Lengan Spiral Bima Sakti Lebih Jauh, Massa Galaksi Dipertanyakan
ORBITINDONESIA.COM – Dua lengan spiral raksasa Bima Sakti ternyata lebih jauh dari perkiraan, setelah ilmuwan “mendengar” gema ledakan kosmik gamma-ray burst (GRB). Temuan ini membuka kemungkinan bahwa massa galaksi dan bahkan bentuk Bima Sakti perlu dihitung ulang, karena perubahan kecil jarak dapat menggeser peta besar lingkungan kosmik kita. (Orbit dari berbagai sumber, 18 Juli 2026)
Bima Sakti adalah galaksi spiral berbatang dengan pusat padat yang menampung lubang hitam supermasif Sagittarius A*. Empat lengan utamanya—Sagittarius, Scutum-Centaurus, Perseus, dan Outer—membentang seperti kincir, tempat sebagian besar bintang dan gas berkumpul. (Orbit dari berbagai sumber, 18 Juli 2026)
Selama ini ukuran lengan spiral diperkirakan lewat laju rotasi galaksi, karena kita tidak bisa memotret Bima Sakti dari luar. Dari pendekatan itu, ukuran galaksi sering disebut sekitar 100.000 tahun cahaya dan massanya kira-kira setara 1,5 triliun Matahari menurut NASA. (Orbit dari berbagai sumber, 18 Juli 2026)
Masalahnya, pemodelan tidak langsung menyisakan ketidakpastian yang menumpuk, terutama di wilayah terluar. Beatrice Vaia dari Institut Nasional Astrofisika Italia menegaskan bahwa semakin jauh dari pusat galaksi, semakin rapuh ketelitian pengukuran. (Orbit dari berbagai sumber, 18 Juli 2026)
Studi yang terbit 19 Juni di Astronomy and Astrophysics menawarkan cara ukur baru dengan memanfaatkan GRB, ledakan paling kuat dan terang di alam semesta. Saat sinar-X GRB melewati awan gas padat, terbentuk cincin cahaya atau “gema” yang ukurannya berkorelasi dengan jarak awan tersebut dari Bumi. (Orbit dari berbagai sumber, 18 Juli 2026)
Tim menggunakan data dari Chandra X-ray Observatory milik NASA dan XMM-Newton milik European Space Agency yang sama-sama mengorbit Bumi. Mereka menganalisis gema dari tiga GRB yang menembus awan gas di lengan Perseus, Outer, dan Scutum-Centaurus. (Orbit dari berbagai sumber, 18 Juli 2026)
Hasilnya, lengan Outer dan Scutum-Centaurus diduga sekitar 10% lebih jauh dari yang selama ini diyakini, setara beberapa ribu tahun cahaya. Angka 10% tampak kecil di atas kertas, tetapi pada skala galaksi, ia dapat menggeser batas “peta” yang dipakai untuk menaksir ukuran dan massa Bima Sakti. (Orbit dari berbagai sumber, 18 Juli 2026)
Ilaria Fornasiero dari Universitas Bologna menekankan bahwa revisi jarak ini penting karena menjadi dasar pemahaman galaksi. Ia memberi contoh, jika lengan-lengan membentang lebih lebar, astronom mungkin harus meninjau ulang estimasi massa galaksi, karena massa memengaruhi seberapa jauh struktur spiral dapat “ditarik” oleh gravitasi. (Orbit dari berbagai sumber, 18 Juli 2026)
Visualisasi yang dirilis bersama makalah menunjukkan Bima Sakti bisa tampak lebih mirip cangkang siput yang tidak simetris ketimbang spiral yang seimbang. Namun, gambaran itu belum final karena lengan Sagittarius dan struktur minor lain belum diukur dengan metode yang sama. (Orbit dari berbagai sumber, 18 Juli 2026)
Yang menarik, lengan Perseus tidak tampak sejauh dua lengan lain yang “disorot” GRB, sehingga muncul petunjuk asimetri yang sulit dijelaskan. Ini membuka pertanyaan apakah ketidakrataan itu berasal dari sejarah interaksi gravitasi, distribusi materi gelap, atau bias pengukuran lama yang selama ini diterima sebagai standar. (Orbit dari berbagai sumber, 18 Juli 2026)
Metode GRB juga menyimpan keterbatasan praktis yang serius, karena ilmuwan bergantung pada alam semesta untuk “menyediakan” ledakan yang kebetulan melintas di garis pandang yang tepat. Andrea Tiengo dari Scuola Universitaria Superiore Pavia menyebut bahwa dalam lebih dari 25 tahun, hanya segelintir GRB yang bisa dipakai untuk pemetaan seperti ini. (Orbit dari berbagai sumber, 18 Juli 2026)
Temuan ini mengingatkan bahwa peta Bima Sakti yang sering kita lihat adalah kompromi antara teori, statistik, dan keterbatasan posisi kita yang terkurung di dalamnya. Ketika dua lengan spiral saja bisa bergeser beberapa ribu tahun cahaya, maka “kepastian” tentang ukuran dan massa galaksi seharusnya diperlakukan sebagai angka kerja, bukan dogma. (Orbit dari berbagai sumber, 18 Juli 2026)
Di sisi lain, kita perlu menahan godaan untuk menyimpulkan bentuk galaksi secara dramatis hanya dari tiga peristiwa GRB. Sains yang baik bergerak lewat akumulasi bukti, dan di sini bukti masih jarang, meski kualitasnya kuat karena memanfaatkan observatorium sinar-X kelas dunia. (Orbit dari berbagai sumber, 18 Juli 2026)
Yang paling tajam dari kabar ini bukan sekadar “Bima Sakti lebih besar,” melainkan perubahan cara mengukur yang mengurangi ketergantungan pada model rotasi semata. Jika metode gema GRB dapat diperbanyak, ia berpotensi menjadi alat kalibrasi baru untuk merapikan peta galaksi, termasuk menguji asumsi tentang distribusi massa dan peran materi gelap. (Orbit dari berbagai sumber, 18 Juli 2026)
Bima Sakti mungkin tidak berubah, tetapi cara kita memahaminya sedang bergeser, pelan namun bermakna, beberapa ribu tahun cahaya sekali langkah. Perburuan GRB berikutnya akan menentukan apakah asimetri ini nyata atau hanya bayangan dari data yang belum lengkap. (Orbit dari berbagai sumber, 18 Juli 2026)
Pada akhirnya, pelajaran terbesar datang dari keterbatasan perspektif: kita memetakan rumah sendiri dari dalam, dengan kilatan ledakan jauh sebagai senter sesaat. Jika dua lengan spiral saja bisa “pindah tempat” dalam peta kita, berapa banyak lagi hal mendasar tentang galaksi yang masih menunggu untuk dikoreksi? (Orbit dari berbagai sumber, 18 Juli 2026)