Media Sosial, Tren, dan Paylater Picu Gaya Hidup Konsumtif

Yoursay.id

Yoursay.id

Tech Life

ORBITINDONESIA.COM – Media sosial dan paylater kini jadi mesin pendorong gaya hidup konsumtif yang bekerja halus, cepat, dan nyaris tanpa jeda. Sekali scroll, rekomendasi barang viral muncul seperti perintah tak tertulis untuk ikut membeli.

Di era belanja digital, tren berpindah lebih cepat daripada kemampuan orang menimbang kebutuhan. Outfit, skincare, tas, hingga gadget berganti status dari “opsional” menjadi “wajib” hanya karena viral.

Masalahnya bukan semata soal iklan, melainkan soal normalisasi. Media sosial membentuk selera, sementara paylater membuat jarak antara keinginan dan transaksi menjadi nyaris nol.

Kombinasi media sosial, tren, dan paylater menciptakan ekosistem konsumsi yang agresif namun terasa wajar. Algoritma memelihara rasa kurang, lalu fitur “bayar nanti” menawarkan jalan pintas untuk menutupnya.

Data menguatkan bahwa utang konsumtif digital bukan gejala kecil. OJK mencatat total utang BNPL (buy now pay later) dari perusahaan pembiayaan menembus sekitar Rp7 triliun pada 2024, dengan tingkat wanprestasi (NPF) yang sempat berada di kisaran 3 persen dan fluktuatif sepanjang tahun.

Angka itu memberi konteks bahwa paylater telah menjadi kebiasaan massal, bukan sekadar fitur tambahan. Ketika cicilan kecil dipakai berulang, akumulasi tagihan berubah menjadi beban tetap yang menggerus ruang napas finansial.

Di sisi lain, platform sengaja mengemas belanja sebagai hiburan. Flash sale, countdown, dan label “stok terbatas” memicu FOMO, sehingga keputusan membeli lebih sering lahir dari dorongan emosional daripada pertimbangan rasional.

Tren yang cepat juga menciptakan siklus “beli-pakai-sebentar-lupakan”. Barang yang dibeli dengan euforia mudah menjadi artefak di lemari, sementara tagihannya tetap berjalan sampai jatuh tempo.

Riset perilaku konsumen menunjukkan bahwa pembayaran tertunda menurunkan “rasa sakit” saat membayar. Temuan klasik Drazen Prelec dan George Loewenstein (1998) menjelaskan bahwa pemisahan waktu antara konsumsi dan pembayaran membuat orang lebih mudah mengeluarkan uang.

Di sinilah paylater menjadi katalis, karena ia memperlebar jarak itu secara sistematis. Konsumen menerima barang sekarang, tetapi konsekuensi finansial datang belakangan dan sering kali bersamaan dengan tagihan lain.

Paylater bukan musuh, tetapi ia berbahaya ketika dipakai untuk mengejar validasi sosial. Saat belanja berubah menjadi cara merawat citra, utang kecil-kecilan terasa seperti biaya tampil “baik-baik saja” di internet.

Media sosial memperkeras ilusi bahwa semua orang hidup rapi, mapan, dan selalu baru. Padahal yang sering terjadi adalah kompetisi diam-diam, di mana standar hidup dibentuk oleh potongan momen terbaik orang lain.

Di titik itu, konsumsi tidak lagi menjawab kebutuhan, melainkan kecemasan. Kita membeli agar tidak tertinggal, bukan karena barang itu benar-benar memperbaiki hidup.

Yang paling ironis adalah normalisasi tekanan tersebut pada generasi muda. Ketika cicilan dianggap lumrah untuk barang non-esensial, kemampuan merasa cukup perlahan terkikis dan diganti dengan rasa kurang yang permanen.

Solusinya bukan sekadar “jangan belanja”, melainkan membangun jeda sebelum checkout. Jeda itu adalah ruang untuk bertanya: ini kebutuhan, keinginan, atau hanya respons terhadap algoritma?

Kolaborasi media sosial, tren, dan paylater memang terasa “epik”, tetapi epik yang bisa menguras dompet tanpa terasa. Kita perlu mengembalikan kendali, bukan dengan memusuhi teknologi, melainkan dengan disiplin pada batas.

Pertanyaannya sederhana namun menentukan: apakah kita membeli untuk hidup lebih baik, atau membeli agar terlihat lebih baik? Jika jawabannya yang kedua, mungkin yang perlu dibeli bukan barang baru, melainkan keberanian untuk merasa cukup. (Orbit dari berbagai sumber, 18 Juni 2026)