Smashing Pumpkins di Lollapalooza: Olivia Rodrigo dan Yungblud
ORBITINDONESIA.COM – Smashing Pumpkins di Lollapalooza seolah menghidupkan kembali era 1990-an, ketika Billy Corgan menghadirkan Olivia Rodrigo dan Yungblud sebagai tamu kejutan di depan lautan penonton Chicago. Kolaborasi lintas generasi ini bukan sekadar gimmick festival, melainkan pernyataan bahwa katalog alt-rock 90-an masih punya daya magnet di panggung pop masa kini.
Terjemahan artikel sumber: Pada penampilan Lollapalooza yang memukau, suasana seperti kembali ke era 90-an. Untuk menandai momen itu, Billy Corgan mengejutkan kerumunan besar di Chicago dengan menghadirkan tamu spesial Olivia Rodrigo dan Yungblud.
Kurang dari satu jam setelah set Yungblud yang berenergi tinggi, ia naik ke panggung bersama band untuk membawakan “Luna,” lagu penutup album studio kedua Smashing Pumpkins, Siamese Dream (1993). Yungblud melahap bait-bait euforis lagu itu dengan mudah saat Corgan mengiringi dengan gitar, keduanya berpakaian serba hitam, dari album yang meraih sertifikasi empat kali platinum itu.
Pada satu titik, Yungblud menyatakan, “Ini mimpi yang jadi kenyataan!” Tak lama setelah Yungblud turun panggung, Corgan mengumumkan kejutan lain, “Dan sekarang saya ingin menghadirkan tamu yang sangat, sangat spesial. Nona Olivia Rodrigo!”
Penonton bersorak saat Rodrigo muncul, atau mungkin seperti melayang, ke panggung dengan gaun baby doll tipis dan stoking setinggi lutut. Dengan Corgan beralih ke gitar akustik, Rodrigo menyanyikan “Thirty-Three” dari album Mellon Collie and the Infinite Sadness (1995) yang sempat memuncaki tangga lagu.
Pemandangan malam itu, ketika band dan Rodrigo diselimuti cahaya merah sementara hujan turun di atas penampilan yang terasa seperti mimpi, menjadi salah satu momen paling berkesan di festival sejauh ini. Sebelumnya dalam minggu yang sama, Smashing Pumpkins tampil di aftershow Lollapalooza dan menghadirkan aktor Barry Williams—Greg Brady dari The Brady Bunch—untuk menyanyikan hit keluarga sitkom era 70-an “It’s a Sunshine Day.”
Selain kolaborasi tak terduga itu, mantan bassis Hole (dan sempat menjadi anggota Smashing Pumpkins) Melissa Auf der Maur juga membawakan “The Everlasting Gaze” dari Machina/The Machines of God bersama band. Ia pernah membawakan lagu itu saat menjadi anggota tur grup pada tahun 2000.
Smashing Pumpkins memilih “Luna” (Siamese Dream, 1993) dan “Thirty-Three” (Mellon Collie and the Infinite Sadness, 1995) sebagai jembatan emosional, bukan sekadar hit paling aman. Dua lagu ini menonjolkan sisi melodius dan kontemplatif, sehingga cocok untuk kolaborator yang datang dari kultur pop-rock generasi baru.
Artikel sumber mencatat Siamese Dream sebagai album “empat kali platinum,” sebuah penanda bahwa warisan komersial Pumpkins bukan mitos nostalgia belaka. Ketika katalog sebesar itu dibawakan ulang di festival raksasa, yang dijual bukan hanya lagu, tetapi legitimasi sejarah di hadapan penonton yang mungkin lebih akrab dengan pop era streaming.
Yungblud menegaskan momen itu dengan kalimat, “This is a fucking dream come true!” yang menunjukkan posisi Pumpkins sebagai band rujukan, bukan sekadar senioritas. Di panggung, Corgan tidak mendominasi, melainkan mengiringi, sehingga kolaborasi terasa seperti pertukaran energi, bukan upacara penghormatan satu arah.
Masuknya Olivia Rodrigo memperkuat logika kurasi: ia datang dengan citra pop modern, namun dipasang pada lagu yang lebih sunyi dan puitik. Visual “cahaya merah” dan “hujan” yang disebut artikel memperlihatkan bagaimana festival mengemas nostalgia menjadi sinema, agar pengalaman itu mudah viral dan mudah diingat.
Rangkaian kejutan di aftershow—Barry Williams menyanyikan “It’s a Sunshine Day” dan Melissa Auf der Maur membawakan “The Everlasting Gaze”—membuat narasi Pumpkins melebar dari 90-an ke 70-an dan awal 2000-an. Ini strategi memperluas spektrum memori kolektif, sehingga band tampak hidup di banyak dekade sekaligus.
Di tengah industri yang sering mengulang masa lalu demi klik, kolaborasi Smashing Pumpkins di Lollapalooza justru menarik karena memilih lagu yang tidak sepenuhnya “paling populer.” Corgan seolah berkata bahwa warisan band bukan hanya daftar single, melainkan atmosfer, lirik, dan rasa yang bisa diwariskan lintas generasi.
Namun ada pertanyaan kritis: apakah nostalgia yang dikemas rapih ini memberi ruang bagi penemuan baru, atau hanya memperkuat siklus “masa lalu selalu lebih keren”? Ketika penonton bersorak untuk nama besar tamu, risiko yang muncul adalah lagu menjadi latar, sementara momen kejutan menjadi produk utama.
Meski begitu, pilihan Corgan untuk tampil akustik saat Rodrigo menyanyi memberi sinyal kerendahan ego artistik. Kolaborasi seperti ini bisa menjadi model yang sehat, jika tujuannya memperkenalkan katalog lama kepada pendengar baru tanpa mengorbankan kualitas musikalnya.
Smashing Pumpkins di Lollapalooza, dengan Olivia Rodrigo dan Yungblud, menunjukkan bahwa musik 90-an tidak sekadar bertahan, tetapi bisa dinegosiasikan ulang dengan bahasa panggung hari ini. Kejutan-kejutan itu mengubah festival menjadi ruang dialog antargenerasi, bukan museum yang memajang artefak.
Pertanyaannya kini: setelah sorak dan hujan reda, apakah pendengar baru akan kembali ke Siamese Dream dan Mellon Collie karena rasa ingin tahu, atau hanya mengingat potongan momen yang lewat di linimasa? Jika nostalgia bisa memicu pencarian yang lebih dalam, mungkin itulah cara paling jujur untuk merayakan masa lalu sambil tetap bergerak maju. (Orbit dari berbagai sumber, 14 Agustus 2026)