Tumor Prolaktinoma dan Infertilitas Usai Melahirkan: Kisah Lisa Fasone
ORBITINDONESIA.COM – Tumor prolaktinoma dan infertilitas pascamelahirkan mendadak menjadi kenyataan bagi Lisa Fasone, ibu 32 tahun yang semula mengira keluhannya hanya efek menyusui dan perubahan hormon. Ia berkeringat malam, sakit kepala, tak kunjung haid, dan upaya hamil anak kedua selalu gagal, sampai akhirnya diagnosis mengubah seluruh rencana hidupnya.
Lisa Fasone dan pasangannya sejak awal bermimpi memiliki dua anak. Saat Fasone hamil pada 2021, semuanya terasa berjalan sesuai rencana, lalu putri pertama mereka lahir pada Februari 2022.
Namun setelah menjadi keluarga bertiga, Fasone mengalami gejala pascapersalinan yang menetap, seperti keringat malam dan sakit kepala. Ia mengira itu dampak menyusui dan perubahan hormonal, sementara menstruasi tak kembali dan upaya hamil lagi selalu gagal.
Menjelang ulang tahun kedua anaknya, kekhawatiran berubah menjadi desakan untuk mencari jawaban. “Sudah setahun sejak saya berhenti menyusui, dan saya masih merasa sangat buruk,” kata Fasone, menegaskan ada sesuatu yang tidak beres.
Ia mendatangi dokter kandungan, lalu pemeriksaan menunjukkan kadar prolaktin meningkat. Prolaktin adalah hormon dari kelenjar pituitari yang memengaruhi kesuburan dan produksi ASI, dan biasanya berubah saat hamil lalu kembali normal.
Tetapi pada Fasone, kadar itu tak kunjung turun, dan tim medis menemukan tumor jinak kecil bernama prolaktinoma pada kelenjar pituitari. Tumor ini memproduksi hormon berlebih dan memicu gejala yang mengganggu hidupnya.
Neurosurgeon Northwestern University, Dr. Stephen McGill, menyebut operasi untuk tumor seperti ini jarang dilakukan. Umumnya, prolaktinoma ditangani dengan obat oral yang biasanya membuat tumor “mencair dengan sendirinya.”
Fasone memulai obat, tetapi efek sampingnya berat, termasuk pusing parah. Yang paling menyakitkan, ia tidak bisa mencoba hamil karena obat itu tidak aman untuk kehamilan, sementara prolaktin tinggi juga membuat pembuahan sangat sulit.
Di titik ini, “infertilitas” tidak lagi sekadar istilah medis, melainkan pengalaman sosial dan psikologis. Fasone mengaku melihat putrinya bermain sendiri dan takut skenario terburuk, yaitu keluarga yang berhenti di satu anak.
Setelah satu tahun terapi, hasil pemindaian justru menunjukkan tumor membesar, bukan mengecil. Ukurannya menjadi sebesar kacang polong, bertengger di atas kelenjar yang hanya sebesar blueberry, sebuah perbandingan yang menegaskan betapa sempitnya ruang aman di kepala manusia.
Pembesaran tumor, efek samping obat, dan isu kesuburan membuat operasi menjadi opsi, kata McGill. Tetapi operasi pituitari membawa risiko komplikasi pada kelenjar, termasuk masalah kesuburan lanjutan.
Keputusan Fasone memperlihatkan dilema yang sering luput dalam narasi kesehatan reproduksi. Pasien bukan hanya mengejar “angka hormon normal,” melainkan mengejar masa depan yang dapat ia rencanakan tanpa ketakutan harian.
Ia memilih operasi karena peluang “sembuh total” dan hidup tanpa obat. “Saya merasa tidak punya pilihan… kalau ingin hidup normal dan menyelesaikan keluarga, ini yang harus saya lakukan,” ujar Fasone.
Operasi minimal invasif melalui hidung dilakukan pada April 2025. Keesokan harinya, kabar baik datang: kadar prolaktinnya “turun sepenuhnya ke normal” setelah tumor diangkat.
