Erizal: Anies Baswedan yang Suka "Menunggangi" Peristiwa untuk Kepentingan Politiknya - Kali ini Karhutla

Cuplikan video Anies Baswedan.

Cuplikan video Anies Baswedan.

Opini

Oleh Erizal, kolumnis

ORBITINDONESIA.COM - Ketidaksukaan Ahok terhadap Anies Baswedan, yang mungkin tak termaafkan, kalau dulu---entah kalau sekarang---adalah kelakuan Anies yang suka "menunggangi" suatu peristiwa---kalau dulu demo umat Islam 212---untuk kepentingan politiknya.

Pengamat politik dari Charta Politika, Yunarto Wijaya, dulu juga mengatakan hal yang sama ketidaksukaan pada Anies karena itu secara terbuka.

Kalau sekarang, entahlah? Politik sudah berubah. Ahok pun mungkin sudah berubah.

Memang, politik sudah berubah, zaman sudah berganti. Tapi, yang namanya kelakuan politik seseorang, tidak mudah berubah secepat perubahan zaman dari pribadi seseorang itu.

Agaknya, kelakuan politik Anies yang suka "menunggangi" suatu peristiwa untuk kepentingan politiknya itu belum berubah. Terakhir, video khusus yang dibuatnya terkait kabut asap akibat Karhutla dari kantor Google lantai 30 di Singapura, saya kira, masih menunjukkan hal itu.

Seharusnya, orang sekelas Anies Baswedan tidak lagi mengomentari suatu peristiwa dengan cara membuat video singkat seperti "menunggangi" itu.

Kenapa harus dari Singapura di kantor Google lantai 30 untuk menunjukkan kabut asap akibat Karhutla di Kalimantan dan Sumatera itu?

Kalimatnya aneh pula. Kalau di Singapura saja kabut asap seperti ini, apalagi di tempat Karhutla itu sendiri berasal? Jangan sampai, kabut asap ini membunuh anak-anak kita secara perlahan, kata Anies mengakhiri videonya.

Harus diakui Anies Baswedan adalah orang pintar dan cerdas. Ia pasti sudah menghitung secara teliti apa yang ia lakukan. Sebelum membuat dan memposting video itu, pasti sudah ia timbang-timbang dan akhirnya, mempostingnya di akun pribadinya dengan like sampai saat ini sekitar 30 ribu.

Menurut saya, Anies hanya menghitung satu hal saja. Yakni, mempertahankan pendukungnya yang sudah ada. Ia tak menghitung sama sekali, pendukungnya akan bertambah atau tidak. Dan ini terlihat dari hampir semua hasil survei, yang menunjukkan elektabilitasnya yang stagnan.

Tak aneh memang, kalau demo umat 212 saja yang dikatakan Ahok dan Yunarto Wijaya saja ditunggangi Anies, apalagi sekadar Karhutla yang sudah terjadi berulang-ulang hampir di setiap pemerintahan, belakangan ini. Politik bisa berubah, tapi kelakuan politik belum tentu. Begitulah. ***