The Odyssey Imax 70mm Pecahkan Rekor Box Office Inggris

ORBITINDONESIA.COM – The Odyssey mencetak pembukaan box office Inggris senilai £12,6 juta, sekaligus mengerek pembicaraan soal Imax 70mm yang langka dan mahal. Film epik tiga jam ini juga memecahkan rekor pendapatan akhir pekan pembuka tertinggi untuk layar Imax di Inggris, menurut Screen Daily.

Dalam catatan pendapatan global di bioskop, kontribusi Inggris mencapai £12,6 juta dan menempatkannya sebagai pembukaan terbesar kedua tahun ini di negara tersebut. Posisi puncak masih dipegang Toy Story 5, sehingga persaingan “event movie” terasa semakin ketat.

Rekor lain tercipta di ranah Imax karena The Odyssey menjadi film dengan pendapatan akhir pekan pembuka tertinggi untuk penayangan Imax di Inggris. Screen Daily menyebut capaian ini sebagai penanda kuat bahwa format premium masih punya daya tarik komersial.

Yang membuatnya berbeda adalah proses produksi yang ekstrem: ini disebut sebagai rilis teater pertama yang seluruhnya direkam menggunakan kamera film Imax 70mm. Klaim itu menempatkan The Odyssey bukan sekadar film, melainkan demonstrasi teknologi dan ambisi sinematik.

Secara praktis, “Imax 70mm” bukan sekadar label, melainkan pengalaman yang bergantung pada infrastruktur pemutaran. Dari lebih dari 50 layar Imax di Inggris, hanya tiga yang menayangkan versi proyektor film 70mm: BFI dan Science Museum di London, serta Printworks di Manchester.

Kelangkaan itu menciptakan ekonomi perhatian yang mirip konser: kursi terbatas, permintaan tinggi, lalu harga menjadi pembeda. Di titik ini, box office bukan hanya soal kualitas film, tetapi juga soal akses dan kemampuan publik untuk “ikut hadir” dalam momen budaya.

Kritikus film sekaligus host podcast Girls on Film, Anna Smith, menekankan aspek imersi yang sulit ditiru layar kecil. “Anda merasa sangat dekat dengan karakter, Anda tenggelam dalam aksi, jadi ini pengalaman yang meningkat,” ujarnya kepada program Today.

Namun, pengalaman premium datang dengan biaya premium, dan itu menggeser diskusi ke ranah sosial. Ketika tiket Imax lebih mahal dari tiket reguler, film menjadi ruang yang memperlebar jarak antara penonton yang bisa membeli pengalaman terbaik dan yang tidak.

Kritikus film Metro, Tori Brazier, menangkap dilema itu dengan lugas. “Jika Anda punya uang dan cukup beruntung bisa memesan, saya rasa Anda tidak akan menyesal menontonnya di Imax 70mm,” katanya.

Ia juga mengingatkan konteks kebiasaan menonton saat ini yang makin cair dan pragmatis. “Tapi pada saat yang sama ini sangat mahal dan kita hidup di dunia di mana banyak orang menonton film di layar laptop dan ponsel, jadi jika Anda pergi ke bioskop Anda akan mendapat pengalaman layar besar bagaimanapun juga,” ujarnya.

Keberhasilan The Odyssey menunjukkan industri sedang menguji satu pertanyaan besar: apakah “keajaiban bioskop” masih bisa dijual sebagai diferensiasi utama. Jawabannya tampak ya, tetapi dengan syarat pengalaman itu dibuat langka, terasa eksklusif, dan dibingkai sebagai peristiwa.

Strategi ini efektif untuk pendapatan, tetapi berisiko mempersempit makna sinema menjadi komoditas premium. Jika pengalaman terbaik hanya hadir di tiga lokasi 70mm, maka film besar berubah menjadi destinasi, bukan lagi hiburan publik yang merata.

Di sisi lain, lonjakan minat pada format analog seperti 70mm juga bisa dibaca sebagai reaksi terhadap kejenuhan konten digital yang serba cepat. Penonton tampaknya rindu pada rasa “hadir”, pada detail visual yang membuat mereka merasa kecil di hadapan layar raksasa.

Masalahnya, kerinduan itu bertabrakan dengan realitas biaya hidup dan kebiasaan menonton yang sudah berpindah ke layar pribadi. Ketika industri mendorong premiumisasi, ia perlu menjawab pertanyaan etis: apakah sinema sedang mengundang penonton kembali, atau hanya memilih penonton tertentu saja.

The Odyssey membuktikan bahwa Imax 70mm masih bisa menjadi mesin cerita sekaligus mesin uang, terutama ketika dibungkus sebagai pengalaman imersif yang langka. Rekor pendapatan dan pujian kritikus menguatkan pesan bahwa layar besar tetap punya daya magis.

Namun, magis itu kini punya harga dan alamat yang terbatas, sehingga tidak semua orang bisa merasakannya. Pertanyaannya, ketika sinema masa depan makin premium, apakah kita sedang menyelamatkan pengalaman menonton bersama, atau justru mengubahnya menjadi kemewahan yang semakin eksklusif. (Orbit dari berbagai sumber, 2 Agustus 2026)