Trump Tolak Guardrails AI, Klaim Presiden Cerdas Cukup
ORBITINDONESIA.COM – Donald Trump menolak gagasan guardrails AI dan menyebut kontrol yang dibutuhkan hanyalah “PRESIDEN yang KUAT dan CERDAS (IQ tinggi)”. Ia juga mengisyaratkan pemerintah punya “kekuatan kriminal dan regulasi” untuk menindak perusahaan AI bila dinilai berbahaya.
Dalam unggahan Truth Social pada Senin, Trump menyebut kekhawatiran “AI mengambil alih dunia dan menghancurkan manusia” sebagai “HOAX”. Ia memposisikan AI sebagai mesin ekonomi terbesar dalam sejarah, bahkan lebih besar dari internet.
Trump juga menyerang narasi yang ia sebut “konspirasi sakit” terhadap AI dan pusat data, seraya menuding hanya China yang diuntungkan. Kalimat kuncinya tegas dan berulang: “Siapa pun yang menang AI, menang.”
Pernyataan itu muncul saat publik Amerika makin skeptis terhadap AI dan ekspansi data center. Jajak pendapat NBC News Decision Desk menyebut 70% orang dewasa lebih khawatir daripada bersemangat soal AI, dan 69% menolak pembangunan pusat data AI di wilayah mereka.
Di sisi industri, peringatan justru datang dari orang dalam yang membangun teknologi itu sendiri. CEO Anthropic Dario Amodei menulis esai pada Sabtu yang meminta perusahaan AI “memperlambat laju” pengembangan.
Gelombang kehati-hatian tidak berhenti di Anthropic. CEO OpenAI Sam Altman menyatakan perusahaannya akan mengadopsi salah satu pengaman yang diusulkan Amodei.
Ketegangan memuncak ketika peneliti Anthropic Jacob Coxon mengundurkan diri dan menulis bahwa OpenAI dan Anthropic “bertaruh dengan nyawa kita”. Seorang peneliti utama Anthropic, Evan Hubinger, bahkan menegaskan di X bahwa mereka “sungguh percaya AI bisa membunuh semua manusia.”
Respons politik pun terpecah antara percepatan dan penahanan. Pemimpin Minoritas Senat Chuck Schumer meminta briefing Senat dengan pejabat tinggi pemerintahan untuk membahas keselamatan AI.
Ketua DPR Mike Johnson mendorong pertemuan para pemimpin AI, tetapi menolak moratorium karena takut China menyalip. Argumen ini mengunci perdebatan pada logika perlombaan, bukan logika risiko.
Wakil Presiden JD Vance mengaku khawatir dengan peringatan para pemimpin AI, namun menekankan perlunya “mengatur dengan cerdas”. Ia juga curiga ketika perusahaan frontier AI “memohon” untuk diatur, dan menyebutnya terasa seperti “kuda Troya.”
Dari Beijing, peringatan para pemimpin teknologi AS dicibir sebagai “menakut-nakuti” ala “buku pedoman Perang Dingin” untuk melumpuhkan China. Balasan itu menunjukkan AI telah berubah menjadi bahasa baru persaingan geopolitik, bukan sekadar inovasi komersial.
Sikap Trump memperlihatkan pola klasik politik teknologi: menyederhanakan masalah kompleks menjadi soal kepemimpinan personal. Ketika “guardrails AI” dipersempit menjadi “IQ presiden”, risiko sistemik berubah menjadi slogan.
Namun, data publik menunjukkan jurang kepercayaan yang melebar. Jika 57% pemilih Republik pun menolak pusat data AI di wilayahnya, maka resistensi bukan sekadar isu partisan, melainkan pengalaman langsung warga soal dampak lokal.
Di titik ini, narasi “siapa menang AI menang” menjadi pedang bermata dua. Ia efektif memobilisasi investasi dan dukungan industri, tetapi juga bisa menekan ruang kehati-hatian dan audit keselamatan yang membutuhkan waktu.
Isyarat Trump tentang “kekuatan kriminal dan regulasi” juga mengandung ambiguitas. Itu bisa berarti penegakan hukum terhadap pelanggaran nyata, tetapi bisa pula menjadi alat tekanan politik terhadap perusahaan atau individu yang dianggap “negatif” atau “membocorkan.”
Yang paling mengganggu adalah kontras antara dua jenis alarm. Para peneliti AI berbicara tentang skenario kepunahan, sementara pemerintah berbicara tentang kemenangan atas China dan ledakan ekonomi.
Di tengah kontras itu, pertanyaan besarnya bukan sekadar apakah AI berbahaya. Pertanyaannya adalah siapa yang berhak mendefinisikan bahaya, dan standar bukti apa yang dipakai sebelum teknologi telanjur menjadi infrastruktur tak tergantikan.
Trump ingin dunia percaya bahwa AI tidak butuh pagar pengaman, hanya butuh presiden yang “kuat dan cerdas”. Tetapi publik yang gelisah dan para peneliti yang mundur menunjukkan sesuatu yang lebih mendasar: ketidakpastian belum dikelola, hanya diperdebatkan.
Jika AI benar menjadi mesin ekonomi terbesar, maka ia juga berpotensi menjadi mesin risiko terbesar ketika kegagalan terjadi pada skala nasional. Pada akhirnya, kemenangan AI yang paling penting mungkin bukan mengalahkan China, melainkan mengalahkan godaan untuk melaju tanpa rem.
Perenungannya sederhana dan tajam: ketika teknologi bergerak lebih cepat daripada demokrasi, siapa yang memastikan keselamatan tidak dikorbankan demi prestise? (Orbit dari berbagai sumber, 15 September 2026)