Tren Sneakers: Gaya Smart Casual Kantor hingga Semi-Formal

kontan.co.id

kontan.co.id

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Tren sneakers kian dominan dalam gaya berpakaian harian karena nyaman, rapi, dan mudah dipadupadankan. Dari kantor sampai acara semi-formal, sneakers menjelma simbol baru gaya smart casual yang menegosiasikan batas formalitas.

Sneakers dulu dilekatkan pada olahraga dan aktivitas santai, tetapi kini statusnya bergeser menjadi “essential wardrobe” di kota-kota besar. Cole Haan menangkap pergeseran ini lewat koleksi yang menekankan desain modern dan fungsi untuk mobilitas.

“Seiring dengan gaya hidup urban yang semakin dinamis, sneakers kini telah menjadi essential wardrobe bagi konsumen modern,” kata Mellisa, Senior Brand Manager Cole Haan Kanmo Group. Pernyataan ini menegaskan bahwa yang berubah bukan hanya sepatu, melainkan cara orang memahami rapi dan pantas.

Di ruang kerja, sneakers hadir sebagai kompromi antara tuntutan profesional dan kebutuhan bergerak cepat, terutama di kota dengan ritme tinggi. Padu padan yang disarankan merek juga mengarah pada formula aman: tailored pants, kemeja polos, atau blouse simpel.

Strategi itu membuat sneakers “terlihat masuk akal” dalam tata busana kantor karena siluetnya ditopang item yang formal. Di titik ini, sneakers bukan sekadar alas kaki, melainkan perangkat sosial untuk tampil santai tanpa dianggap sembrono.

Lapisan outer seperti blazer oversized, cardigan, atau jaket ringan menjadi alat untuk menambah struktur visual. Layering bekerja seperti penyeimbang: saat sepatu kasual, bagian atas tubuh diberi sinyal formal agar keseluruhan tampak terkurasi.

Content creator Aditya (Adityalogy) menyebut sneakers sebagai item paling versatile untuk berbagai acara dan gaya. Klaim ini selaras dengan logika pasar fesyen yang mengutamakan barang serbaguna agar pembelian terasa lebih rasional.

Namun, tren ini juga memperlihatkan bagaimana merek membingkai kenyamanan sebagai kebutuhan modern yang “wajar” untuk dibeli. Ketika kenyamanan dipaketkan sebagai identitas urban, konsumen terdorong mengejar versi terbaik dari “praktis tapi berkelas”.

Ledakan tren sneakers sebetulnya adalah cerita tentang demokratisasi gaya, tetapi juga tentang standar baru yang diam-diam menuntut konsumsi. Kita diberi kebebasan tampil santai, tetapi tetap diminta memenuhi kode rapi lewat potongan celana, outer, dan desain sepatu tertentu.

Di kantor, sneakers bisa menjadi sinyal bahwa budaya kerja mulai lebih manusiawi, lebih memihak tubuh yang lelah. Pada saat yang sama, ia dapat menjadi penanda kelas baru: bukan lagi sepatu kulit yang mahal, melainkan sneakers “tepat” yang terlihat premium.

Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan sekadar “cocok dipakai ke mana”, melainkan “nilai apa yang sedang kita beli”. Apakah kita membeli kenyamanan, atau membeli legitimasi sosial agar terlihat modern, sibuk, dan relevan.

Tren sneakers dan gaya smart casual menunjukkan bahwa batas formal-kasual makin cair, terutama di kehidupan urban yang serba cepat. Tips padu padan membantu tampilan tetap rapi, tetapi juga mengingatkan bahwa fesyen selalu bekerja sebagai bahasa status.

Pada akhirnya, pilihan paling cerdas mungkin bukan mengikuti tren tanpa jeda, melainkan memahami konteks: kapan sneakers adalah kebebasan, dan kapan ia menjadi tuntutan baru. Jika sepatu bisa mengubah cara kita dilihat, barangkali yang perlu dijaga adalah agar ia tidak mengubah cara kita menilai diri sendiri.

(Orbit dari berbagai sumber, 26 Juli 2026)