Budaya Kerja India dan House Help: Work-Life Balance Dipertaruhkan

The Times of India

The Times of India

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Budaya kerja India kembali disorot setelah seorang produser podcast Australia, Bree Steele, mengaku kaget melihat work-life balance yang nyaris tak ada, termasuk telepon kerja pukul 21.30. Dalam pengamatannya, tekanan jam kerja panjang membuat house help atau pekerja rumah tangga menjadi “solusi praktis” bagi banyak keluarga kelas menengah dan kaya.

Bree Steele tinggal di India sejak 2023 dan menceritakan pengalamannya lewat video Instagram. Ia melihat teman-temannya menerima panggilan kerja larut malam, seolah waktu pribadi bukan batas yang dihormati.

Di saat yang sama, ia menemukan hal yang jarang ia jumpai di Australia: rumah tangga yang mempekerjakan orang untuk memasak, membersihkan rumah, hingga mencuci. Steele bahkan berkata blak-blakan, ia tidak memasak atau membersihkan rumah di India karena hampir semua kebutuhan itu bisa “dibeli” lewat bantuan domestik.

Awalnya ia menganggap praktik itu janggal karena di Barat banyak orang bekerja penuh waktu sambil tetap mengurus rumah sendiri. Namun temannya menimpali, beban kerja di India membuat semua itu “tidak feasible” jika dikerjakan sendiri.

Dalam konteks yang lebih luas, perdebatan jam kerja juga memanas setelah Narayana Murthy, pendiri Infosys, menganjurkan 72 jam kerja per minggu. Ia menyebut jam kerja panjang sebagai jalan pintas pertumbuhan dan mencontohkan budaya kerja “996” di China.

Di permukaan, cerita Steele tampak seperti kisah ekspatriat yang menikmati kemudahan hidup. Namun di bawahnya ada struktur ekonomi yang mengunci dua realitas: jam kerja panjang di sektor korporat dan upah tenaga domestik yang relatif murah.

Steele menyimpulkan logikanya sederhana: ketika waktu habis di kantor, pekerjaan rumah dialihkan ke orang lain. Ia menyebutnya “for better or for worse, labor is cheap in India,” sebuah kalimat yang terdengar praktis sekaligus menyimpan problem etika.

Fenomena house help sebenarnya bukan sekadar soal gaya hidup, melainkan mekanisme penyangga sistem kerja. Jika perusahaan menormalisasi ketersediaan 24/7, rumah tangga butuh “infrastruktur” baru agar tetap berjalan, dan infrastruktur itu sering berupa pekerja domestik.

Ini menciptakan ilusi efisiensi bagi kelas menengah-atas: karier melaju, rumah tetap rapi, makanan tetap tersaji. Tetapi biaya sosialnya dipindahkan ke kelompok pekerja yang jarang terlihat dalam narasi “produktif” dan “kemajuan”.

Secara global, riset jam kerja panjang menunjukkan pola yang konsisten: semakin panjang jam kerja, semakin tinggi risiko kelelahan dan gangguan kesehatan. WHO dan ILO pernah memperingatkan bahwa jam kerja panjang berkorelasi dengan meningkatnya risiko penyakit jantung dan stroke, terutama ketika lembur menjadi kebiasaan, bukan pengecualian.

Dalam kasus India, narasi 72 jam kerja memperkeras pesan bahwa tubuh pekerja adalah bahan bakar pertumbuhan. Ketika pemimpin bisnis mengglorifikasi kerja ekstrem, batas antara dedikasi dan eksploitasi menjadi kabur.

Di titik ini, house help bukan lagi pilihan personal, melainkan konsekuensi sistemik. Ketersediaan tenaga murah membuat sistem kerja tidak dipaksa berbenah, karena dampak domestiknya bisa “di-outsourcing”.

Steele sendiri mengakui sisi psikologisnya: ia “malu” karena menikmati kemudahan itu dan cepat kehilangan kebiasaan membersihkan rumah sendiri. Pengakuan ini penting karena menunjukkan bagaimana privilese terasa normal begitu seseorang masuk ke ekosistem yang mendukungnya.

Budaya kerja India yang digambarkan Steele memperlihatkan paradoks modernitas: produktivitas dibangun dengan mengorbankan waktu hidup. Ketika panggilan kerja pukul 21.30 dianggap wajar, yang sesungguhnya terjadi adalah pergeseran batas kemanusiaan menjadi batas ketersediaan.

Di sisi lain, normalisasi house help menyingkap ketimpangan yang sering disamarkan sebagai “tradisi” atau “kebiasaan lokal”. Murahnya tenaga kerja bukan fakta netral, melainkan hasil dari struktur upah, minimnya perlindungan, dan pasokan pekerja yang besar.

Argumen “kami tidak punya waktu” terdengar masuk akal, tetapi sekaligus menanyakan hal yang lebih tajam: mengapa sistem kerja dibiarkan merampas waktu, lalu solusi yang dipilih adalah membeli waktu orang lain. Jika work-life balance runtuh, yang dikorbankan pertama kali biasanya bukan target perusahaan, melainkan kehidupan rumah tangga dan pekerja di bawahnya.

Seruan 72 jam kerja menambah tekanan moral: siapa yang menolak akan dicap kurang nasionalis atau kurang ambisius. Padahal pertumbuhan yang sehat seharusnya mengukur kualitas hidup, bukan sekadar jumlah jam yang diperas dari tenaga kerja.

Di sinilah narasi Steele menjadi cermin yang tidak nyaman bagi banyak negara berkembang. Ketika kelas menengah naik, ia sering naik di atas punggung dua kelompok sekaligus: pekerja korporat yang kelelahan dan pekerja domestik yang kurang terlindungi.

Cerita Bree Steele bukan sekadar kisah ekspatriat yang menemukan kenyamanan baru, melainkan potret bagaimana budaya kerja India membentuk cara orang hidup di rumah. House help menjadi penawar praktis, tetapi juga menutupi luka sistemik berupa jam kerja panjang dan ketimpangan upah.

Pertanyaannya bukan hanya apakah seseorang “butuh” bantuan rumah tangga, melainkan mengapa sebuah ekonomi membuat bantuan itu terasa wajib. Jika kemajuan diukur dari kemampuan bekerja lebih lama, kapan masyarakat diberi ruang untuk hidup lebih utuh.

Barangkali refleksi paling penting adalah ini: work-life balance tidak bisa diserahkan pada strategi individu, karena ia ditentukan oleh norma perusahaan dan kebijakan publik. Tanpa koreksi pada budaya kerja, kenyamanan sebagian orang akan terus dibayar oleh kelelahan banyak orang.

(Orbit dari berbagai sumber, 14 Agustus 2026)