Pemilu Wisconsin 2026: Demokrat Bidik Kendali Legislatif Usai Gerrymandering

The New York Times

The New York Times

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Pemilu Wisconsin 2026 menjadi ujian besar bagi demokrasi lokal setelah peta pemilihan legislatif yang lama dicap sebagai salah satu yang paling tidak demokratis di Amerika. Kini, Demokrat melihat peluang nyata merebut kendali DPRD negara bagian dan Senat negara bagian, setelah Mahkamah Agung Wisconsin pada 2023 memaksa penggantian peta yang dinilai inkonstitusional.

Enam belas tahun lalu, Partai Republik Wisconsin menunggangi gelombang ketidakpuasan nasional untuk merebut legislatif di Madison. Setelah itu, mereka mengesahkan peta distrik yang mengunci kekuasaan, bahkan ketika Demokrat kembali memenangkan hampir semua jabatan tingkat negara bagian.

Ketimpangan itu terlihat jelas pada 2018, ketika kandidat Demokrat untuk DPRD negara bagian meraih 53% suara, tetapi hanya mendapat 36 dari 99 kursi. Wisconsin lalu menjadi studi kasus tentang gerrymandering yang menggerus prinsip “satu orang, satu suara”.

Putusan pengadilan pada 2023 mengubah arah sejarah itu, memaksa peta baru dan membuka kompetisi yang lebih seimbang. Setelah Republik menerima peta yang diajukan Gubernur Tony Evers, Demokrat memaksimalkan kerja lapangan dan meraih lonjakan pada 2024.

Hasil 2024 membuat Demokrat tinggal dua kursi dari mayoritas Senat negara bagian dan lima kursi dari mayoritas DPRD negara bagian. Kini, pemilu paruh waktu 2026 dipandang sebagai momen untuk “menyelesaikan pekerjaan” dan mengakhiri dominasi yang dibangun lewat peta lama.

Jika Demokrat meraih “trifecta” dengan mempertahankan kursi gubernur sekaligus menguasai dua kamar legislatif, arah kebijakan Wisconsin berpotensi berbelok tajam. Pemotongan pajak, pelemahan serikat pekerja, dan pembatasan pemilih yang menandai era Republik dapat diganti dengan agenda keterjangkauan, kesehatan, dan pendidikan.

Pemimpin minoritas Senat dari Demokrat, Dianne Hesselbein, menyebut pemilu ini “yang paling penting yang pernah dilihat Wisconsin”. Ia juga menegaskan Demokrat ingin menghindari kebijakan yang memicu gelombang protes besar seperti pada 2011 saat Scott Walker mencabut hak tawar serikat pekerja sektor publik.

Di sisi lain, Ketua DPRD negara bagian dari Republik, Robin Vos, mengakui 2026 selalu tampak berat sebagai pemilu paruh waktu. Ia menyebut Presiden Trump “menjadi beban”, bukan pada aspek kebijakan, melainkan gaya operasi yang membuat sebagian pemilih menjauh.

Data jajak pendapat Marquette Law School menunjukkan Demokrat unggul dalam polling generik untuk legislatif, meski Republik masih memimpin kursi: 54-45 di DPRD negara bagian dan 18-15 di Senat. Namun, laporan dana kampanye menunjukkan Republik punya keunggulan finansial 2 banding 1, dengan total penggalangan sekitar 43 juta dolar.

Kompetisi paling ketat terkonsentrasi di Wisconsin barat, terutama di wilayah Distrik Kongres ke-3. Di sana, pertarungan kursi DPR AS antara Demokrat Rebecca Cooke melawan petahana Republik Derrick Van Orden juga berpotensi memengaruhi energi pemilih dan kerja mesin partai.

Di La Crosse, Republik mencoba menjatuhkan Steve Doyle, Demokrat berusia 68 tahun yang dua tahun lalu menjadi satu-satunya legislator Demokrat yang menang di distrik yang dimenangkan Trump. Doyle mengandalkan citra moderat dan situs kampanye “MrBipartisan.com”, sembari membagikan jadwal olahraga dan menonjolkan rekam jejak lintas partai.

Republik mengklaim merekrut kandidat “tengah-kanan” yang pragmatis, karena pemilih Wisconsin tidak menginginkan belokan ekstrem. Namun, konteks peta baru membuat moderasi saja tidak cukup, karena kompetisi kini lebih ditentukan oleh kedekatan kandidat dengan isu biaya hidup, layanan publik, dan kepercayaan pada institusi.

