Seminar Investasi Saham UNMER Malang Dorong Literasi Keuangan Muda

times.co.id

times.co.id

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Seminar investasi saham di UNMER Malang kembali menegaskan bahwa financial freedom bukan sekadar slogan, melainkan proyek panjang yang dimulai dari literasi keuangan. Di tengah maraknya investasi ilegal dan pinjol ilegal, kampus mencoba menjadi pagar pertama agar generasi muda tidak belajar lewat kerugian.

Universitas Merdeka (UNMER) Malang melalui Galeri Investasi BEI dan KSPM menggelar Seminar Nasional “Financial Freedom Bukan Mimpi: Strategi Investasi Saham Sejak Dini” pada 11 Mei. Ruang PPI lantai 3 Gedung Rektorat dipenuhi mahasiswa dan masyarakat umum yang ingin memahami pasar modal.

Acara ini juga memuat penandatanganan MoA dan IA dengan beberapa prodi, dari Manajemen hingga D3 Perbankan dan Keuangan. Langkah ini menandai ambisi kampus untuk menghubungkan kurikulum dengan kebutuhan industri keuangan.

Deputi Kepala OJK Malang, Frederik Alexander Rompies, menyoroti rendahnya literasi pasar modal di Indonesia. Ia mengingatkan bahwa investasi ilegal dan pinjaman online ilegal masih aktif memburu korban, terutama anak muda yang mudah terpikat janji cuan cepat.

Masalah utama investasi pemula bukan sekadar kurang modal, melainkan kurang peta. Ketika informasi datang dari potongan video dan ajakan komunitas tanpa verifikasi, keputusan finansial berubah menjadi perjudian yang dibungkus istilah modern.

Materi Cita Mellisa menekankan kelompok usia 18–34 sebagai fase paling rawan, karena produktif sekaligus mudah terdorong iming-iming instan. Ia menawarkan konsep 3P—Paham, Punya, Pantau—sebagai kebiasaan minimum agar investasi berjalan legal dan terukur.

Bernadus Wijaya menambahkan kerangka “3M + 1D”: Mindset, Method, Money Management, dan Discipline. Pesannya jelas, analisis dan manajemen risiko lebih penting daripada tebakan arah harga yang dipengaruhi emosi.

Di titik ini, seminar seperti Merdeka Investment Day berfungsi sebagai literasi dasar, bukan jaminan untung. Ia mengajarkan bahwa dana darurat dan batas risiko harus disiapkan sebelum membeli saham, karena pasar bergerak tanpa peduli kebutuhan cicilan seseorang.

Risiko terbesar generasi muda hari ini adalah FOMO, bukan volatilitas. Ketika tren menjadi kompas, disiplin mudah runtuh dan strategi berubah mengikuti keramaian, padahal keramaian sering datang terlambat.

Secara nasional, OJK berulang kali mengingatkan publik untuk memeriksa legalitas entitas keuangan melalui kanal resmi dan menghindari penawaran yang menjanjikan imbal hasil pasti. Prinsip “cek legal, cek logis” relevan sebagai rem paling sederhana saat euforia menguasai.

Kerja sama MoA dan IA dengan berbagai program studi patut dibaca sebagai sinyal bahwa literasi keuangan tidak bisa jadi ekstrakurikuler semata. Jika pasar modal makin dekat dengan kampus, maka standar etik dan nalar kritis juga harus ikut mendekat.

Namun ada jebakan baru, yaitu mengubah investasi menjadi identitas gaya hidup. Narasi “financial freedom” mudah berubah menjadi tekanan sosial, seolah semua orang harus cepat kaya, padahal yang lebih realistis adalah cepat paham.

Seminar ini kuat karena menekankan proses, bukan sensasi, lewat 3P dan 3M+1D. Tantangannya adalah memastikan peserta pulang dengan kebiasaan verifikasi, bukan hanya kosakata baru seperti “diversifikasi” dan “money management”.

Jika kampus serius, maka evaluasi dampak perlu dibuat, misalnya pendampingan pembukaan rekening efek yang aman, kelas membaca laporan keuangan, dan klinik anti-penipuan. Literasi yang hidup harus mengubah perilaku, bukan hanya menambah sertifikat.

UNMER Malang menunjukkan bahwa seminar investasi saham bisa menjadi ruang aman untuk belajar sebelum uang sungguhan dipertaruhkan. Ketika OJK mengingatkan bahaya investasi ilegal, pesan intinya sederhana: pendidikan finansial adalah bentuk perlindungan diri.

Pada akhirnya, financial freedom bukan garis finis yang dicapai lewat satu strategi, melainkan rangkaian keputusan kecil yang konsisten. Pertanyaannya, setelah seminar usai, apakah kita memilih disiplin yang sunyi, atau tetap mengejar janji untung yang berisik.

(Orbit dari berbagai sumber, 15 Juli 2026)