Moana Live-Action 2026: Thomas Kail, Maui Dwayne Johnson, dan Taruhan Disney

Variety

Variety

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Moana live-action menjadi ujian besar Disney: mempertahankan jiwa kisah Polinesia, sekaligus menyalakan ulang daya tarik box office lewat musikal yang sudah dicintai publik. Sutradara Thomas Kail menegaskan film ini tidak “memperbaiki” yang tak rusak, tetapi mengubah pengalaman emosional karena kini Moana berwujud manusia sungguhan di tengah badai dan monster lava.

Pada 2015, ketika “Hamilton” merajai Broadway, Thomas Kail selalu tahu Lin-Manuel Miranda bisa ditemukan di ruang ganti, menulis lagu untuk “Moana”. Kail mengenang ia kerap mendengar bunyi ketikan dan bertanya, “Apa dia sedang menulis ‘Moana’ lagi?”

Miranda memakai sela-sela jadwal “Hamilton” untuk menyusun musik film animasi Disney “Moana” (2016), termasuk “How Far I’ll Go” dan “You’re Welcome”. Kail bahkan melihat Miranda merekrut pemain seperti Phillipa Soo untuk merekam demo sebelum dikirim ke studio.

Setelah satu dekade berada di orbit proyek itu, Kail kini mengarahkan versi Moana live-action yang dijadwalkan tayang 10 Juli. Cerita tetap berpusat pada putri kepala suku yang dipilih lautan untuk memulihkan kemakmuran pulau, dengan Catherine Laga’aia sebagai Moana dan Dwayne Johnson kembali sebagai Maui.

Keputusan Disney menggandeng Kail terasa logis karena tema “mencari tempat di komunitas” adalah benang merah karya-karyanya, dari “In the Heights” hingga “Hamilton”. Kail sendiri mengakui ia tak tahu alasan pasti Disney, tetapi ia melihat “roh film” selaras dengan hal-hal yang biasa ia garap.

Arah adaptasi yang ia terima bukanlah perintah untuk menyalin, melainkan menjaga fondasi cerita dan karakter. Kail menilai, “Jika Anda membuat film bernama ‘Moana’ dan tidak mematuhi cerita itu, Anda membuat kesalahan,” sambil menekankan tradisi teater yang akrab dengan “revival”.

Namun, ia juga menolak anggapan film ini sekadar cermin versi animasi. Ia menyebut ada adegan yang “sepenuhnya berbeda”, urutan yang berubah, lelucon baru, dan dialog dari tokoh yang berbeda, meski inti kisah tetap sama.

Perbedaan terbesar, menurut Kail, terletak pada sensasi fisik dan psikologis ketika ancaman terasa nyata. Menyaksikan remaja 16 tahun di tengah badai atau berhadapan dengan monster lava, katanya, memunculkan rasa genting yang berbeda dibanding animasi.

Musikal menjadi titik rawan sekaligus senjata utama, karena publik menilai ulang apakah lagu-lagu ikonik tetap “hidup” di tubuh aktor nyata. Kail menyebut “Where You Are” sebagai nomor paling ambisius, melibatkan 200 penari di desa praktikal yang benar-benar dibangun.

Produksi nomor itu berlangsung dalam suhu sekitar 110 derajat Fahrenheit dengan kelembapan tinggi, yang membuatnya terasa seperti teater site-specific. Detail ini penting karena menunjukkan live-action bukan hanya soal kamera, tetapi soal logistik ekstrem untuk menciptakan keramaian yang organik.

Untuk Maui, Disney menutup pintu pada opsi pemeran lain karena “Dwayne adalah Maui”. Johnson bukan hanya bintang, tetapi juga produser, sehingga kontinuitas identitas karakter menjadi strategi pemasaran sekaligus jaminan bagi penggemar.

Tubuh Maui yang “absurdly buff” diwujudkan lewat bodysuit yang dipasang di atas tubuh Johnson, bukan menggantikan bentuk dasarnya. Kail menyebut bodysuit dibutuhkan karena Maui sering keluar-masuk air, dan jadwal syuting kadang menuntut dua kondisi itu dalam rentang tiga jam.

Bodysuit juga menjadi solusi teknis untuk tato yang “hidup” di dalam film, agar mudah ditangkap dan diproses. Kail menegaskan tujuan desainnya adalah “terlihat seperti Dwayne”, dan ia yakin target itu tercapai.

Kontroversi wig Maui menunjukkan betapa detail visual bisa mengalahkan narasi dalam era trailer dua menit. Kail menjelaskan, ketika konsep Maui botak pernah diajukan ke para penasihat budaya sebelum 2016, itu langsung ditandai bermasalah karena kekuatan dan spirit Maui berasal dari rambutnya.

Ia menilai reaksi publik berubah ketika menonton film utuh, karena penonton akhirnya menerima “itu Maui” lalu berhenti memikirkan rambutnya. Pernyataan ini mengisyaratkan satu hal: potongan promosi sering memicu penilaian prematur yang tidak selalu selaras dengan pengalaman sinematik penuh.

Moana live-action memperlihatkan dilema klasik Disney: antara pelestarian budaya dan mesin remake yang terus berputar. Kail mencoba menyeimbangkan keduanya dengan prinsip “tidak memperbaiki yang tidak rusak”, tetapi tetap menyuntikkan variasi adegan, urutan, dan humor.

Pendekatan ini cerdas sekaligus berisiko, karena penggemar menginginkan rasa yang sama, sementara penonton baru menuntut alasan kuat mengapa film ini perlu ada. Ketika Kail berkata ia tidak membaca ulasan secara penuh dan hanya “menangkap gist”, ia seperti menolak algoritma kemarahan, tetapi juga berpotensi kehilangan sinyal kritik yang relevan.

Yang paling menarik justru pengakuannya sebagai orang tua: anak-anak di sekolah berkata, “Ini harus bagus.” Kalimat polos itu adalah ringkasan tekanan industri, karena generasi yang tumbuh dengan animasi menuntut remake tidak sekadar “lebih nyata”, melainkan lebih bermakna.

Di luar Moana, Kail masih berharap adaptasi “Fiddler on the Roof” menemukan rumah, setelah pandemi mengubah peta musikal. Ia melihat “Wicked” dan proyek-proyek besar lain bisa mengingatkan publik bahwa selera terhadap musikal belum mati, hanya bergerak dalam fase.

Ia juga menyinggung rencana reuni “Hamilton” yang akhirnya bermetamorfosis menjadi medley di Tonys, momen yang ia saksikan dari kursi penonton ketika 6.000 orang “meledak” oleh antusiasme. Dari sini, tampak bahwa nostalgia paling efektif bukan yang dipaksakan, melainkan yang menemukan bentuk perayaan yang tepat.

Pertanyaannya kini sederhana tetapi tajam: apakah Moana live-action akan menjadi perayaan yang tepat, atau hanya pengulangan yang mahal. Jawabannya bukan di trailer, melainkan pada seberapa jujur film ini memperlakukan budaya, karakter, dan rasa takjub yang dulu membuat “Moana” dicintai. (Orbit dari berbagai sumber, 19 Juli 2026)