggris mengambil alih, lalu menjualnya ke Jingye pada 2020.

Terjemahan ringkas artikel sumber: Pemerintah Inggris menyebut British Steel merugi ratusan ribu pound per hari dan bergantung pada dukungan pemerintah untuk terus beroperasi. Jika kerugian berlanjut, Inggris akan sepenuhnya bergantung pada pasar internasional untuk pasokan material dasar bagi konstruksi dan sektor lain.

Terjemahan ringkas artikel sumber: Perdana Menteri Keir Starmer menyatakan di parlemen bahwa British Steel adalah bagian dari “jaringan bangsa” dan pilar kekuatan industri Inggris. Konflik kini bergeser dari soal neraca rugi-laba menjadi soal kedaulatan industri dan kepastian hukum investasi.

Kasus nasionalisasi British Steel menempatkan Inggris pada dilema klasik: menyelamatkan industri strategis atau menjaga reputasi sebagai tujuan investasi yang aman. Ketika pemerintah memakai narasi “kepentingan nasional”, investor asing akan membaca satu hal: risiko politik meningkat.

Data yang muncul di ruang publik memperjelas besarnya beban negara. Jingye menyebut biaya operasi yang ditanggung Inggris sudah 377 juta pound hingga akhir Januari, dan bisa melewati 600 juta pound pada akhir Juni, bahkan berpotensi lebih dari 2 miliar dolar pada 2028.

Angka itu menjadi amunisi dua pihak sekaligus. Pemerintah bisa berkata subsidi tak berujung tak masuk akal, sementara Jingye bisa berargumen negara sudah memilih jalur intervensi sehingga wajib membayar ganti rugi yang layak.

Dalam sengketa investasi, inti pertarungan biasanya bukan “siapa paling patriotik”, melainkan definisi ekspropriasi dan kompensasi. Perjanjian investasi bilateral Inggris–China 1986 memuat larangan perampasan sewenang-wenang tanpa kompensasi, dan ini membuka pintu gugatan.

Namun nasionalisasi tidak otomatis melanggar hukum internasional. Negara boleh mengambil alih aset untuk kepentingan publik, tetapi harus memenuhi syarat proses yang sah, tujuan yang jelas, dan kompensasi yang memadai.

Masalahnya, “kompensasi hampir nol” yang dituduhkan Jingye adalah sinyal buruk. Jika benar demikian, London berisiko dianggap memindahkan kerugian kebijakan industri ke investor, lalu meminta dunia menerima begitu saja.

Di sisi lain, Inggris juga menghadapi risiko nyata jika tanur tinggi ditutup. Scunthorpe disebut sebagai fasilitas terakhir yang memproduksi baja dari bahan baku, sehingga penutupan berarti hilangnya kemampuan dasar yang sulit dipulihkan cepat.

Rantai pasok pertahanan dan proyek infrastruktur besar tidak bisa sepenuhnya bergantung pada impor saat terjadi krisis geopolitik. Argumen pemerintah menjadi lebih kuat ketika “ketahanan” dipahami sebagai biaya asuransi, bukan sekadar efisiensi pasar.

Sejarah perusahaan ini menunjukkan pola rapuh sejak lama. Tata Steel menjualnya seharga satu pound pada 2016, lalu krisis 2019 memaksa negara masuk, dan pada 2020 Jingye mengambil alih di tengah industri yang sudah tertekan.

Artinya, nasionalisasi hari ini juga merupakan pengakuan bahwa model kepemilikan sebelumnya gagal menemukan formula profitabilitas. Jika negara kini menjadi operator, pertanyaannya bukan hanya “siapa membayar kompensasi”, tetapi “siapa menanggung kerugian berikutnya”.

Sengketa Jingye vs pemerintah Inggris adalah cermin perubahan zaman, ketika globalisasi tidak lagi menjanjikan kepastian yang sama. Negara-negara kini lebih berani menukar keterbukaan investasi dengan kontrol atas sektor strategis.

Inggris tampak ingin mengirim pesan politik: baja bukan sekadar komoditas, melainkan simbol kedaulatan industri. Tetapi pesan itu bisa terbaca sebagai preseden bahwa kepemilikan asing dapat dipangkas saat tekanan politik memuncak.

China, melalui kementerian perdagangan dan luar negerinya, menekankan kewajiban perjanjian dan perlindungan hak investor. Ini bukan hanya membela Jingye, tetapi juga membela narasi bahwa investor China harus diperlakukan setara di Barat.

Yang sering luput adalah dimensi domestik Inggris. Dengan hampir 2.700 pekerja dan produksi sekitar tiga juta ton per tahun, Scunthorpe adalah kota industri yang hidup-mati pada tanur tinggi, sehingga keputusan pemerintah punya beban sosial yang besar.

Namun nasionalisasi tanpa peta jalan yang transparan akan berubah menjadi subsidi permanen. Publik akhirnya membayar dua kali: pertama lewat dana talangan, kedua lewat hilangnya kepercayaan investor yang menaikkan biaya modal.

Jika Burnham benar memulai masa jabatan dengan kebuntuan dengan China, maka ini juga ujian diplomasi ekonomi. Inggris harus membuktikan bahwa “keamanan nasional” bukan label serba guna untuk menghindari kewajiban kompensasi.

Jalan tengahnya adalah proses penilaian aset yang kredibel dan terbuka, serta skema kompensasi yang bisa dipertanggungjawabkan. Tanpa itu, sengketa akan bergeser dari pabrik baja ke ruang arbitrase, dan reputasi Inggris ikut dipertaruhkan.

Nasionalisasi British Steel memperlihatkan bahwa industri lama masih menentukan politik baru. Ketika baja dianggap fondasi negara, keputusan ekonomi berubah menjadi keputusan identitas.

Pertanyaan akhirnya sederhana tetapi mahal: berapa harga “ketahanan” yang pantas dibayar, dan siapa yang menanggungnya. Jika kompensasi dipangkas, Inggris menang hari ini tetapi mungkin membayar lebih mahal lewat kepercayaan yang hilang besok. (Orbit dari berbagai sumber, 30 Juli 2026)