Destry Damayanti Gubernur BI 2026-2031, OJK Sorot Sinergi
ORBITINDONESIA.COM – Destry Damayanti ditetapkan Komisi XI DPR sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) periode 2026-2031, sementara Aida S. Budiman dan Solikin M. Juhro mengisi kursi deputi. Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menyambutnya dengan satu kata kunci: sinergi OJK-BI untuk stabilitas sistem keuangan.
Penetapan Gubernur BI selalu lebih dari sekadar pergantian jabatan, karena menyentuh urat nadi inflasi, nilai tukar, dan kredibilitas kebijakan moneter. Di saat yang sama, publik menuntut koordinasi BI dan OJK makin rapi, terutama ketika gejolak global mudah merembet ke pasar domestik.
Friderica menyebut komunikasi dengan Destry dan Aida selama ini sudah “sangat baik” dan kini peluang kolaborasi kian besar. Ia juga menekankan meningkatnya keterwakilan perempuan di posisi strategis, yang memberi pesan simbolik sekaligus ujian kinerja.
Komisi XI DPR menetapkan Destry melalui uji kepatutan dan kelayakan pada 26 Agustus, lalu memutuskan secara musyawarah mufakat menurut Ketua Komisi XI Misbakhun. Pengesahan final masih menunggu Rapat Paripurna DPR yang dijadwalkan 1 September, sehingga legitimasi politiknya akan lengkap di titik itu.
Secara institusional, BI memegang mandat stabilitas nilai rupiah, sementara OJK menjaga kesehatan sektor jasa keuangan dan perlindungan konsumen. Di lapangan, batas mandat itu sering bertemu pada isu yang sama: transmisi suku bunga ke kredit, ketahanan perbankan, dan respons saat pasar bergejolak.
Pernyataan Friderica tentang “banyak sekali yang bisa disinergi dan kolaborasikan” terdengar sederhana, tetapi implikasinya teknis dan besar. Ketika kebijakan moneter mengetat, risiko kredit bisa naik, dan OJK perlu memastikan perbankan punya bantalan modal serta tata kelola risiko yang memadai.
Penunjukan Aida sebagai Deputi Gubernur Senior memberi sinyal kesinambungan manajerial di puncak BI, karena peran ini biasanya mengawal koordinasi internal dan eksekusi kebijakan harian. Sementara Solikin sebagai Deputi Gubernur menambah bobot teknokratis, karena posisi deputi kerap menjadi “mesin” yang menerjemahkan arah kebijakan ke instrumen operasional.
Namun sinergi bukan mantra yang otomatis bekerja, karena ada potensi tarik-menarik kepentingan kebijakan. BI bisa fokus menahan inflasi, sedangkan OJK bisa lebih sensitif pada dampak pengetatan terhadap penyaluran kredit dan pemulihan sektor riil.
Di titik inilah koordinasi lintas-otoritas diuji: bukan saat situasi tenang, melainkan ketika keputusan sulit harus diambil cepat. Publik akan menilai bukan dari rapat koordinasi, melainkan dari stabilitas harga, ketenangan pasar, dan kemampuan sistem keuangan menyerap guncangan.
Kabar baiknya, pernyataan Friderica menunjukkan hubungan kerja yang sudah terbangun, sehingga transisi kepemimpinan BI tidak dimulai dari nol. Tetapi kedekatan komunikasi juga perlu dibaca kritis, karena koordinasi yang sehat harus tetap menyisakan ruang beda pendapat berbasis data.
Apresiasi pada naiknya perempuan di posisi puncak layak dirayakan, namun tidak boleh berhenti sebagai simbol. Tantangan sesungguhnya adalah membuktikan bahwa representasi berjalan seiring dengan ketegasan kebijakan, keterbukaan komunikasi publik, dan pengambilan keputusan yang tahan uji.
Penetapan melalui musyawarah mufakat memberi kesan mulus, tetapi publik berhak menuntut transparansi substansi: apa prioritas Destry untuk inflasi, nilai tukar, dan stabilitas sistem keuangan. Dalam era informasi cepat, legitimasi tidak hanya ditentukan DPR, melainkan juga kepercayaan pasar dan rumah tangga.
Destry Damayanti sebagai Gubernur BI 2026-2031, bersama Aida S. Budiman dan Solikin M. Juhro, membuka babak baru koordinasi BI-OJK yang disebut Friderica akan “semakin baik.” Babak baru ini akan dinilai dari hasil yang terasa: inflasi terkendali, sistem keuangan tangguh, dan kebijakan yang mudah dipahami publik.
Pertanyaannya sederhana tetapi menentukan: apakah sinergi akan melahirkan keputusan yang lebih cepat dan tepat, atau justru membuat akuntabilitas kabur karena semua merasa “sudah koordinasi.” Di tengah ketidakpastian global, jawaban atas pertanyaan itu akan menjadi warisan paling nyata dari kepemimpinan baru BI. (Orbit dari berbagai sumber, 1 September 2026)