Imunisasi Anak Gianyar: BIAS MR dan HPV Diperkuat Sekolah
ORBITINDONESIA.COM – Imunisasi anak Gianyar kembali ditegaskan sebagai benteng kesehatan sejak dini lewat Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) di Tampaksiring. Dinas Kesehatan Gianyar menargetkan edukasi orang tua dan sekolah agar cakupan vaksin MR dan HPV tidak tersendat oleh ragu, lupa jadwal, atau hoaks.
Di banyak daerah, tantangan imunisasi bukan semata ketersediaan vaksin, melainkan kepercayaan dan literasi kesehatan keluarga. Karena itu Pemkab Gianyar memilih jalur sekolah, tempat keputusan orang tua dan rutinitas anak bertemu dalam sistem yang lebih terukur.
Kepala Dinas Kesehatan Gianyar Ni Nyoman Ariyuni menekankan penguatan pemahaman publik agar imunisasi anak lengkap sesuai jadwal. “Kami ingin meningkatkan pemahaman orang tua dan masyarakat mengenai pentingnya melengkapi imunisasi anak,” ujarnya di sela kegiatan BIAS di Tampaksiring.
BIAS bekerja seperti “jaring pengaman” karena menjangkau anak pada usia sekolah dasar, saat sebagian imunisasi lanjutan kerap terlewat. Di SD Negeri 4 Manukaya, misalnya, dilakukan imunisasi Measles Rubella (MR) untuk 54 siswa kelas 1 dan imunisasi HPV untuk 37 siswa kelas 5.
MR penting karena campak sangat menular dan dapat memicu komplikasi serius, sementara rubella berisiko pada kehamilan di masa depan bila kekebalan populasi rendah. HPV relevan sebagai pencegahan primer kanker serviks, dan WHO menempatkan vaksin HPV sebagai strategi kunci eliminasi kanker serviks bersama skrining dan tata laksana.
Namun angka di satu sekolah juga mengingatkan keterbatasan pendekatan seremoni bila tidak diikuti pemetaan anak yang belum lengkap imunisasinya di seluruh kecamatan. Kegiatan seperti ini perlu ditautkan dengan data by name by address, pelacakan anak pindahan, serta mekanisme kejar imunisasi bagi yang tertunda.
Dalam sosialisasi, edukasi disampaikan dokter spesialis anak, sebuah langkah yang tepat untuk menjawab kekhawatiran klinis secara otoritatif. Tetapi efektivitasnya akan lebih kuat bila materi komunikasi juga menyasar isu yang sering muncul, seperti kejadian ikutan pasca imunisasi, kontraindikasi, dan cara membedakan informasi medis dari opini media sosial.
Menempatkan sekolah sebagai pusat layanan imunisasi adalah keputusan kebijakan yang pragmatis, karena sekolah memiliki struktur, jadwal, dan daya jangkau. Tetapi keberhasilan tetap ditentukan oleh rumah, karena persetujuan orang tua adalah titik rawan yang sering melemahkan cakupan.
Di sini, narasi “imunisasi sebagai kewajiban moral” perlu diseimbangkan dengan transparansi layanan, termasuk penjelasan manfaat-risiko yang jujur dan prosedur penanganan bila terjadi keluhan pasca vaksin. Kepercayaan publik tumbuh bukan dari ajakan keras, melainkan dari konsistensi data, komunikasi yang sabar, dan pengalaman layanan yang aman.
Ariyuni mengajak orang tua memastikan anak mendapat imunisasi sesuai jadwal agar tumbuh sehat dan terlindungi. Ajakan itu seharusnya dibarengi pengingat bahwa imunisasi juga investasi sosial, karena kekebalan kelompok melindungi anak yang belum bisa divaksin karena alasan medis.
Imunisasi anak Gianyar melalui BIAS menunjukkan arah yang benar: mempertemukan layanan, edukasi, dan sekolah dalam satu momen yang mudah diakses. Tantangannya adalah menjaga momentum agar tidak berhenti sebagai agenda tahunan, melainkan menjadi kebiasaan kesehatan yang hidup di rumah dan komunitas.
Ketika orang tua bertanya “perlu atau tidak,” pertanyaan yang lebih jernih mungkin adalah “apa risikonya jika kita menunda.” Pada titik itu, imunisasi bukan sekadar suntikan, melainkan keputusan kolektif untuk menutup celah penyakit sebelum ia menemukan jalan masuk. (Orbit dari berbagai sumber, 1 September 2026)