Amanda Manopo Hamil Disorot: Body Shaming Pinggul dan Filler

Suara.com

Suara.com

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Amanda Manopo hamil besar kembali jadi bahan gunjingan setelah warganet menyoroti bentuk pinggul dan pantatnya saat ia memperlihatkan kamar bayi. Komentar seperti “Salfok sama pinggulnya” hingga tudingan “buang lah filler itu” memicu respons santai namun tajam dari sang artis.

Peristiwa ini bermula dari unggahan Amanda Manopo yang tampil dengan dress ketat saat menunjukkan kamar bayi. Alih-alih fokus pada momen kehamilan, sebagian warganet mengalihkan perhatian ke proporsi tubuhnya.

Beberapa komentar menilai pinggulnya “aneh” dan bagian belakang tubuhnya “kepinggir”. Ada juga tudingan ekstrem bahwa perubahan bentuk tubuhnya disebabkan prosedur kecantikan seperti filler.

Amanda merespons dengan kalimat singkat yang menolak standar penilaian itu. “Enggak usah diliat kalau aneh, repot,” tulisnya, lalu menyindir, “Baru tahu ada filler bisa ke pantat.”

Kasus ini memperlihatkan pola lama body shaming yang berulang di ruang digital Indonesia. Tubuh perempuan, terutama saat hamil, sering diperlakukan sebagai objek inspeksi publik yang seolah boleh dinilai tanpa batas.

Kehamilan sendiri membawa perubahan fisiologis yang normal, termasuk distribusi lemak, postur, dan bentuk panggul yang dapat bergeser. Namun di media sosial, perubahan itu kerap diterjemahkan sebagai “cacat visual” yang harus dijelaskan.

Tudingan filler juga menunjukkan bias baru: setiap perubahan tubuh dianggap hasil rekayasa kosmetik. Di era estetika digital, publik mudah mengaitkan penampilan dengan prosedur, meski tanpa bukti dan tanpa konteks medis.

Secara global, isu ini selaras dengan temuan UNESCO (2021) bahwa perempuan lebih sering menjadi target kekerasan berbasis gender di ruang digital, termasuk penghinaan fisik. Body shaming menjadi pintu masuk normalisasi pelecehan, karena dibungkus sebagai “komentar biasa.”

Dampaknya tidak berhenti pada figur publik, karena komentar seperti ini menciptakan standar yang menular ke pengguna lain. Ketika selebritas hamil saja dianggap pantas dihina, publik memperluas izin sosial untuk menghakimi tubuh siapa pun.

Respons Amanda yang santai sebenarnya adalah bentuk perlawanan yang efektif, karena ia menolak logika “harus menjelaskan tubuh.” Ia tidak masuk ke perang pembuktian, melainkan mengembalikan beban kepada penonton yang merasa berhak menilai.

Namun, candaan dan sindiran juga mengungkap kenyataan pahit: perempuan sering dipaksa menertawakan pelecehan agar terlihat kuat. Ketegasan semacam itu bekerja di permukaan, tetapi tidak otomatis menghentikan budaya yang memelihara komentar julid.

Di titik ini, masalahnya bukan pada dress ketat atau sudut kamera, melainkan pada cara publik memandang kehamilan sebagai tontonan. Ruang komentar berubah menjadi pengadilan tubuh, dan empati kalah oleh hasrat untuk viral.

Kisah Amanda Manopo hamil yang disorot karena pinggul, pantat, dan tudingan filler menegaskan bahwa body shaming masih dianggap hiburan. Padahal, komentar fisik yang merendahkan adalah bentuk kekerasan verbal yang menormalisasi kontrol sosial atas tubuh perempuan.

Pertanyaannya sederhana: mengapa momen menyiapkan kamar bayi bisa berubah menjadi ajang mengukur tubuh orang lain. Jika kita ingin ruang digital lebih sehat, mungkin langkah pertama adalah berhenti merasa berhak mengomentari tubuh yang tidak pernah meminta penilaian.

(Orbit dari berbagai sumber, 5 Juni 2026)