Perpustakaan Batoe Api Jatinangor: Ruang Literasi Independen Kampus

RRI.co.id

RRI.co.id

Culture

ORBITINDONESIA.COM – Perpustakaan Batoe Api Jatinangor di Cikeruh, dekat Universitas Padjadjaran, diam-diam bertahan sebagai ruang literasi independen yang dicari mahasiswa. Di saat budaya baca sering kalah oleh layar gawai, tempat ini menawarkan buku, arsip, film, dan musik sebagai “paket lengkap” untuk berpikir lebih pelan dan lebih dalam.

Perpustakaan Batoe Api berdiri sejak 1 April 1999 di Jl. Pramoedya Ananta Toer No. 142a, Cikeruh, Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Lokasinya berada di kawasan pendidikan yang padat ritme, tetapi juga padat kebutuhan referensi.

Ruang literasi kampus umumnya melayani kebutuhan akademik yang terukur oleh silabus dan sitasi. Namun di luar itu, mahasiswa kerap memerlukan ruang yang lebih bebas untuk membaca sastra, sejarah, filsafat, politik, sains, dan humaniora tanpa tekanan target.

Kekuatan utama Perpustakaan Batoe Api bukan hanya pada jumlah buku, tetapi pada ragam medium pengetahuan yang disimpan rapi. Koleksi film, musik, kliping, dan arsip lama membuatnya menyerupai “ruang ingatan” yang jarang dimiliki perpustakaan formal.

Testimoni publik memperlihatkan nilai guna yang konkret bagi pengunjung. “Koleksinya lengkap, ga cuma sedia buku tapi juga ada koleksi musik, film & berbagai media lainnya” tulis Mia Tamasyuni melalui Google Review.

Pengalaman serupa datang dari Abdullaev Mubaronov yang menekankan akses dan kenyamanan. Ia menulis bahwa koleksinya “cukup lengkap”, bisa dibaca di tempat, dan penataannya “rapi dan nyaman dipandang mata”.

Di banyak kota pendidikan, ruang baca alternatif sering hidup karena kedekatan emosional, bukan karena anggaran besar. Batoe Api memanfaatkan hal itu dengan menjadi tempat membaca, mencari referensi, hingga mengerjakan tugas, yang berarti ia hadir di rutinitas harian mahasiswa.

Perpustakaan ini juga pernah menjadi ruang diskusi dan pemutaran film yang melibatkan penulis, akademisi, serta pemerhati sejarah. Aktivitas semacam ini mengubah perpustakaan dari gudang koleksi menjadi forum publik, tempat gagasan diuji lewat dialog.

Secara tren, perpustakaan independen di Indonesia kerap berperan sebagai “jembatan” antara pengetahuan akademik dan pengetahuan kewargaan. Ketika kampus cenderung menilai pengetahuan lewat kredit dan indeks, ruang seperti Batoe Api merawat rasa ingin tahu yang tidak selalu bisa diukur.

Keberadaan Perpustakaan Batoe Api Jatinangor adalah kritik halus pada cara kita memandang literasi sebagai sekadar kemampuan membaca teks. Literasi yang matang justru menuntut waktu, perjumpaan, dan keberanian menyeberang dari satu disiplin ke disiplin lain.

Nama jalan “Pramoedya Ananta Toer” di alamatnya terasa simbolik, karena Pramoedya identik dengan tradisi membaca sebagai tindakan merdeka. Batoe Api seolah menegaskan bahwa pengetahuan bukan hanya milik institusi, tetapi juga milik komunitas yang merawatnya.

Namun romantisme perpustakaan alternatif tidak boleh menutup pertanyaan tentang keberlanjutan. Jika ruang-ruang seperti ini bergantung pada semangat segelintir orang, maka ekosistem literasi kita masih rapuh di hadapan perubahan ekonomi dan selera publik.

Setelah lebih dari dua dekade, Perpustakaan Batoe Api tetap menjadi alternatif ruang literasi independen di Jatinangor, dengan buku, arsip, musik, dan film sebagai pintu masuk pengetahuan. Ia mengajarkan bahwa membaca bukan sekadar mengumpulkan referensi, melainkan membangun cara pandang.

Pertanyaannya kini sederhana tetapi menentukan: apakah kita hanya datang saat butuh tugas selesai, atau ikut menjaga ruang-ruang yang membuat pikiran tetap hidup. Sebab ketika perpustakaan independen padam, yang hilang bukan hanya koleksi, tetapi juga tradisi berbincang yang membuat masyarakat belajar bersama. (Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2026)