Puisi Rapi Pradipta: Ketika Penghargaan Tak Lagi Sekadar Menghargai
Oleh Rapi Pradipta
ORBITINDONESIA.COM - Penghargaan memang indah, seperti lampu panggung yang jatuh lembut, pada nama yang dipanggil dengan tepuk tangan.
Namun di balik gemerlapnya, ada tanya yang lirih.
"Siapa yang benar-benar pantas, dan siapa yang hanya kebetulan terlihat?"
Sebab sorotan sering memilih wajah, bukan perjalanan.
Memilih popularitas,
bukan keikhlasan.
Di meja penilaian,
tak selalu tampak jelas
benang-benang keadilan.
Kadang kriterianya kabur,
sehalus asap dari panggung acara.
Lalu bagaimana dengan mereka
yang berjalan sendiri di ujung peta,
yang bekerja tanpa kamera,
yang jasa-jasanya hanya disaksikan
oleh matahari dan debu jalanan?
Mereka yang tak pernah menuntut panggung,
namun setiap langkahnya
adalah puisi pengabdian.
Andai penghargaan punya mata yang lebih tajam, mungkin ia akan melihat,
bahwa cahaya tak selalu datang dari pusat kota.
Kadang ia berpendar diam-diam
di pelosok yang nyaris dilupakan.
Guru yang berjalan berjam-jam ke sekolah.
Tenaga kesehatan yang bertugas di ujung peta.
Relawan yang bekerja tanpa gaji dan tanpa kamera.
Mereka jarang masuk nominasi… bukan karena kurang layak, tapi karena tidak terlihat.
Mungkin sudah saatnya kita bertanya.
Apakah penghargaan dibuat untuk keteladanan?
atau untuk menjaga gemerlap sebuah acara?
Tidak ada yang salah dengan penghargaan.
Yang keliru adalah ketika penghargaan tidak lagi menjadi wujud penghargaan, melainkan sekadar pertunjukan.
Mari kembali melihat mereka yang bekerja dalam diam. Karena diam tidak berarti tidak berdampak.
Juni 2026
*Rapi Pradipta, pendidik dan penulis buku Lawang Uma. ***