Sara Netanyahu Kembali Dituduh Perlakukan Buruk Staf Rumah Tangga, Kasus Lama Kembali Menjadi Sorotan
ORBITINDONESIA.COM — Istri Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Sara Netanyahu, kembali menghadapi tuduhan melakukan penghinaan, pelecehan verbal, dan perlakuan buruk terhadap pekerja yang bertugas di lingkungan kediaman resmi perdana menteri.
Tuduhan terbaru ini kembali membuka perdebatan lama di Israel mengenai perlakuan Sara Netanyahu terhadap para pekerja rumah tangga dan staf pendukung keluarga perdana menteri.
Laporan media Israel menyebut sejumlah mantan pekerja memberikan kesaksian mengenai pengalaman mereka selama bekerja di lingkungan kediaman Netanyahu. Yedioth Ahronoth disebut telah menelusuri sejumlah kesaksian dan perkara hukum yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Salah satu nama yang muncul dalam perkembangan terbaru adalah Yehiel Ohav-Ami, mantan pekerja di kediaman perdana menteri di Jerusalem. Ia mengajukan gugatan senilai sekitar 300.000 shekel (sekitar Rp1,8 miliar) dan menuduh dirinya mengalami perlakuan yang merendahkan selama bekerja sekitar satu tahun di kediaman tersebut. Laporan mengenai gugatannya muncul pada akhir Juli 2026.
Dalam kesaksiannya, Ohav-Ami mengaku pernah dibentak, dihina, dan dipermalukan. Salah satu tuduhan yang paling mencolok adalah bahwa ia pernah diperintahkan membersihkan lantai dapur dengan posisi merangkak. Namun, tuduhan tersebut harus dipahami sebagai klaim dari mantan pekerja dan belum dapat diperlakukan sebagai fakta yang telah terbukti secara hukum.
Kasus Ohav-Ami menambah daftar panjang perselisihan antara Sara Netanyahu dan mantan pekerja. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah mantan pekerja mengajukan gugatan dengan tuduhan yang serupa, meskipun hasil akhirnya berbeda-beda.
Salah satu kasus yang cukup terkenal adalah perkara Meni Naftali, mantan kepala pengurus rumah tangga di kediaman perdana menteri yang bekerja pada 2011–2012. Naftali mengajukan gugatan dengan tuduhan mengalami perlakuan yang merendahkan dan kondisi kerja yang buruk. Perkara tersebut berakhir dengan pemberian kompensasi kepadanya.
Ada pula perkara Guy Eliyahu, mantan pekerja kediaman perdana menteri. Menurut rangkuman Yedioth Ahronoth, pengadilan ketenagakerjaan memenangkan gugatannya dan ia menerima 120.000 shekel kompensasi. Pengadilan menerima argumennya mengenai kondisi kerja yang bermasalah serta perlakuan Sara Netanyahu yang disebutnya "tidak dapat ditoleransi".
Namun, tidak semua gugatan terhadap Sara Netanyahu berakhir dengan kemenangan bagi pekerja. Shira Raban, misalnya, pernah menggugat dengan tuntutan sekitar 225.000 shekel. Pengadilan menolak gugatan tersebut karena menilai penggugat tidak berhasil membuktikan bahwa memang terjadi perilaku yang dapat dikategorikan sebagai perlakuan melecehkan.
Perkembangan terbaru pada 2026 juga memperlihatkan bagaimana tuduhan semacam ini dapat berujung pada penyelesaian finansial. Dalam kasus lain, seorang pekerja yang dikenal dengan inisial S. menggugat setelah mengaku mengalami penghinaan dan pelecehan selama sekitar dua tahun bekerja di kantor perdana menteri.
Menurut laporan Jerusalem Post yang mengutip KAN, negara dan perusahaan sumber daya manusia yang mempekerjakannya kemudian membayar kompensasi puluhan ribu shekel sebagai bagian dari kesepakatan untuk menghentikan perkara.
