Laporan PBB: Serangan AS-Israel di Iran Tewaskan Anak-anak

ORBITINDONESIA.COM – Laporan PBB tentang serangan AS di Iran menyorot dua insiden paling mematikan bagi warga sipil pada 28 Februari, saat perang AS-Israel melawan Iran dimulai. Sekolah dasar di Minab dan area olahraga-permukiman di Lamerd disebut menjadi titik jatuh serangan yang menewaskan puluhan hingga ratusan orang.

Tiga pakar independen dalam misi pencari fakta melapor ke Dewan HAM PBB dengan fokus pada pola serangan terhadap warga sipil. Mereka menilai lokasi yang diserang tampak jelas sebagai fasilitas sipil dan tidak ada informasi yang menunjukkan penggunaannya untuk tujuan militer.

Di Minab, rudal Tomahawk menghantam Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh dan menewaskan sedikitnya 156 orang, termasuk 120 anak, menurut otoritas setempat. Sekolah itu berdekatan dengan kompleks angkatan laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang juga diserang pada hari yang sama.

Pakar misi PBB menyatakan sekolah di Minab dapat dikenali dengan jelas dan tidak ada indikator fungsi militer. Mereka menyebut bukti yang dikumpulkan memberi “alasan yang masuk akal” untuk meyakini serangan itu dilakukan AS.

Landasan kesimpulan itu mencakup laporan media tentang penyelidikan awal militer AS yang menemukan pasukan AS bertanggung jawab, serta fakta bahwa hanya AS yang memiliki rudal Tomahawk dalam konflik tersebut. Misi itu juga menyimpulkan sekolah adalah “titik dampak yang dimaksudkan”, bukan salah sasaran atau kerusakan ikutan.

Kesaksian penyintas menjadi detail kunci yang memperkuat dugaan kesengajaan, karena mereka menyatakan sekolah dihantam dua kali. Jika benar demikian, maka narasi “kecelakaan” menjadi sulit dipertahankan tanpa pembuktian transparan dari pihak penyerang.

Militer AS belum merilis hasil investigasinya terkait serangan Minab, sementara Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengatakan AS “tidak akan pernah menargetkan sasaran sipil”. Ketiadaan laporan publik membuat klaim itu berdiri sebagai pernyataan politik, bukan verifikasi yang dapat diuji.

Pada hari yang sama di Lamerd, rudal Precision Strike Missile (PrSM) menyebarkan awan pelet tungsten di atas kompleks olahraga dan area permukiman. Otoritas setempat melaporkan sedikitnya 21 warga sipil tewas, termasuk tujuh anak.

Misi PBB kembali menegaskan kompleks olahraga itu jelas teridentifikasi sebagai fasilitas sipil dan tidak ada informasi yang menunjukkan fungsi militer. Pola yang terbaca bukan sekadar “risiko perang”, melainkan kegagalan serius dalam pembedaan target atau pengabaian atasnya.

Kata kunci “laporan PBB” sering diperlakukan sebagai sekadar dokumen diplomatik, padahal ia bisa menjadi cermin kegagalan moral perang modern. Ketika sekolah dan fasilitas olahraga masuk daftar korban, yang runtuh bukan hanya bangunan, tetapi batas etika yang seharusnya memisahkan kombatan dari anak-anak.

Pernyataan “tidak pernah menargetkan sipil” tidak cukup tanpa transparansi rantai komando, aturan pelibatan, dan evaluasi pascaserangan yang terbuka. Dalam konflik berteknologi tinggi, ketidakjelasan sering kali bukan kebetulan, melainkan ruang aman untuk menghindari akuntabilitas.

Jika misi PBB benar bahwa titik dampak memang dituju, maka isu utamanya bukan akurasi senjata, melainkan keputusan manusia di baliknya. Dunia perlu bertanya apakah hukum humaniter internasional masih menjadi pagar, atau hanya bahasa formal yang ditinggalkan ketika perang dianggap “mendesak”.

Dua serangan pada 28 Februari, di Minab dan Lamerd, memperlihatkan betapa cepat warga sipil berubah menjadi statistik ketika perang meledak. Anak-anak yang seharusnya berada di ruang kelas dan lapangan justru tercatat dalam angka kematian.

Laporan PBB tentang serangan AS di Iran menuntut lebih dari sekadar bantahan, yakni bukti, keterbukaan, dan mekanisme pertanggungjawaban yang dapat dipercaya. Jika tidak, kita sedang menyaksikan normalisasi tragedi, ketika “investigasi internal” menjadi tirai yang menutup luka publik.

Pertanyaan akhirnya sederhana namun menohok: jika lokasi sipil yang jelas pun bisa dihantam dua kali, siapa yang menjamin perang berikutnya tidak mengulang pola yang sama. (Orbit dari berbagai sumber, 19 September 2026)