Retail Pangkas SKU untuk Pulih: Strategi Trimming Assortment 2026
ORBITINDONESIA.COM – Retail pangkas SKU kini jadi jurus populer saat konsumen menahan belanja karena harga bensin dan makanan tinggi. Dollar General, BJ’s Wholesale Club, Lululemon, dan Under Armour terang-terangan mengurangi pilihan produk demi merapikan stok dan menahan tekanan investor.
Terjemahan ringkas artikel sumber: para peritel mengurangi jumlah item yang dijual, yang dilacak sebagai stock keeping units (SKU), untuk membersihkan neraca dan menstabilkan bisnis. Mereka menilai terlalu banyak produk memicu diskon berlebihan, menyisakan stok tak laku, dan menggerus profit.
Dollar General menyebut memangkas 1.500 SKU, Lululemon memangkas SKU Amerika Utara 15%, Under Armour sudah mengurangi 25% dan menargetkan tambahan 25%, sedangkan BJ’s berencana memangkas sekitar 20%. Langkah ini dipuji sebagai cara mengurangi risiko inventori, tetapi konsekuensinya konsumen menerima pilihan yang lebih sempit.
Di balik angka-angka itu ada perubahan perilaku belanja yang keras. Saat dompet mengetat, perang diskon makin mudah terjadi, dan merek yang salah membaca permintaan akan membayar mahal lewat markdown.
Inti strategi trimming assortment adalah “shrink to grow”, mengecilkan variasi untuk mengembalikan kendali harga dan mengurangi kesalahan produk. Simeon Siegel dari Guggenheim Securities menegaskan diskon itu perlu, tetapi harus untuk “memperbaiki kesalahan” dan dilakukan cepat, bukan menjadi kebiasaan yang merusak marjin.
Under Armour menjadi contoh ekstrem tekanan profitabilitas. Perusahaan menyebut operating income-nya berubah negatif pada fiskal 2025 dan 2026, lalu CEO Kevin Plank menegaskan fokus baru: “Fewer products with greater purpose… We will sell so much more of so many less products at a much higher full retail price.”
Lululemon menunjukkan paradoks pertumbuhan tanpa kualitas laba. Penjualan naik lebih dari 500 juta dolar dari fiskal 2024 ke 2025, tetapi laba operasi turun sekitar 300 juta dolar, dan sahamnya merosot sekitar 65% dalam dua tahun.
Siegel mengingatkan, menjual lebih sedikit opsi tidak sama dengan menjual lebih sedikit barang, karena masalahnya bisa berupa kejenuhan merek. Ia menyebut Lululemon membukukan 6,3 miliar dolar penjualan di AS pada fiskal 2025, sementara “zona jenuh sehat” banyak merek biasanya di 3 sampai 4 miliar dolar agar tetap besar namun tetap “keren”.
Nike menjadi pengecualian karena mampu mencetak sekitar 20 miliar dolar penjualan Amerika Utara pada fiskal 2026, tetapi tetap harus “menyeimbangkan ulang” portofolio. Dalam earnings call kuartal IV fiskal 2026, Nike mengungkap pengurangan pendapatan lebih dari 2 miliar dolar dari lini sepatu klasik, sementara sahamnya anjlok sekitar 45% tahun itu.
Untuk peritel kotak besar dan kecil yang menjual ribuan merek, pemangkasan SKU lebih dekat ke disiplin rantai pasok daripada tiket menaikkan harga. Siegel menyebut ketika “box” mengecil dan fokus pada kurasi, toko memang membaik, tetapi tidak otomatis mengangkat bottom line sebesar merek yang memulihkan pricing power.
BJ’s menjelaskan contoh praktisnya: mengurangi variasi seperti aroma sabun mandi agar penjualan terkonsentrasi pada produk tersisa, sekaligus membuka ruang kategori baru. CEO Robert Eddy mengatakan pendekatan itu bisa membuat mereka “cut SKUs, and see sales go up, and see margin dollars go up.”
Dollar General juga mengklaim hasil operasional yang nyata. Pada Juni 2025 perusahaan menyebut penghapusan 1.000 SKU membuka ruang rak untuk produk terlaris dan membantu pendapatan, lalu pada Maret 2026 pemangkasan hingga 1.500 SKU memberi manfaat bagi supply chain.
CEO Todd Vasos menekankan produktivitas rak dan kecepatan pengisian ulang. Ia mengatakan tujuan akhirnya adalah produk lebih cepat sampai ke rak, dengan jumlah yang tepat, dan SKU rationalization berikutnya akan lebih “surgical”.
Tren retail pangkas SKU adalah pengakuan diam-diam bahwa era “semua ada” mulai kehilangan relevansi saat biaya hidup menekan konsumen. Di tengah inflasi, pilihan yang terlalu banyak justru memperbesar peluang salah stok, memperpanjang siklus diskon, dan membuat merek terdengar murah sebelum benar-benar menjadi murah.
Namun strategi ini bukan sekadar memangkas, melainkan memilih dengan keberanian editorial. Jika kurasi dilakukan asal-asalan, pelanggan akan pindah ke pesaing yang masih menyediakan produk yang “dikorbankan”, dan pemangkasan berubah menjadi pemangkasan penjualan.
BJ’s bahkan mengakui upaya pemangkasan SKU sebelumnya gagal karena “cut SKUs which cut sales”, lalu sebagian SKU ditambahkan kembali. Pelajaran kuncinya jelas, yang dibuang bukan produk, melainkan “pilihan yang tidak perlu”, seperti berhenti menggandakan format soda yang sama dalam kaleng, 1 liter, dan 2 liter.
Di sisi merek seperti Under Armour dan Lululemon, taruhannya lebih sensitif karena menyangkut persepsi premium. Siegel menyebut terlalu banyak produk, bahkan yang terbaik, dapat mengencerkan nilai merek, dan ketika perusahaan berkata harus mengecilkan pendapatan untuk tumbuh, mereka berhadapan langsung dengan kesabaran investor.
Dalam jangka pendek, trimming assortment dapat membuat basis pendapatan tampak menyusut dan memicu pertanyaan pasar. Tetapi dalam jangka panjang, ini bisa menjadi satu-satunya cara untuk menghentikan kebocoran marjin, memulihkan disiplin harga, dan mengembalikan alasan konsumen membeli karena nilai, bukan karena diskon.
Retail pangkas SKU pada 2026 bukan sekadar efisiensi gudang, melainkan koreksi budaya bisnis yang terlalu lama mengandalkan volume dan variasi. Saat konsumen memilih dengan lebih hati-hati, peritel dipaksa memilih lebih tegas, mana produk yang benar-benar layak dipertahankan.
Pertanyaannya kini bukan berapa banyak SKU yang bisa dipotong, melainkan apakah kurasi itu memperjelas identitas merek dan memudahkan konsumen, atau justru menghilangkan alasan mereka datang. Jika pemangkasan hanya untuk menyenangkan laporan kuartalan, ia akan berakhir sebagai luka baru yang ditutup dengan diskon lama.
Barangkali pelajaran terbesarnya sederhana: pertumbuhan yang sehat tidak selalu berarti menambah, kadang berarti berani mengurangi agar yang tersisa kembali bernilai. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Oktober 2026)