Central Bank of India Ekspansi Wealth Management dan Kartu Kredit
ORBITINDONESIA.COM – Central Bank of India menyiapkan ekspansi wealth management dan bisnis kartu kredit pada paruh kedua tahun fiskal ini untuk mengerek fee income. CEO Kalyan Kumar menegaskan persiapan sudah masuk tahap RFP demi menggandeng mitra berpengalaman dan menargetkan peluncuran sekitar pertengahan tahun.
Di tengah tekanan margin bunga dan kompetisi digital, bank-bank besar kian agresif mengejar pendapatan non-bunga melalui komisi, layanan transaksi, dan produk investasi. Central Bank of India, sebagai bank milik negara, kini ingin menutup celah itu lewat wealth management, kartu kredit, dan rangkaian layanan korporasi.
Persetujuan dewan sudah dikantongi, tetapi eksekusi menjadi ujian sebenarnya karena bisnis berbasis biaya menuntut teknologi, manajemen risiko, dan pengalaman nasabah yang konsisten. Pernyataan Kumar kepada PTI menandai bahwa strategi ini bukan wacana, melainkan proyek yang sedang dikunci lewat pemilihan mitra.
Wealth management dan kartu kredit adalah dua mesin fee income yang lazim dipakai bank untuk memperlebar pendapatan di luar bunga kredit. Kumar menyebut bank sedang menerbitkan RFP untuk “onboarding those who are having expertise” agar peluncuran bisa dilakukan pada paruh kedua tahun fiskal.
Di sisi korporasi, bank menyiapkan cash management services yang ditargetkan meluncur pada Agustus, sekaligus memperkuat penjualan valas terpusat melalui bisnis LC dan LG. Ini penting karena layanan transaksi harian perusahaan cenderung menghasilkan komisi berulang dan mengunci relasi jangka panjang.
Strategi awalnya juga pragmatis: membidik nasabah korporasi yang sudah ada, tetapi memakai fasilitas serupa di bank lain. Dengan “platform teknologi sudah ada”, bank berharap memindahkan arus transaksi dan mengubahnya menjadi komisi dan pendapatan berbasis biaya.
Pilar lain yang digenjot adalah bancassurance yang disebut akan membawa “good amount of fee-based income” pada tahun ini dan tahun berikutnya. Klaim ini ditopang langkah korporasi nyata, yakni kepemilikan 25,18% di perusahaan asuransi jiwa dan 24,91% di perusahaan asuransi umum yang kemudian beridentitas Generali Central Life Insurance dan Generali Central Insurance.
Langkah itu diperkuat oleh kabar bahwa pada Agustus 2024, Central Bank of India dinyatakan sebagai pemenang untuk akuisisi aset kategori 1 Future Enterprises Ltd pada ventura asuransi jiwa dan umum bersama Generali Italia, menurut laporan PTI. Di sini, bank tidak sekadar menjual polis, tetapi membangun posisi ekuitas yang bisa memperdalam sinergi distribusi dan komisi.
Ekspansi juga bergerak ke panggung internasional melalui rencana operasionalisasi IFSC Banking Unit (IBU) di GIFT City, Gandhinagar pada pekan pertama bulan berikutnya. Bank sudah menempatkan kepala cabang dan menyiapkan groundwork, dengan target memobilisasi bisnis valas dan layanan korporasi lintas mata uang.
IBU di GIFT City membuka akses ke pasar keuangan internasional dan memungkinkan penawaran pinjaman valuta asing, trade finance, treasury, serta produk manajemen risiko. Namun, manfaatnya akan bergantung pada seberapa cepat bank bisa mengonversi kebutuhan foreign currency funding klien menjadi pipeline transaksi yang berulang.
Rencana Central Bank of India terlihat seperti upaya mengejar ketertinggalan dalam permainan fee income yang sudah lama dimenangkan bank swasta dan pemain digital. Wealth management dan kartu kredit menjanjikan komisi, tetapi juga menuntut disiplin underwriting, pencegahan fraud, dan tata kelola keluhan nasabah yang ketat.
Ada ironi yang perlu dicermati: bank ingin memperbesar pendapatan non-bunga, tetapi banyak sumber fee income paling stabil justru lahir dari kepercayaan harian nasabah, bukan sekadar peluncuran produk. Jika kartu kredit dikejar hanya demi volume, risiko kredit ritel dan biaya akuisisi bisa menggerus keuntungan yang diincar.
Di area korporasi, cash management dan forex terpusat adalah langkah yang lebih “sunyi” namun berpotensi lebih lengket, karena bertumpu pada arus kas dan kebutuhan transaksi. Tetapi memindahkan kebiasaan perusahaan dari bank pesaing bukan perkara fitur, melainkan soal SLA, integrasi sistem, dan kepastian layanan saat terjadi gangguan.
Sinergi bancassurance dan kepemilikan saham di entitas asuransi memberi peluang komisi yang besar, tetapi juga memunculkan pertanyaan tata kelola penjualan. Publik akan menilai apakah bank menjaga transparansi produk, menghindari mis-selling, dan menempatkan kebutuhan nasabah di atas target komisi.
IBU di GIFT City dapat menjadi simbol modernisasi, tetapi simbol saja tidak cukup jika tidak diikuti kapabilitas treasury dan risk management yang matang. Dalam dunia valas dan trade finance, kesalahan kecil pada harga risiko atau kepatuhan dapat berubah menjadi kerugian besar dan reputasi yang rapuh.
Central Bank of India sedang menggeser narasi pertumbuhan dari sekadar kredit menuju ekosistem layanan yang menghasilkan fee income, dari wealth management hingga cash management dan IBU di GIFT City. Strategi ini masuk akal, tetapi keberhasilannya akan ditentukan oleh eksekusi, etika penjualan, dan kemampuan menjaga risiko.
Pertanyaan akhirnya sederhana: apakah bank mampu membuat pendapatan non-bunga tumbuh tanpa menukar kepercayaan nasabah dengan agresivitas target. Jika jawabannya ya, transformasi ini bisa menjadi tonggak, bukan sekadar program tahunan.
(Orbit dari berbagai sumber, 26 Juli 2026)