Menteri Kebudayaan Fadli Zon: Dari Selembar Prangko, Banyak Sejarah dan Cerita Bisa Digali

Menteri Fadli Zon di pameran Sriwijaya Philately Exhibition (Sriwijaya Phex) 2026.

Menteri Fadli Zon di pameran Sriwijaya Philately Exhibition (Sriwijaya Phex) 2026.

Culture

ORBITINDONESIA.COM — Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menyebut prangko bukan sekadar alat bayar pos masa lalu, melainkan media pembelajaran sarat ilmu pengetahuan yang relevan bagi generasi milenial dan Gen Z.

Menurutnya, prangko berfungsi sebagai penanda zaman yang merekam jejak tokoh, peristiwa sejarah, hingga fenomena alam.

Pernyataan tersebut disampaikan Fadli Zon saat membuka pameran Sriwijaya Philately Exhibition (Sriwijaya Phex) 2026 di Palembang Square Mall, Jumat, 11 September 2026. Agenda yang berlangsung hingga 13 September ini diselenggarakan bersamaan dengan Rapat Tahunan Nasional (RTN) Perkumpulan Penggerak Filatelis Indonesia (PFI).

“Dari satu prangko dan kartu pos, banyak cerita yang bisa digali dan diketahui. Prangko memotret peristiwa sejarah hingga bencana alam besar, seperti meletusnya Gunung Krakatau, termasuk ragam keindahan alam Indonesia,” ujar Fadli Zon yang juga menjabat sebagai Ketua Umum PP PFI.

Fadli menjelaskan bahwa filateli—hobi mengumpulkan prangko dan benda pos—dahulu dikenal sebagai kegemaran para raja dan pejabat negara. Hobi ini dinilai sangat bermanfaat untuk dikembangkan karena dapat memupuk ketelitian, memperluas wawasan, serta mempererat tali persahabatan antarnegara.

Mengenang masa lalu, ia menceritakan pengalamannya saat menempuh pendidikan di Amerika Serikat sebelum era internet dan ponsel pintar. Kala itu, surat yang ia kirimkan kepada sang ibu di Indonesia membutuhkan waktu pengiriman dua minggu dan dua minggu lagi untuk menerima balasan.

“Artinya, butuh waktu satu bulan lebih untuk menerima balasan surat. Sekarang melalui internet dan WhatsApp, kita bisa langsung berbincang saat itu juga,” kenangnya.

Meski kini berada di era digital, Fadli menilai ketertarikan masyarakat terhadap material fisik budaya seperti prangko justru mulai kembali meningkat. Selain menjadi hobi yang menyenangkan dan sering diperlombakan di tingkat internasional, filateli juga memiliki nilai ekonomi.

“Satu keping prangko ada yang berharga miliaran rupiah, tetapi ada juga yang sangat murah. Harga prangko sangat bergantung pada tingkat kelangkaannya di pasaran. Semakin langka, harganya tentu semakin mahal,” tuturnya.

Lebih lanjut, Fadli mengaitkan aktivitas filateli dengan penugasan Kementerian Kebudayaan dalam memajukan kebudayaan nasional berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 2017.

Menurutnya, 10 objek pemajuan kebudayaan—mulai dari tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, seni, hingga olahraga tradisional—banyak yang terdokumentasikan secara visual di atas selembar prangko.

Acara pembukaan Sriwijaya Phex 2026 turut dihadiri oleh Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru, Wali Kota Palembang Ratu Dewa, Sekjen PP PFI Mahpudi, Ketua PD PFI Sumsel Affan Prapanca, serta para ketua pengurus daerah PFI dari seluruh Indonesia. ***