PMI Jakarta Timur Perkuat Pencegahan DBD Lewat Kader MDPP

Beritajakarta.id

Beritajakarta.id

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Pencegahan DBD di Jakarta Timur kembali diuji ketika PMI Jakarta Timur menyiapkan 30 kader Mosquito-Borne Disease Prevention Program (MDPP) untuk menggerakkan PSN. Langkah ini muncul di tengah kabar temuan 61 kasus DBD di Jaktim, sekaligus menegaskan bahwa 3M Plus tidak bisa lagi sekadar slogan musiman.

Demam berdarah dengue (DBD) berulang menjadi ancaman kota padat, karena nyamuk Aedes mudah berkembang di ruang sempit dan kebiasaan rumah tangga. Jakarta Timur, dengan mobilitas tinggi dan permukiman rapat, membuat pencegahan berbasis lingkungan menjadi kunci.

PMI Jakarta Timur menempatkan MDPP sebagai strategi yang menonjolkan keterlibatan warga, bukan hanya intervensi saat kejadian luar biasa. Ketua PMI Jakarta Timur Bambang Pangestu Aldriyan menyebut program ini bertujuan “membangun budaya hidup bersih” melalui kolaborasi warga dan unsur kewilayahan.

MDPP dijalankan lewat rangkaian kegiatan yang melibatkan kader Jumantik, Puskesmas, Dasa Wisma, RT/RW, warga, dan pemerintah setempat. Fokusnya bukan hanya memeriksa jentik, tetapi juga mengajarkan langkah sederhana yang bisa dilakukan dari rumah.

Di lapangan, kader MDPP sudah bergerak di RW 05 Kelurahan Balekambang serta RW 06 dan RW 07 Kelurahan Pekayon. Mereka melaksanakan PSN bersama jejaring lokal, sehingga pesan kesehatan tidak berhenti sebagai imbauan satu arah.

PMI juga membekali 30 kader dengan rompi, ID Card, dan raket nyamuk sebagai perangkat kerja dan legitimasi sosial. Identitas resmi penting agar akses kader ke rumah warga lebih mudah, karena penolakan sering muncul ketika kunjungan dianggap “bukan urusan kita”.

Namun, efektivitas pencegahan DBD bergantung pada disiplin 3M Plus yang konsisten, bukan pada seberapa sering ada “Grebek PSN”. Pesan 3M Plus yang disosialisasikan mencakup menguras, menutup, dan mendaur ulang, ditambah larvasida, ikan pemakan jentik, losion, tanaman pengusir nyamuk, kawat kasa, serta menghindari kebiasaan menggantung pakaian.

Pemasangan poster dan spanduk edukasi membantu mengulang pesan, tetapi perubahan perilaku biasanya menuntut lebih dari materi visual. Tantangan terbesar ada pada rutinitas harian, karena tempat penampungan air, barang bekas, dan sudut lembap selalu muncul kembali setelah kegiatan selesai.

Program MDPP patut dibaca sebagai koreksi atas pola lama yang reaktif, yaitu bergerak ketika kasus meningkat dan mereda ketika situasi terlihat aman. Bambang menekankan PSN tidak boleh hanya dilakukan saat Grebek PSN, karena pencegahan DBD harus menjadi kebiasaan.

Di titik ini, kader MDPP bukan sekadar “petugas”, melainkan pengungkit norma sosial di tingkat RT. Ketika warga mulai terbiasa memeriksa penampungan air dan membersihkan lingkungan, pencegahan berubah dari proyek menjadi budaya.

Meski begitu, ada risiko program terjebak pada simbolisme jika indikator keberhasilan hanya dihitung dari jumlah kegiatan atau jumlah kader. Ukuran yang lebih tajam adalah apakah rumah tangga benar-benar mengurangi tempat perindukan, dan apakah temuan jentik serta kasus DBD menurun secara berkelanjutan.

MDPP PMI Jakarta Timur menunjukkan bahwa pencegahan DBD paling kuat lahir dari disiplin kecil yang diulang, bukan dari operasi besar yang sesekali. Kader, Puskesmas, dan RT/RW bisa menjadi mesin pengingat, tetapi keputusan terakhir tetap ada pada kebiasaan setiap rumah.

Pertanyaannya sederhana namun menentukan: setelah spanduk diturunkan dan rompi kader disimpan, apakah ember, talang, dan wadah air di rumah kita tetap diawasi. Di sanalah DBD sebenarnya dimenangkan atau dibiarkan berulang. (Orbit dari berbagai sumber, 1 September 2026)