Bo French dan Skandal Rasis Texas: Ujian Solidaritas Partai Republik

nytimes.com

nytimes.com

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Bo French, kandidat Texas Railroad Commission, mendadak jadi sorotan nasional setelah unggahan bernada rasis tentang mahasiswa University of Texas. Skandal rasis Texas ini mengguncang upaya Partai Republik Texas menjaga persatuan menjelang pemilu paruh waktu, sekaligus membuka celah bagi Demokrat.

Pada musim panas, Gubernur Texas Greg Abbott memotret para kandidat Republik sebagai simbol soliditas pascaprimer yang keras. Di foto itu ada Ken Paxton yang maju ke Senat AS, Dan Patrick sebagai wakil gubernur, dan Bo French yang tersenyum di belakang bahu kanan Abbott.

Saat itu, French belum dikenal luas di luar lingkar politik Texas. Ia maju untuk jabatan negara bagian yang mengatur minyak dan gas, namun rekam jejaknya dipenuhi pernyataan kebencian yang blak-blakan.

Akhir pekan lalu, French meledak ke panggung nasional karena alasan yang nyaris seluruhnya negatif. Ia menyerang mahasiswa University of Texas yang sedang merayakan kemenangan comeback tim sepak bola mereka.

Dalam salah satu unggahan, French menyebut mahasiswa Asia Selatan sebagai “orang asing” yang telah “menggeser” warga Amerika di kampus unggulan negara bagian. Ia membantah unggahannya rasis, lalu menyalahkan Republikan yang tidak sepenuhnya mendukung pesannya.

Unggahan itu memukul lebih keras dibanding komentar anti-imigran dan anti-Muslim yang pernah ia lontarkan sebelumnya. Dampaknya menguji kemauan Partai Republik Texas untuk mengkritik kader sendiri, ketika pemungutan suara tinggal beberapa pekan.

Reaksi elite Republik terbelah, dan itu memberi ruang bagi French untuk menggandakan serangan. Ketua DPR Texas Dustin Burrows meminta French menghapus unggahan, sementara Senator John Cornyn mendesak partai mengecam “intoleransi dan rasisme” French.

Di tingkat nasional, Karl Rove dilaporkan mengatakan akan memilih Demokrat untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade karena insiden ini. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa isu rasisme kini menggerus disiplin koalisi konservatif yang biasanya rapat.

Abbott menegur retorika memecah-belah French, tetapi dalam pernyataan yang sama tetap menegaskan dukungan pada “hukum imigrasi paling keras” di Amerika. Pesan ganda ini menandakan partai ingin mengutuk gaya, bukan substansi, agar basis tidak merasa dikhianati.

Berbeda dengan itu, Dan Patrick yang sebelumnya pernah menyerukan pengunduran diri French justru diam dan tidak berkomentar. Keheningan ini penting, karena diam dari pemimpin sering dibaca sebagai kalkulasi elektoral, bukan penilaian moral.

Nate Sheets, kandidat komisaris pertanian, menambah lapisan problem dengan menyebut maraknya masjid dan kuil Hindu “membuat orang frustrasi.” Ia mengkritik komunitas imigran yang menurutnya tidak berasimilasi, sambil mengakui tidak suka cara French mengartikulasikan pesan itu.

Di sinilah skandal rasis Texas berubah menjadi soal struktur insentif politik, bukan sekadar satu unggahan. Jika banyak kandidat sepakat pada “sentimen” tetapi menolak “diksi”, maka rasisme diperlakukan sebagai masalah PR, bukan masalah nilai.

French juga bukan orang baru dalam kontroversi. Musim panas lalu ia menuai kecaman setelah membuat polling yang mempertanyakan apakah Yahudi atau Muslim ancaman lebih besar bagi Amerika, lalu menghapusnya dan menolak mundur dari ketua Partai Republik di Tarrant County.

Setelah memenangi nominasi untuk Texas Railroad Commission, gaya agresifnya tidak mereda. Dalam setahun terakhir ia menyebut pendukung hak transgender atau kewarganegaraan berdasarkan kelahiran dengan istilah menghina, menyebut penduduk asli Amerika “biadab dunia ketiga,” dan mengatakan ingin “mencabut naturalisasi dan mendeportasi” semua Muslim.

Menariknya, para petinggi Republik Texas tidak merespons unggahan-unggahan lama itu sekeras respons mereka terhadap serangan pada mahasiswa UT. Ini mengisyaratkan bahwa yang memicu alarm bukan hanya kebencian, melainkan risiko elektabilitas ketika kamera publik menyorot.

Demokrat melihat peluang langka untuk merebut jabatan negara bagian, sesuatu yang tidak mereka menangi selama lebih dari 30 tahun. Ketua Partai Demokrat Texas Kendall Scudder mengatakan ada kandidat Republik yang begitu di luar arus utama sehingga membuka kesempatan yang setahun lalu “mungkin tampak mustahil.”

Survei terbaru disebut menunjukkan French unggul tipis atas penantangnya, Jon Rosenthal. Tipisnya margin berarti setiap gelombang kontroversi berpotensi mengubah hasil, terutama pada pemilih pinggiran yang sensitif pada isu rasisme dan stabilitas.

Rosenthal mengaku menerima puluhan ancaman pembunuhan dari pendukung French, termasuk serangan antisemit karena ia Yahudi. Ketika ditanya soal antisemitisme itu, French justru mengatakan Rosenthal “tidak mempraktikkan Yahudi,” yang kemudian dibalas Rosenthal dengan penolakan keras.

Selain French, Demokrat juga menilai Don Huffines rentan, seorang garis keras anti-imigran yang pernah menantang Abbott dari kanan. Huffines, yang disebut ditunjuk Abbott sebagai comptroller setelah primer, tidak berkomentar, dan lawannya Sarah Eckhardt menilai diam itu sebagai persetujuan terselubung.

Kasus Bo French menunjukkan bagaimana politik identitas dapat dipakai sebagai bahan bakar kampanye, lalu dibungkus sebagai “kekhawatiran imigrasi.” Ketika kata-kata menyasar mahasiswa yang sedang merayakan pertandingan, yang diserang sebenarnya bukan kebijakan, melainkan keberadaan.

Partai Republik Texas tampak ingin memisahkan “retorika rasis” dari “agenda keras” agar tetap menjaga basis. Namun publik sering membaca pola, dan pola itu adalah normalisasi: sentimen dipertahankan, hanya gaya yang ditegur.

Bagi Demokrat, peluang terbesar bukan sekadar memenangi satu kursi, melainkan memaksa perdebatan publik bergeser dari ketakutan ke akuntabilitas. Jika kandidat ekstrem menjadi wajah tiket partai, maka pemilih moderat bisa memilih stabilitas, bukan kemarahan.

Skandal rasis Texas ini bukan hanya soal unggahan di X, melainkan ujian apakah sebuah partai mampu menarik garis tegas terhadap kebencian yang menguntungkan secara elektoral. Ketika kecaman datang terlambat dan setengah hati, kebencian belajar bahwa ia masih punya ruang.

Pertanyaannya kini sederhana namun menentukan: apakah pemilih Texas akan menghukum politik yang merendahkan manusia sebagai “orang asing,” atau justru menganggapnya bagian wajar dari kompetisi kekuasaan. Jawaban itu akan membentuk bukan hanya hasil pemilu, tetapi juga batas moral ruang publik di Texas. (Orbit dari berbagai sumber, 17 September 2026)