Pertarungan Senat negara bagian yang paling menonjol terjadi di Distrik 17 wilayah Driftless, antara petahana Republik Howard Marklein dan penantang Demokrat Jenna Jacobson. Jacobson mengkritik kepemimpinan Republik karena gagal memperbarui pendanaan rekreasi luar ruang dan konservasi lahan, serta mendorong regulasi penggunaan air oleh pusat data.

Marklein, yang dulu menang mudah hingga selisih 20 poin di peta lama, kini berkampanye agresif dengan menekankan identitas “rural” berulang kali dalam materi kampanye. Para pelaku usaha seperti keluarga Buholzer dari Klondike Cheese Factory memuji Marklein karena melonggarkan regulasi dan memperbaiki jalan pedesaan untuk logistik.

Namun, isu fiskal menjadi medan yang rumit bagi kedua kubu, terutama dengan surplus negara bagian yang kini sekitar 3 miliar dolar. Marklein mengaku khawatir jika Demokrat berkuasa akan muncul belanja baru dan defisit besar, bahkan menyatakan ketakutan Wisconsin “menjadi Minnesota”.

Menariknya, Marklein juga menolak label partisan, karena usulannya memanfaatkan surplus tahun ini didukung Gubernur Evers dan beberapa Demokrat, tetapi dijegal oleh Demokrat Senat dan Republik konservatif karena kekhawatiran defisit struktural. Fakta ini menunjukkan garis konflik di Wisconsin tidak selalu lurus antarpartai, tetapi juga antarfraksi dan antarwilayah.

Transisi kekuasaan di Madison juga akan dramatis, karena untuk pertama kalinya tiga tokoh puncak sekaligus pensiun: Gubernur Evers, Robin Vos, dan pemimpin mayoritas Senat Devin LeMahieu. Di pemilihan gubernur, David Crowley unggul atas Tom Tiffany dalam jajak pendapat terbaru, setelah Crowley didukung Evers dan mengalahkan Francesca Hong di pemilihan pendahuluan Demokrat.

Wisconsin memberi pelajaran bahwa demokrasi bisa “dibekukan” bukan lewat larangan memilih, melainkan lewat desain peta yang mengunci hasil. Ketika peta membuat suara mayoritas tidak berbanding lurus dengan kursi, politik berubah dari kompetisi gagasan menjadi kompetisi teknik.

Putusan 2023 memang membuka ruang kompetisi, tetapi tidak otomatis menjamin kebijakan menjadi lebih adil. Trifecta Demokrat dapat memperbaiki akses layanan publik dan memperkuat hak pekerja, namun juga berisiko memicu reaksi balik jika belanja sosial tidak disertai disiplin fiskal dan komunikasi yang meyakinkan.

Di sisi Republik, keluhan bahwa Trump “membebani” menunjukkan masalah yang lebih dalam: ketergantungan pada figur nasional yang memecah belah dapat merusak kandidat lokal yang sebenarnya moderat. Ketika pemilih jenuh oleh perang budaya, isu praktis seperti biaya hidup, air untuk pusat data, dan jalan pedesaan justru menjadi penentu.

Yang paling penting, perebutan legislatif Wisconsin tidak hanya soal Madison, tetapi juga soal peta kongres 2028. Jika Demokrat menguasai legislatif, mereka bisa menahan ancaman gerrymandering Republik di wilayah lain, sehingga Wisconsin berpotensi menjadi simpul strategis dalam perang peta nasional.

Pemilu Wisconsin 2026 memperlihatkan bagaimana satu keputusan pengadilan tentang peta distrik dapat mengubah masa depan kebijakan, anggaran, dan bahkan keseimbangan kekuasaan di Washington. Di negara bagian ayunan, demokrasi sering ditentukan bukan oleh slogan, tetapi oleh garis-garis di peta dan kepercayaan publik bahwa garis itu adil.

Pertanyaannya kini bukan sekadar siapa yang menang, melainkan apa yang akan dilakukan pemenang terhadap sistem yang baru saja “dipulihkan”. Apakah Wisconsin akan memakai peta yang lebih fair untuk menurunkan tensi politik dan memperbaiki layanan publik, atau justru mengulang siklus balas-dendam kebijakan yang membuat warga kembali muak.

(Orbit dari berbagai sumber, 10 September 2026)