Aipac dan Pemilu AS: Dukungan Jadi Beban di Demokrat

Financial Times

Financial Times

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Keyword Aipac mendadak jadi amunisi paling tajam dalam pemilihan pendahuluan Demokrat Michigan untuk kursi Senat AS. Baru tiga menit debat televisi, nama Aipac sudah disebut, seolah itulah garis pemisah utama antara dua kandidat.

Dalam debat, Abdul El-Sayed menuding Haley Stevens “dipegang” lobi pro-Israel dengan menyebut “$46 juta belanja Aipac” yang, menurutnya, dibuat untuk mengamankan suara Stevens di Senat. Stevens membantah dan menegaskan ia hanya bertanggung jawab pada warga Michigan, tetapi tudingan itu berpotensi menentukan pilihan pemilih pada hari pemungutan suara.

Aipac selama puluhan tahun dikenal sebagai organisasi lobi pro-Israel paling berpengaruh di Amerika Serikat, dan dulu dukungannya bisa mempercepat karier politik. Kini, di sejumlah kontestasi ketat, label “didukung Aipac” justru bisa menjadi beban elektoral yang memicu kecurigaan publik.

Gelombang kecaman atas tindakan Israel di Gaza, Tepi Barat, dan Lebanon memperkeras sorotan terhadap Aipac. Di mata sebagian pemilih, Aipac melambangkan pengaruh uang besar dan kelompok kepentingan khusus yang menekan arah kebijakan luar negeri AS.

Kritik juga datang dari kanan, terutama setelah Presiden Donald Trump melancarkan perang terhadap Iran pada Februari, yang oleh sebagian kubu Maga dianggap mengkhianati “America First”. Joe Kent, eks kepala kontra-terorisme pemerintahan Trump, menyatakan permusuhan itu terjadi “karena tekanan Israel dan lobi Amerika yang kuat”.

Di New York City, serangan politik terhadap kedekatan kandidat dengan Aipac terbukti efektif. Dalam primary antara Dan Goldman dan Brad Lander, Lander memanfaatkan fakta bahwa Goldman didukung Aipac untuk membangun narasi “penolakan uang besar”.

Setelah menang, Lander menyatakan pemilih “sudah muak” dengan kandidat yang mengambil uang dari Wall Street, kripto, AI, dan Aipac. Ia juga menyebut kampanye Israel di Gaza sebagai “genosida” dan menyerukan penghentian bantuan militer AS kepada Israel.

Dari sisi dana, Aipac bukan pemain kecil dan justru semakin masif. Organisasi ini disebut mengumpulkan lebih dari $47 juta pada siklus ini, sementara Super PAC terkaitnya, United Democracy Project (UDP), dilaporkan memiliki “daya tembak” $80,3 juta per 30 Juni.

UDP didukung miliarder seperti Paul Singer (Elliott Management) dan Marc Rowan (Apollo Global Management), memperkuat kesan bahwa kontestasi politik digerakkan oleh cek besar. Pada 2022, UDP menggelontorkan sekitar $26 juta, sering kali untuk melawan Demokrat yang dianggap kurang loyal pada Israel.

Namun, besarnya dana berhadapan dengan persepsi publik yang memburuk. Matt Bennett dari Third Way menilai Aipac “membuat keputusan strategis yang sangat buruk” yang berujung pada “toksisitas” di mata pemilih.

Perubahan sikap ini punya akar sejarah panjang. Pada era awal pasca-Holocaust, dukungan pada Israel bagi banyak liberal Amerika dipandang sebagai cara “bersikap pro-Yahudi” dan memperkuat rasa aman komunitas Yahudi, kata sejarawan Doug Rossinow.

Titik balik terjadi ketika pemerintah Israel makin bergeser ke kanan, sementara Aipac dinilai memberi dukungan nyaris tanpa syarat pada kebijakan keras terhadap Palestina. Retakan membesar saat Benjamin Netanyahu mengampanyekan penolakan terhadap kesepakatan nuklir Iran 2015 di era Barack Obama, yang memperlebar jarak dengan Demokrat.

Matt Duss, penasihat Bernie Sanders, menyebut Aipac “100 persen seirama” dengan pemerintahan Netanyahu. Ia menilai Aipac menegakkan definisi sempit tentang “pro-Israel”, dan karena itu menjadi “seperti NRA dalam kebijakan luar negeri”.

Setelah serangan Hamas 7 Oktober 2023 dan perang Gaza, permusuhan terhadap Aipac makin meluas. Artikel sumber menyebut perang itu menewaskan lebih dari 70.000 warga Palestina, disertai serangan Israel ke Lebanon dan keterlibatan dalam perang melawan Iran.

