Puisi Denny JA: Kematian dan Kupu-Kupu Itu, Adikku

KEMATIAN DAN KUPU-KUPU ITU, ADIKKU

Oleh Denny JA

ORBITINDONESIA.COM - (Tanggal 31 Mei 2026, Diana Dewi wafat setelah sakit belasan tahun) (1)

Adikku,

Hari ini kami mengantarmu

ke tempat terakhirmu.

Tanah perlahan menutup jarak

antara dunia yang kami tinggali

dan dunia yang kini kau masuki.

Adikku, maafkan kami.

Maaf jika selama hidupmu

belum banyak kebahagiaan yang sempat kau rasakan.

Maaf jika ada beban yang kau pikul sendirian,

dan luka yang tak sempat kami mengerti.

Sering kali kami mengira masih ada waktu.

Masih ada esok untuk berbicara lebih lama.

Masih ada hari lain untuk memperbaiki yang kurang.

Namun hidup memiliki batas

yang tak pernah dapat ditawar.

Hari ini yang tersisa hanyalah kenangan,

suara yang masih teringat,

dan cinta yang kehilangan alamatnya di dunia.

-000-

Aku teringat masa kecil kita.

Suatu sore aku berlari mengejar kupu-kupu di halaman,

tetapi tak satu pun berhasil kutangkap.

Kau tersenyum lalu berkata,

“Semakin kupu-kupu dikejar,

semakin ia menjauh.”

Esok harinya kau datang mencariku,

membawa seekor kupu-kupu kecil

di kedua tanganmu.

“Ini untukmu,” katamu.

Aku masih mengingat wajahmu sore itu.

Seolah kau telah mengetahui sesuatu

yang baru kupahami hari ini:

bahwa tidak semua yang indah

harus dimiliki.

-000-

Bertahun-tahun kemudian,

ketika tubuhmu mulai letih

oleh sakit yang tak mau pergi,

aku sering teringat sore itu.

Entah mengapa,

kaulah yang selalu berhasil menangkap kupu-kupu,

sementara aku hanya pandai mengejarnya.

Belasan tahun kau menggendong sakit

seperti kepompong menggendong sayap,

diam,

sabar,

tanpa mengeluh.

Kini kepompong itu pecah.

Dan kami baru mengerti.

Seluruh hidupmu ternyata adalah persiapan

untuk satu kali terbang

yang sempurna.

Mungkin selama ini kami mengira

kau sedang kalah melawan sakit.

Kini kami tahu,

yang kami lihat sebagai luka

ternyata adalah sayap

yang sedang tumbuh perlahan.

Kini giliranmu menjadi kupu-kupu.

Hinggaplah di tangan Tuhan,

dan biarkan kami yang belajar

melepaskan.

Kupu-kupu itu kini hinggap di doa kami,

ringan,

seperti napas terakhirmu

yang akhirnya pulang

ke pemilik segala sayap.

Kini kami sadar, adikku,

betapa banyak cinta yang tak sempat kami ucapkan,

betapa banyak pelukan yang kami tunda,

dan betapa cepat seseorang berubah menjadi kenangan.

-000-

Kami mengantarmu dengan air mata.

Namun cinta kami

tidak ikut terkubur bersamamu.

Dan jika suatu sore

seekor kupu-kupu kuning

hinggap sejenak di jendela kami,

kami tidak akan mengejarnya lagi,

adikku.

Kami akan membuka tangan,

dan berbisik pelan:

“Selamat datang kembali.”

Karena kami tahu, cinta selalu menemukan jalan pulang.

Ia datang dalam doa,

dalam kenangan,

dan dalam rindu yang tak pernah selesai

Ia akan tinggal dalam doa-doa kami,

setiap malam,

setiap rindu.

Selamat jalan, adikku.

Kini kami tahu, adikku,

tak semua kupu-kupu hilang saat terbang;

sebagian menjadi langit yang diam-diam menjaga.

Semoga tangan Tuhan

menjadi taman tempat kau beristirahat,

dan sayapmu menemukan langit

yang selama ini kau cari.*

Sandiego Hills, 31 Mei 2026

CATATAN

(1) Puisi ini dibacakan di pemakaman Diana Dewi Ali

https://www.facebook.com/share/18gP6GLJnR/?mibextid=wwXIfr ***