Aliansi PGA-DP World-Asian Tour Guncang Masa Depan LIV Golf
ORBITINDONESIA.COM – Aliansi PGA Tour, DP World Tour, dan Asian Tour menjadi kabar besar golf global yang berpotensi memukul kemitraan Asian Tour dengan LIV Golf. Kolaborasi yang berlaku hingga 2029 itu membuka jalur karier baru bagi pemain Asia, sekaligus mempersempit ruang manuver liga rival yang sedang mencari napas finansial.
Terjemahan akurat artikel sumber: LIV Golf berpotensi mengalami kemunduran pada Selasa ketika PGA Tour, tur Eropa, dan Asian Tour mengumumkan aliansi strategis untuk kolaborasi global yang kemungkinan memengaruhi kemitraan Asian Tour dengan LIV. Dalam aliansi yang berlaku segera hingga 2029, PGA Tour dan tur Eropa—secara komersial bernama DP World Tour—akan bermitra dengan Asian Tour untuk membantu menyediakan peluang komersial dan bermain, serta membangun jalur bagi anggota Asian Tour untuk masuk ke sirkuit Eropa.
“Itu besar untuk golf,” kata juara Open Ryan Fox kepada “The Pat McAfee Show” pada Selasa. “Ada banyak pemain bagus dari seluruh dunia, dan memiliki jalur itu sekarang dari Asian Tour itu luar biasa; saya pikir ini akan bagus bagi golf ke depan ketika tur-tur bekerja sama seperti itu.” PGA Tour dan DP World Tour punya aliansi terpisah yang belum diperbarui, termasuk 10 pemain top Eropa yang mendapat kartu PGA Tour; pejabat kedua tur bertemu di Open Championship, dan aliansi dengan Asian Tour serta keterlibatan PGA Tour di Australian Open dianggap sebagai kemajuan menuju kesepakatan baru.
Pengumuman itu menjadi pukulan bagi LIV Golf yang sudah punya hubungan dengan Asian Tour sejak sebelum liga rival itu meluncur pada 2022. LIV menanamkan investasi 300 juta dolar AS ke Asian Tour untuk membentuk “International Series” dengan hadiah hingga 2 juta dolar AS, dan seri itu dimenangi pemain LIV seperti Peter Uihlein, Carlos Ortiz, dan David Puig. Public Investment Fund (PIF) Arab Saudi, kekuatan finansial di balik LIV, menyatakan tidak lagi mendanai liga setelah musim ini; CEO LIV Scott O’Neil berupaya mencari investor agar liga bertahan untuk 2027 dan seterusnya.
DP World Tour pernah beraliansi dengan Asian Tour dari 2016 hingga 2021, lalu berhenti melakukan co-sanction event Asian Tour pada 2022. Kini, itu kembali dimainkan lewat aliansi baru yang diharapkan memiliki setidaknya dua turnamen Asian Tour berstatus co-sanctioned pada masing-masing dari tiga tahun ke depan; detail lain seperti akses pemain Asian Tour ke event European Tour dan Challenge Tour masih dibahas. “Kami merasa waktunya tepat untuk berkolaborasi dengan DP World Tour dan PGA Tour untuk meningkatkan Asian Tour bagi anggota, penggemar, dan mitra kami,” kata Komisaris dan CEO Asian Tour Cho Minn Thant, seraya menambahkan bahwa menyatukan tiga tur dalam satu kemitraan akan memperluas kapasitas golf profesional di Asia.
Rory McIlroy menulis di X pada 21 Juli 2026 bahwa kabar itu positif dan bagus melihat tur-tur bekerja sama demi golf internasional. Pengumuman ini muncul sehari setelah laporan bahwa Mobii Systems Group dari Kanada menggugat LIV Golf di Pengadilan Distrik AS di Miami, menuduh LIV belum membayar 925.100 dolar AS untuk teknologi “Any Shot, Any Time” dalam siaran LIV, serta mengklaim 209.531 dolar AS pendapatan hilang untuk enam event tersisa pada 2026. ESPN melaporkan Nick Connor, SVP teknologi LIV, menulis email 25 Mei kepada Mobii bahwa LIV tidak lagi memakai teknologi itu setelah event Korea Selatan berakhir 31 Mei, sambil mengevaluasi model bisnisnya.
PGA Tour juga mengumumkan kemitraan komersial dengan DP World Tour yang melibatkan Australian Open, seiring dorongan mengakui lebih banyak national open. Masters tahun ini menambah kriteria undangan untuk para pemenang enam national open. Christian Hardy, SVP internasional PGA Tour, menyebut aliansi tiga tur sebagai contoh kolaborasi dengan “visi bersama” untuk masa depan golf profesional, termasuk peluang baru bagi pemain, penguatan national open, dan jalur pengembangan talenta elite generasi berikutnya.
