Mini Organ di ISS: Microgravity, Radiasi, dan Penuaan Dipercepat

ABC News - Breaking News, Latest News and Videos

ABC News - Breaking News, Latest News and Videos

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Mini organ di ISS untuk pertama kalinya dikirim ke luar angkasa, demi menguak bagaimana microgravity dan radiasi mempercepat penuaan tubuh manusia. Para peneliti Mount Sinai, NASA, dan Space Tango menyebut enam bulan di orbit bisa setara 10 hingga 20 tahun penuaan di Bumi.

Untuk pertama kalinya, miniatur organ manusia dikirim ke luar angkasa dan segera membantu ilmuwan memahami dampak penerbangan antariksa pada organ tertentu, termasuk kemungkinan mempercepat penuaan. Upaya ini merupakan kolaborasi peneliti Mount Sinai, NASA, dan perusahaan kedirgantaraan Space Tango.

Mini organ itu akan dipaparkan pada radiasi yang lebih tinggi dan kondisi microgravity yang dihadapi astronot, terutama dalam misi berdurasi panjang. David Sachs dari Icahn School of Medicine at Mount Sinai menekankan, jika manusia akan tinggal dan bekerja di luar angkasa, kita harus tahu apa yang terjadi pada tubuh mereka.

Namun, proyek ini tidak hanya soal keselamatan astronot, melainkan juga soal Bumi. Sachs menyebut ruang angkasa menarik sebagai model “penuaan dipercepat” untuk mempelajari penyakit dan penuaan pada manusia di Bumi.

Mini organ itu diluncurkan lewat misi pengiriman komersial CRS-35 pada Selasa pagi dari Cape Canaveral Space Force Station, Florida. Mereka diperkirakan tiba di International Space Station (ISS) pada Kamis.

Astronot menua lebih cepat di luar angkasa karena microgravity dan paparan radiasi berdampak negatif pada banyak sistem tubuh. Dalam konteks ini, mini organ memberi peluang mensimulasikan penuaan dalam waktu jauh lebih singkat.

Kevin Costa dari Mount Sinai menyatakan, “Enam bulan di luar angkasa setara sekitar 10 sampai 20 tahun penuaan di Bumi.” Klaim ini menempatkan ISS sebagai semacam “mesin waktu biologis” yang memampatkan perubahan tubuh menjadi jangka pendek.

Tim Sachs dan Costa mengirim hingga 16 miniatur jantung ke ISS untuk menguji respons terhadap sinyal listrik dan memantau reaksi pada gravitasi nyaris nol. Targetnya bukan sekadar melihat apakah sel bertahan hidup, melainkan bagaimana fungsi jaringan berubah saat aturan fisika tubuh diubah.

Mount Sinai sebelumnya mengirim sel jantung individual ke ISS pada 2023 dan mengonfirmasi sel itu bisa bertahan di lingkungan tanpa bobot. Tahap baru ini melangkah lebih jauh karena yang dikirim bukan hanya sel terpisah, melainkan organ mini yang lebih mendekati perilaku organ.

Teknologi eksperimen ditempatkan di CubeLab, laboratorium mini yang dikembangkan Space Tango untuk mensimulasikan lingkungan alami tubuh manusia. CTO Space Tango, Gentry Barnett, menyebut sistem ini sedikit lebih besar dari kotak sepatu dan sepenuhnya otomatis.

Selain jantung, tim juga mengirim miniatur otak bernama miBrain, ukurannya kira-kira sebesar biji lada. miBrain mencerminkan model otak sehat maupun otak dengan kondisi penyakit.

Dengan memaparkan miBrain pada lingkungan antariksa, ilmuwan bisa mengamati respons mini-otak dan memahami mengapa hidup di luar angkasa mempercepat penuaan. Pendekatannya menggeser riset dari sekadar “apa yang rusak” menjadi “mekanisme apa yang memicu kerusakan itu.”