Dalam perkara tersebut, S. menuduh Sara Netanyahu melempar potongan tomat dan zaitun kepadanya ketika tidak puas dengan penyajian sarapan. Tuduhan itu juga menyebut adanya bentakan dan penghinaan. Namun sekali lagi, laporan tersebut menyajikan versi pihak penggugat, bukan putusan pengadilan yang menyatakan semua tuduhan tersebut terbukti.
Bahkan pada Januari 2026 terdapat perkembangan hukum yang berlawanan dengan sejumlah perkara sebelumnya. Dalam perkara pencemaran nama baik yang diajukan Sara Netanyahu terhadap mantan pekerja Sylvie Genesia, pengadilan memerintahkan Genesia membayar 100.000 shekel kepada Sara Netanyahu dan tambahan 20.000 shekel untuk biaya hukum.
Namun Jerusalem Post mencatat bahwa putusan tersebut dijatuhkan karena alasan prosedural, setelah Genesia gagal menyerahkan kesimpulan perkara meskipun telah diberi perpanjangan waktu. Hakim juga menegaskan bahwa jumlah tersebut tidak mencerminkan penerimaan substantif terhadap seluruh klaim Sara Netanyahu.
Dengan demikian, gambaran yang muncul jauh lebih kompleks daripada sekadar cerita bahwa "Sara Netanyahu terbukti menyiksa para pekerjanya". Ada kasus di mana pekerja memperoleh kompensasi, ada gugatan yang ditolak, ada perkara yang berakhir melalui kesepakatan, dan ada pula perkara pencemaran nama baik yang justru dimenangkan Sara Netanyahu secara prosedural.
Pihak Sara Netanyahu sendiri secara konsisten membantah tuduhan-tuduhan tersebut. Dalam sejumlah perkara, pembelaannya menyebut tuduhan mantan pekerja sebagai kebohongan, pencemaran nama baik, atau upaya mencari keuntungan finansial.
Dalam kasus pekerja terbaru yang muncul pada April–Mei 2026, misalnya, kantor perdana menteri menegaskan bahwa pekerja tersebut merupakan pegawai perusahaan kontraktor dan bukan pegawai langsung kantor perdana menteri. Kantor tersebut menyatakan hubungan kerjanya dihentikan oleh perusahaan kontraktor karena persoalan kinerja dan menyebut tuduhan terhadap Sara Netanyahu tidak benar. Pihak Sara Netanyahu juga menyatakan bahwa tidak pernah ada kontak dengannya dan menuduh adanya upaya untuk memperoleh uang melalui pencemaran nama baik.
Kontroversi ini menjadi sensitif karena Sara Netanyahu bukan sekadar pasangan seorang politisi biasa. Ia merupakan istri salah satu perdana menteri Israel yang paling lama berkuasa dan telah menjadi figur publik yang sangat kontroversial selama bertahun-tahun. Karena itu, setiap tuduhan mengenai perilakunya terhadap pekerja dengan cepat berkembang menjadi isu politik dan media.
Di sisi lain, kasus-kasus tersebut juga memperlihatkan persoalan yang lebih luas mengenai relasi kuasa antara pejabat tinggi negara dan pekerja berstatus lebih rendah.
Kediaman perdana menteri merupakan lingkungan kerja yang sangat hierarkis. Pekerja rumah tangga, staf kebersihan, juru masak, maupun pekerja pelayanan berada dalam posisi yang jauh lebih lemah dibanding penghuni kediaman yang mereka layani.
Karena itu, persoalan utamanya bukan semata-mata apakah satu tuduhan tertentu benar atau tidak. Yang lebih penting adalah apakah mekanisme hukum dan kelembagaan Israel mampu memberikan ruang yang adil bagi pekerja untuk mengadukan perlakuan buruk, sekaligus memberikan perlindungan yang sama kepada pihak yang dituduh agar tidak menjadi korban tuduhan yang tidak terbukti.
Kasus Sara Netanyahu akhirnya menjadi contoh menarik tentang bagaimana politik, kekuasaan, media, hukum ketenagakerjaan, dan kehidupan pribadi seorang keluarga pemimpin negara dapat saling berkelindan. Selama masih terdapat gugatan dan kesaksian baru, kontroversi ini tampaknya belum sepenuhnya berakhir. ***