Kasus D4vd: Bukti Cukup, Sidang Pembunuhan Celeste Rivas Hernandez

AP News

AP News

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Kasus D4vd memasuki babak baru setelah hakim Los Angeles menyatakan bukti cukup untuk mengadili sang penyanyi indie-pop atas pembunuhan dan mutilasi Celeste Rivas Hernandez, 14 tahun. Jaksa membeberkan teks terakhir korban, termasuk ancaman yang disebut bisa “menghancurkan karier” D4vd menjelang rilis album debutnya.

LOS ANGELES (AP) — Seorang hakim pada Senin memutuskan ada cukup bukti untuk membawa D4vd ke persidangan atas pembunuhan dan pemotongan tubuh Celeste Rivas Hernandez yang berusia 14 tahun. Otoritas menyebut korban mengancam akan membongkar hubungan mereka dan menjatuhkan karier sang penyanyi indie-pop beberapa hari sebelum album debutnya rilis.

Dalam satu pesan teks pada malam sebelum kematiannya, korban menulis, “i will end ur career and ur life.” Hakim Charlaine Olmedo menilai sidang pendahuluan menghadirkan dasar “probable cause” untuk dakwaan pembunuhan, pelecehan seksual berkelanjutan terhadap anak di bawah 14 tahun, dan mutilasi jenazah secara melawan hukum.

Selama lima hari, ruang sidang dipenuhi detail yang gelap dan mengganggu, mulai dari foto otopsi hingga uraian eksplisit tentang dugaan kekerasan seksual. Jaksa juga menampilkan potret tegas pesan terakhir korban beberapa menit sebelum ponselnya “diam selamanya.”

Putusan ini menjadi langkah besar dalam penyelidikan dan penuntutan 10 bulan terhadap D4vd, yang bernama hukum David Burke dan kini berusia 21 tahun. Kasus bermula ketika tubuh seorang anak perempuan yang terpotong-potong dan membusuk ditemukan di bagasi Tesla miliknya di Hollywood Hills pada September, saat ia sedang tur.

D4vd, menurut laporan, tidak menunjukkan emosi ketika putusan dibacakan. Ia memandang tenang dari balik kacamata dan baju tahanan oranye, sementara hakim memerintahkan ia tetap ditahan tanpa jaminan.

Burke mengajukan pembelaan tidak bersalah. Tim pengacara menyebut bukti pembunuhan belum cukup, namun tidak menentang dua dakwaan lain dalam tahap itu.

Jaksa menilai bukti “sangat kuat.” Deputi Jaksa Wilayah Beth Silverman mengatakan, “Based on the mountains of evidence presented, all of the allegations have been proved way beyond the standard required.”

Jaksa Wilayah Los Angeles Nathan Hochman menyebut yang ditampilkan di sidang pendahuluan baru “sebagian kecil” dari bukti yang mereka miliki. Mereka juga masih menimbang tuntutan hukuman mati, karena hakim menemukan dasar untuk “special circumstances” seperti menunggu korban (lying in wait), motif keuntungan finansial, dan membunuh saksi potensial.

Arraignment dijadwalkan pada 31 Agustus, dan persidangan bisa dimulai 60 hari setelahnya. Ini menandai fase baru: dari narasi penyelidikan menuju uji pembuktian penuh di hadapan juri.

Jaksa memaparkan kronologi menit demi menit pada malam terakhir Celeste. Sekitar pukul 22.00 pada 23 April 2025, ia menuju rumah Burke di Hollywood dengan Uber yang dipesankan Burke, lalu mengirim teks terakhir: “girly pop i’m almost there open ur door if ur home.”

Jaksa menuduh Burke menikamnya hingga tewas ketika korban masuk dari pintu. Malam sebelumnya, mereka bertengkar via teks terkait hubungan Burke dengan seorang perempuan, dan korban mengirim pesan marah serta penuh makian yang berisi ancaman.

Jaksa juga menyatakan Burke bertemu korban saat ia berusia 11 tahun, lalu mulai melakukan pelecehan seksual ketika korban berusia 13 tahun dan Burke 18 tahun. Mereka mengklaim ada percakapan setahun sebelum kematian tentang kehamilan dan aborsi, yang memperkuat dugaan relasi seksual yang melanggar hukum.

Di sidang, jaksa memperkenalkan foto keduanya berciuman dan berbaring di tempat tidur. Foto itu juga menunjukkan tato “David” berwarna merah pada salah satu jari korban, yang disebut termasuk jari yang terpotong saat jasad ditemukan.

Jaksa mengatakan mereka memiliki catatan pemesanan gergaji mesin dan kolam plastik yang diduga dipakai untuk memutilasi tubuh korban di garasi. Mereka juga menyebut DNA korban ditemukan pada noda darah di lokasi itu.