Para peneliti menegaskan mini organ bukan organ manusia ukuran penuh, tetapi cukup representatif sebagai pengganti. Keunggulannya jelas: lebih hemat biaya, lebih praktis, dan tidak memakan ruang terbatas di ISS.

Nilai tambahnya ada pada kemungkinan transfer pengetahuan ke layanan medis sehari-hari. Sachs menjelaskan microgravity memungkinkan riset tentang kondisi mirip gaya hidup sedentari atau bed rest berkepanjangan, yang sulit disimulasikan secara setara di Bumi.

Joel Blanchard dari Mount Sinai menautkan eksperimen ini dengan penyakit neurodegeneratif. Ia mengatakan riset itu “diterjemahkan” untuk kebutuhan antariksa, tetapi juga kembali ke laboratorium untuk membantu pasien Parkinson dan Alzheimer.

Dari sisi kebijakan sains, NASA melihatnya sebagai pijakan menuju riset di luar orbit rendah Bumi. Lisa Carnell, Direktur Divisi Ilmu Biologi dan Fisika NASA, menyebut teknik penilaian kini jauh lebih maju dibanding era Apollo lebih dari 50 tahun lalu.

NASA menargetkan kembali ke permukaan Bulan pada 2028 dan membangun pangkalan permanen dalam dekade berikutnya. NASA dan SpaceX juga membahas pengiriman manusia ke Mars dalam waktu yang tidak terlalu jauh.

Carnell menilai pendekatan ini bukan kemajuan bertahap, melainkan lompatan. Menurutnya, membawa biologi ke luar angkasa membuka perubahan yang tidak bisa terlihat di Bumi, dengan cara yang belum pernah kita lihat sebelumnya.

Riset mini organ di ISS terdengar seperti sains futuristik, tetapi inti persoalannya sangat membumi: tubuh manusia rapuh ketika lingkungan berubah drastis. Microgravity dan radiasi memaksa biologi membuka “kartu-kartu tersembunyi” yang biasanya baru tampak setelah puluhan tahun penuaan.

Di sini, ada peluang besar sekaligus jebakan narasi. Menyamakan enam bulan di orbit dengan 10–20 tahun penuaan di Bumi efektif untuk komunikasi publik, tetapi tetap perlu dibaca sebagai indikator biologis tertentu, bukan padanan mutlak seluruh aspek penuaan.

Namun justru di celah itu nilai ilmiahnya muncul. Jika perubahan spesifik bisa dipetakan—misalnya pada sinyal listrik jantung atau respons jaringan saraf—maka ruang angkasa menjadi laboratorium ekstrem untuk menemukan target terapi lebih cepat.

Yang patut dikritisi adalah arah prioritasnya. Jika hasil riset terutama menguntungkan agenda eksplorasi, publik berhak menuntut jembatan yang jelas ke layanan kesehatan, terutama untuk penyakit besar seperti Alzheimer dan Parkinson yang membebani banyak keluarga.

Di sisi lain, model microgravity sebagai analog bed rest dan gaya hidup sedentari memukul kesadaran kita sendiri. Ruang angkasa mungkin mempercepat penuaan, tetapi kebiasaan pasif di Bumi juga perlahan melakukan hal serupa, hanya lebih sunyi dan lama.

Pengiriman mini organ ke ISS menandai babak baru riset microgravity dan radiasi, dengan janji memahami penuaan dipercepat dan penyakit kronis. Di atas kertas, ini bisa mempercepat penemuan terapi, sekaligus memperkuat kesiapan manusia menuju Bulan dan Mars.

Namun pertanyaan yang tersisa bukan hanya “apa yang terjadi pada tubuh di luar angkasa,” melainkan “siapa yang paling diuntungkan dari temuan itu di Bumi.” Jika ruang angkasa menjadi cermin ekstrem bagi tubuh manusia, mungkin pelajarannya sederhana: memahami batas biologis adalah cara paling jujur untuk merawat hidup, di mana pun kita berpijak.

(Orbit dari berbagai sumber, 16 Oktober 2026)