Buku DIALOG Karina Rasmita: Kekuatan Tenang dan Self Awareness

putraindonews.com

putraindonews.com

Culture

ORBITINDONESIA.COM – Buku DIALOG karya Karina Rasmita Sembiring hadir saat isu kesehatan mental dan self awareness makin dicari, terutama oleh perempuan yang lelah bertahan dalam kebisingan sosial. Ia menawarkan kekuatan yang tidak meledak-ledak, tetapi bertumbuh dari ketenangan dan kendali diri.

Di ruang digital yang serba cepat, banyak orang terdorong tampil kuat, produktif, dan “baik-baik saja” setiap waktu. Tekanan itu sering membuat proses memahami emosi sendiri justru tertunda, lalu meledak dalam bentuk cemas, marah, atau mati rasa.

Data WHO menyebut sekitar 1 dari 8 orang di dunia hidup dengan gangguan mental, dan kecemasan serta depresi termasuk yang paling umum. Di Indonesia, Riskesdas 2018 juga mencatat gangguan mental emosional pada penduduk usia ≥15 tahun berada di kisaran 9,8%, yang mengindikasikan kebutuhan dukungan psikologis yang luas.

Di titik inilah DIALOG mencoba masuk, bukan sebagai “mantra motivasi”, melainkan sebagai kerangka kerja yang bisa diulang. Enam pilar yang ditawarkan—Deep Awareness, Inner Stability, Alignment, Listening Intelligence, Ownership, dan Graceful Expression—mengarahkan pembaca untuk menata batin sebelum menata citra.

Kerangka itu terasa sejalan dengan tren literasi psikologi populer yang kini bergerak dari “positive vibes” menuju keterampilan regulasi emosi. Banyak buku pengembangan diri gagal karena hanya memerintah pembaca untuk berubah, tanpa memberi peta kecil untuk mengenali pemicu, batas, dan kebutuhan diri.

Yang menarik, DIALOG menekankan “kekuatan tenang” sebagai bentuk keberdayaan yang lebih tahan lama. Ini kontras dengan budaya performatif yang mengira ketegasan harus selalu keras, padahal ketegasan paling matang justru lahir dari stabilitas batin.

Praktikalitas buku ini juga menjadi nilai jual yang relevan untuk pembaca urban yang kekurangan waktu. Jika benar diterapkan sebagai latihan harian—mendengar diri, mengakui emosi, lalu mengekspresikan dengan elegan—ia bisa menjadi jembatan antara refleksi dan tindakan.

Namun ada catatan penting yang perlu ditegaskan agar pembaca tidak salah menempatkan ekspektasi. Buku pengembangan diri bukan pengganti layanan profesional, terutama ketika gejala kecemasan atau depresi sudah mengganggu fungsi sehari-hari.

Peluncuran melalui masa pre-order memberi sinyal bahwa buku ini dibangun dengan strategi komunitas dan resonansi personal. Dukungan kata pengantar dari tokoh publik seperti Christine Hakim juga memperkuat legitimasi kultural, meski kualitas tetap harus diuji pada pengalaman pembaca, bukan pada nama besar.

DIALOG terasa seperti upaya mengembalikan martabat pada proses “pelan” yang sering diremehkan. Dalam masyarakat yang memuja hasil cepat, ajakan untuk mendengar diri sendiri adalah tindakan yang nyaris subversif.

Kalimat Karina, “DIALOG bukan sekadar buku, tetapi ruang untuk kembali mengenal diri dan membangun pengaruh dari dalam,” terdengar sederhana namun menantang. Pengaruh dari dalam berarti tidak menggantungkan nilai diri pada validasi, tetapi pada kejelasan sikap yang stabil.

Meski demikian, narasi “kembali mengenal diri” juga bisa menjadi jebakan jika hanya berhenti pada perenungan. Kekuatan tenang baru terbukti ketika ia mengubah cara kita membuat keputusan, menetapkan batas, dan berkomunikasi tanpa menyakiti diri maupun orang lain.

Pada akhirnya, buku DIALOG menawarkan satu pesan yang relevan: ketahanan tidak selalu berbunyi keras, dan keberanian tidak selalu tampak dramatis. Ia bisa hadir sebagai kemampuan untuk tetap waras, jernih, dan bertanggung jawab atas pilihan sendiri.

Jika banyak orang berlomba menjadi versi “baru” yang lebih menarik, DIALOG mengajak pembaca menjadi versi “utuh” yang lebih sadar. Pertanyaannya, kapan terakhir kali kita benar-benar mendengar diri sendiri, tanpa menuntutnya segera pulih?

(Orbit dari berbagai sumber, 24 Juli 2026)