Tali deGroot dari J Street menilai posisi Aipac yang “Israel benar atau salah” sudah lama tidak sejalan dengan pemilih Demokrat dan bahkan komunitas Yahudi Amerika. Rahm Emanuel, tokoh Demokrat yang disebut berpeluang maju 2028, juga menyatakan Israel tak lagi bisa berharap bantuan tanpa syarat dari AS.

Dari kanan, nada kritik kadang melampaui batas dan bersinggungan dengan trope antisemit. Marjorie Taylor Greene mengklaim ia tersingkir karena tidak “tunduk” pada Aipac dan “Zionis” yang “mengontrol Washington DC”, pernyataan yang membuat sebagian komunitas Yahudi khawatir.

Gubernur Pennsylvania Josh Shapiro memperingatkan bahwa Aipac kadang dipakai sinis untuk membungkam suara tertentu, tetapi ia juga mengingatkan bahaya pelabelan yang membuat orang dianggap “toksik” dalam politik. Kekhawatiran ini penting karena kritik terhadap lobi dapat berubah menjadi teori konspirasi tentang “kabal” Yahudi yang mengendalikan negara.

Aipac membantah menjadi corong Netanyahu dan menegaskan misinya adalah memperkuat hubungan AS-Israel sebagai kebijakan Amerika. Juru bicara Deryn Sousa menyatakan hampir 7 juta orang menjadi anggota Aipac lintas usia, iman, dan afiliasi politik demi dukungan bipartisan.

Dalam praktik elektoral, Aipac mengklaim efektivitasnya masih tinggi. Sousa menyebut 188 kandidat yang didukung Aipac sudah menang pada siklus ini, dan komunitasnya membantu mengalahkan 14 kandidat “anti-Israel”.

Namun, ada sinyal bahwa uang besar tidak selalu membeli legitimasi. UDP pernah menghabiskan $2,3 juta untuk mengalahkan Tom Malinowski di New Jersey, dan Malinowski memang kalah, tetapi pemenangnya justru Analilia Mejia yang progresif dan menuduh Israel melakukan “genosida”.

Di sini, isu Aipac bertemu isu yang lebih luas: kejenuhan publik terhadap politik berbiaya raksasa. Basil Smikle dari Columbia University menyebut primary Lander-Goldman sebagai “referendum tentang uang besar”, bukan semata dolar pro-Israel, tetapi juga kripto dan AI.

Yang berubah bukan hanya citra Aipac, melainkan cara pemilih membaca kekuasaan. Dukungan Aipac kini dipersepsikan sebagai sinyal “utang politik”, sehingga kandidat yang menerimanya rentan dituduh menggadaikan independensi.

Di kubu Demokrat, Gaza menjadi ujian moral sekaligus ujian konsistensi nilai, dan Aipac sering ditempatkan sebagai simbol pihak yang menghambat kritik. Ini menjelaskan mengapa serangan terhadap Aipac bisa efektif bahkan ketika lawannya sama-sama “Zionis liberal” dan berbeda tipis dalam isu domestik.

Di kubu kanan, penolakan Aipac sering bertumpu pada kekecewaan “America First”, tetapi terlalu mudah tergelincir menjadi narasi kontrol rahasia yang berbahaya. Garis pemisahnya harus tegas: kritik pada lobi dan kebijakan boleh keras, tetapi tidak boleh menghidupkan kembali prasangka antisemit.

Ironinya, semakin Aipac mengandalkan Super PAC dan belanja iklan, semakin ia tampak seperti mesin politik yang menguatkan sinisme. Dalam era ketika pemilih makin alergi pada “big money”, kekuatan finansial bisa berubah menjadi bukti kesalahan, bukan tanda kredibilitas.

Pertarungan di Michigan menunjukkan satu hal: Aipac bukan lagi sekadar organisasi lobi, melainkan kata kunci yang memicu emosi, identitas, dan kecurigaan tentang siapa yang mengendalikan Washington. Ketika label “didukung Aipac” bisa menjadi “ciuman maut”, politik AS sedang memasuki fase baru yang lebih sensitif terhadap uang, perang, dan moralitas kebijakan luar negeri.

Pertanyaannya kini bukan hanya siapa yang menang primary, melainkan standar apa yang dipakai pemilih untuk menilai legitimasi dukungan politik. Jika uang besar terus mendominasi, apakah demokrasi akan menjadi arena persuasi, atau sekadar arena pembelian pengaruh yang makin ditolak publik?

(Orbit dari berbagai sumber, 15 Agustus 2026)