Kata kunci utama hari ini adalah aliansi PGA Tour–DP World Tour–Asian Tour, dan sub-kuncinya adalah masa depan LIV Golf serta International Series Asian Tour. Kesepakatan hingga 2029 memberi sinyal bahwa ekosistem golf arus utama sedang membangun “pipa talenta” yang rapi dari Asia ke Eropa, lalu ke PGA Tour. Dalam olahraga yang hidup dari status, jalur resmi sering lebih menentukan daripada sekadar uang hadiah.
Di atas kertas, LIV masih punya warisan investasi 300 juta dolar AS untuk International Series dengan hadiah hingga 2 juta dolar AS. Namun, aliansi baru membuat Asian Tour memiliki opsi legitimasi yang lebih kuat melalui co-sanction dan akses ke European Tour dan Challenge Tour. Jika dua turnamen co-sanction per tahun benar terjadi, nilai “tiket” menuju panggung global bisa bergeser dari seri yang disokong LIV ke jalur yang disokong PGA-DP World.
Momentum ini datang saat LIV menghadapi dua tekanan sekaligus: isu pendanaan dan reputasi bisnis. PIF disebut tidak lagi mendanai setelah musim ini, sementara CEO Scott O’Neil mencari investor untuk 2027 dan seterusnya. Gugatan Mobii Systems senilai 925.100 dolar AS plus klaim 209.531 dolar AS memang kecil dibanding skala investasi olahraga, tetapi sinyalnya besar: ada pengetatan biaya dan evaluasi model bisnis.
PGA Tour juga memainkan strategi “national opens” untuk memperluas pengaruh tanpa harus memonopoli kalender. Australian Open dijadikan simpul komersial, dan Masters menambah kriteria undangan dari enam national open, sehingga kemenangan di event tradisional kembali bernilai. Jika jalur prestasi ini makin dihargai, maka model LIV yang mengandalkan kontrak dan format liga perlu pembenaran baru di mata pemain muda.
Aliansi ini tampak seperti diplomasi olahraga, tetapi sejatinya adalah perebutan arsitektur masa depan: siapa yang menentukan jalur karier pemain. PGA Tour dan DP World Tour menawarkan “mobilitas” yang terukur, sedangkan LIV menawarkan “kompensasi” yang besar namun kini dipertanyakan keberlanjutannya. Dalam industri olahraga, kepastian jalur sering lebih menggoda daripada janji uang yang bisa berubah.
Asian Tour berada di posisi sulit namun strategis. Ia pernah menjadi mitra penting LIV lewat International Series, tetapi kini ditarik kembali ke orbit koalisi tur mapan dengan co-sanction dan akses lintas sirkuit. Pilihan Asian Tour tampak pragmatis: memperkuat daya tawar, mengamankan panggung global bagi anggota, dan mengurangi ketergantungan pada satu sumber dana.
Pernyataan Ryan Fox dan dukungan publik Rory McIlroy memberi legitimasi narasi “demi kebaikan golf internasional.” Namun, kebaikan itu juga berarti konsolidasi kekuasaan, karena jalur resmi akan menentukan siapa yang tampil di event besar. Pertanyaannya bukan apakah kolaborasi bagus, melainkan siapa yang paling diuntungkan oleh desain kolaborasi tersebut.
Jika aliansi PGA Tour–DP World Tour–Asian Tour berjalan sesuai rencana hingga 2029, LIV Golf bisa kehilangan salah satu jembatan pentingnya di Asia. Bukan karena Asian Tour menutup pintu, tetapi karena pintu lain kini dibuka lebih lebar, lebih resmi, dan lebih terhubung ke pusat kekuasaan golf. Dalam lanskap seperti ini, uang tetap penting, tetapi legitimasi dan kepastian jalur bisa menjadi mata uang yang lebih tahan lama.
Golf global sedang memilih antara dua model: liga yang tumbuh cepat lewat modal besar, atau ekosistem yang merajut jalur karier lewat aliansi institusional. Bagi pemain muda Asia, jalur baru ini bisa menjadi harapan nyata, tetapi bagi kompetisi, ini juga bisa berarti semakin sempitnya ruang bagi alternatif. Pada akhirnya, apakah persatuan tur akan memperkaya persaingan, atau justru mengunci masa depan pada satu poros kekuasaan?
(Orbit dari berbagai sumber, 1 Agustus 2026)