Julian Assange, Gaza, dan Karpet Merah Cannes yang Mendadak Menjadi Arena Politik Dunia

ORBITINDONESIA.COM - Kemunculan Julian Assange di Cannes Film Festival tahun ini bukan sekadar penampilan selebritas di karpet merah. Dalam hitungan jam, momen tersebut berubah menjadi salah satu peristiwa politik dan kemanusiaan yang paling banyak dibicarakan dunia.

Assange datang mengenakan kaus putih sederhana. Namun di bagian depan kaus itu tercetak ribuan nama anak-anak Palestina berusia di bawah lima tahun yang dilaporkan tewas di Gaza sejak agresi genosida oleh Israel pada 2023. Sementara di bagian belakang tertulis kalimat tegas: “Stop Israel.”

Seketika, kamera-kamera media dunia yang biasanya sibuk memburu gaun mewah dan bintang film mendadak tertuju pada pesan politik yang dibawa pria yang selama bertahun-tahun menjadi simbol kontroversi global itu.

Momen tersebut terjadi saat pemutaran perdana film dokumenter The Six Billion Dollar Man, sebuah film yang mengangkat perjalanan hidup Assange, pertarungannya melawan ekstradisi Amerika Serikat, hingga kisah panjang pendiri WikiLeaks itu menghadapi tekanan politik dunia.

Namun yang membuat kemunculan Assange begitu kuat bukan hanya pesan di bajunya. Ada konteks yang jauh lebih besar di baliknya.

Selama bertahun-tahun, Assange dikenal sebagai figur yang hidup di persimpangan antara jurnalisme, politik, intelijen, dan aktivisme global. Bagi para pendukungnya, ia adalah simbol transparansi dan keberanian membongkar rahasia kekuasaan. Lewat WikiLeaks, Assange pernah mengguncang dunia dengan membocorkan dokumen perang Amerika Serikat di Irak dan Afghanistan, kabel diplomatik rahasia, hingga berbagai arsip yang dianggap membuka wajah asli politik global.

Namun bagi lawan-lawannya, Assange dianggap sosok berbahaya yang mengancam keamanan nasional dan membocorkan informasi sensitif negara.

Karena itulah, ketika Assange muncul di Cannes membawa isu Gaza, publik tidak melihatnya sekadar sebagai aktivis biasa. Banyak orang memandang aksinya sebagai kelanjutan dari identitas lama Assange: seorang tokoh yang terus menantang kekuasaan global melalui simbol dan informasi.

Menariknya, Cannes sendiri selama ini identik dengan dunia glamor, perfilman, dan budaya populer. Tetapi dalam beberapa tahun terakhir, festival film terbesar dunia itu semakin sering berubah menjadi ruang ekspresi politik internasional. Isu perang, hak asasi manusia, perubahan iklim, hingga konflik Timur Tengah ikut masuk ke panggung budaya global.

Dan Assange tampaknya memahami betul kekuatan simbol visual di era media sosial.

Kaus yang ia kenakan bekerja seperti pesan politik modern: sederhana, emosional, dan langsung menghantam perhatian publik. Nama-nama ribuan anak kecil yang tercetak di kain putih itu mengubah angka statistik menjadi wajah kemanusiaan yang terasa nyata.

Di era digital, satu gambar kadang lebih kuat daripada pidato panjang.

Tak heran jika foto Assange di Cannes langsung menyebar luas di berbagai platform media sosial dan memicu perdebatan global. Sebagian memuji keberaniannya menyuarakan tragedi kemanusiaan di Gaza. Sebagian lain mengkritik slogan “Stop Israel” yang dianggap terlalu politis dan menyederhanakan konflik yang kompleks.

Namun terlepas dari pro-kontra itu, satu hal jelas: Assange berhasil membuat dunia kembali membicarakan Gaza di tengah gemerlap festival film internasional.

Ada pula lapisan simbolik lain yang membuat kemunculan ini terasa kuat. Setelah bertahun-tahun hidup dalam tekanan hukum, berlindung di Kedutaan Ekuador di London, dipenjara di Inggris, dan menghadapi ancaman ekstradisi Amerika Serikat, Assange kini kembali muncul di ruang publik dunia.

Dan tampaknya, kebebasan itu tidak membuatnya memilih diam.

Sebaliknya, ia justru kembali menggunakan panggung internasional untuk menyuarakan isu-isu yang menurutnya tak boleh diabaikan.

Di abad ke-21, perang tidak hanya terjadi di medan tempur. Ia juga berlangsung di layar ponsel, media sosial, festival budaya, dan ruang opini global. Dalam dunia seperti itu, karpet merah Cannes pun bisa berubah menjadi arena pertarungan moral dan politik internasional.

Dan Julian Assange, seperti biasa, kembali berada tepat di tengah badai itu.***