Setelahnya, menurut jaksa, Burke mengemudi selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan dengan jasad di bagasi. Tesla yang tampak ditinggalkan kemudian diderek dari Hollywood Hills, dan temuan itu memicu rangkaian bukti forensik serta penetapan tersangka.

Pembela menekan unsur “malice” sebagai syarat pembunuhan. Pengacara Marilyn Bednarski berkata, “There’s no evidence that Mr. Burke harbored a deliberate intent to kill Miss Hernandez,” dan menyebut komunikasi mereka tidak menunjukkan sejarah kekerasan.

Pembela juga mempertanyakan kesimpulan pemeriksa medis yang menyatakan kematian korban adalah pembunuhan akibat dua luka tusuk, dengan menilai temuan itu terlalu samar. Mereka tidak wajib menawarkan teori alternatif, namun strategi ini berisiko tampak seperti sekadar mengaburkan inti bukti.

Di sisi lain, pembela menegaskan korban beberapa kali meminta bertemu dalam hari-hari sebelum kematian, dan Burke baru setuju setelah didesak. Mereka juga menyebut korban pernah mengancam akan membunuh dan memutilasi Burke, sebuah poin yang berpotensi dipakai untuk membangun narasi konflik dan ketakutan.

Silverman membalas bahwa pembela berulang kali mencoba “mengotori korban,” padahal korban adalah anak. Ketegangan ini memperlihatkan dilema klasik ruang sidang: hak terdakwa untuk membela diri berhadapan dengan risiko reviktimisasi korban anak.

Detektif Farrell, di bawah pertanyaan pembela, menyebut orang tua Burke dan korban mengetahui hubungan mereka. Ia juga menyatakan Burke pernah beribadah di gereja bersama keluarga korban, dan orang tua korban memberi izin korban pergi ke London bersama Burke selama seminggu.

Pengacara keluarga korban, Patrick Steinfeld, mengatakan keluarga “ngeri” karena pembela menghadirkan bukti yang dianggap menyalahkan anak 14 tahun. Orang tua korban duduk di barisan depan, namun keluar saat bagian paling grafis, dan ibunya menangis ketika kesaksian seksual dipaparkan.

Kasus D4vd menyorot dua kenyataan yang sering berjalan paralel: budaya selebritas yang memuja “bakat muda,” dan kerentanan anak yang mudah terserap ke relasi kuasa yang timpang. Ketika ketenaran bertemu relasi rahasia, ancaman “membongkar” dapat berubah menjadi pemicu panik, terutama jika yang dipertaruhkan adalah karier bernilai jutaan dolar.

Di sini, bukti digital menjadi semacam saksi bisu paling keras. Teks ancaman, pesan terakhir, foto, dan catatan belanja alat bukan sekadar detail, melainkan jalur yang menghubungkan motif, kesempatan, dan tindakan, meski semuanya tetap harus diuji di persidangan.

Namun ada sisi yang lebih getir: normalisasi lingkungan sekitar terhadap relasi yang melibatkan anak. Jika benar orang dewasa di sekeliling mengetahui dan membiarkan, maka problemnya tidak berhenti pada terdakwa, melainkan merembet ke kegagalan perlindungan anak di level keluarga, komunitas, dan sistem.

Karier D4vd yang melesat menambah lapisan ironi. Ia dikenal luas lewat “Romantic Homicide” (2022) yang menembus lebih dari satu miliar pemutaran di Spotify, lalu tampil di Coachella 2024 dan merilis album penuh “Withered” dua hari setelah kematian yang dituduhkan jaksa.

Publik kerap terjebak pada dua ekstrem: mengultuskan idola atau menghakimi sebelum vonis. Sikap yang lebih jernih adalah menahan diri dari kepastian palsu, sambil tetap menuntut akuntabilitas penuh bila bukti memang menunjukkan kekerasan, eksploitasi, dan pembunuhan terhadap anak.

Putusan hakim bahwa bukti cukup untuk mengadili D4vd bukanlah akhir, melainkan awal dari pengujian paling ketat atas narasi jaksa dan bantahan pembela. Persidangan nanti akan menentukan apakah rangkaian teks, forensik, dan kronologi itu membentuk kebenaran hukum yang tak terbantahkan.

Di luar ruang sidang, kasus ini meninggalkan pertanyaan yang lebih luas: bagaimana anak bisa berada begitu dekat dengan relasi berisiko, sementara orang dewasa di sekelilingnya tampak mengetahui. Jika sistem perlindungan gagal pada tahap paling dini, maka tragedi seperti ini bukan sekadar “kasus kriminal,” melainkan cermin sosial yang menuntut koreksi bersama.

(Orbit dari berbagai sumber, 9 Agustus 2026)