Tiga puluh hari kemudian, ia mengalami menstruasi pertama sejak hamil anak pertamanya hampir empat tahun sebelumnya. Secara biologis, itu sinyal pemulihan sumbu hormon yang selama ini terkunci.
Namun beberapa minggu setelahnya, skrining menunjukkan prolaktin naik lagi, dan Fasone terpukul. Ia mengira sel tumor tersisa dan masalahnya kembali, sebuah ketakutan yang wajar karena kekambuhan selalu menjadi bayang-bayang.
Ternyata penyebabnya justru mengejutkan dan menggembirakan: ia hamil anak kedua yang lama dinantikan. “Saya shock… saya seperti trauma oleh seluruh prosesnya, tapi ini sangat menggembirakan,” kata Fasone.
Fasone melahirkan putri kedua pada Februari 2026, dan kehamilannya disebut berjalan tipikal oleh McGill. Kadar prolaktinnya kembali normal, ia dapat menyusui, dan anak pertamanya senang menjadi kakak.
Kasus ini menegaskan satu pelajaran klinis yang penting bagi publik: gejala pascapersalinan yang berkepanjangan tidak selalu “normal.” Keringat malam, sakit kepala, amenore, dan infertilitas pascamelahirkan bisa menjadi alarm gangguan endokrin yang memerlukan evaluasi.
Dari sudut pandang layanan kesehatan, cerita ini menyorot nilai tindak lanjut dan keberanian mengubah strategi. Ketika terapi standar gagal dan kualitas hidup runtuh, pendekatan yang lebih agresif bisa menjadi pintu pemulihan, meski risikonya nyata.
Ada kecenderungan budaya untuk mengecilkan keluhan ibu baru sebagai “fase hormon” yang akan lewat. Cara pandang ini berbahaya karena menunda diagnosis, dan menempatkan beban pembuktian pada pasien yang sudah kelelahan.
Fasone sendiri sempat mengabaikan sinyal tubuhnya, bukan karena abai, melainkan karena narasi umum yang menyuruh perempuan “bertahan saja.” Ketika ia berkata “saya menginjak rem dan menegaskan,” itu adalah tindakan politik kecil atas tubuhnya sendiri.
Kisah ini juga memotret bagaimana fertilitas sering diperlakukan sebagai bonus, bukan bagian dari kesehatan. Padahal bagi banyak keluarga, kemampuan merencanakan anak adalah pusat identitas dan stabilitas emosional, sehingga gangguan hormon menjadi krisis eksistensial.
Di sisi lain, cerita Fasone mengingatkan kita agar tidak meromantisasi operasi sebagai jalan heroik. Keputusan medis idealnya lahir dari informasi lengkap, akses dokter yang kompeten, dan ruang diskusi yang tidak menghakimi, sesuatu yang tidak selalu dimiliki semua pasien.
Ketimpangan akses inilah yang perlu dibicarakan lebih keras. Jika pemeriksaan hormon, MRI, dan konsultasi endokrin sulit dijangkau, maka banyak prolaktinoma bisa tetap tersembunyi di balik label “postpartum biasa.”
Setelah melewati operasi otak, Fasone kembali bekerja dan bahkan meraih gelar doktor medical science. Ia mengatakan kini ingin lebih sedikit waktu di ruang dokter, dan lebih banyak waktu menjalani keluarga yang akhirnya lengkap.
McGill dan ahli endokrin akan memantau prolaktin secara berkala, serta MRI tahunan selama lima tahun, lalu jaraknya diperlebar. Pengawasan ini mengingatkan bahwa “sembuh” sering berarti “terkendali dan terpantau,” bukan sekadar selesai sekali tindakan.
Yang paling menggugah adalah cara Fasone menoleh ke belakang dan menyadari jarak satu tahun dapat mengubah segalanya, dari menjadwalkan operasi otak menjadi menggendong bayi baru. Pertanyaannya bagi kita: berapa banyak orang tua baru yang masih menderita diam-diam, karena kita terlalu cepat menyebut gejala mereka sebagai hal yang wajar?
(Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)