Ledakan Bahasa Dunia: Pertanian Picu Kepunahan Bahasa Kuno

Nature

Nature

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Ledakan bahasa dunia pada masa lalu mungkin jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan, bahkan mencapai puluhan ribu bahasa. Studi di jurnal Science (23 Juli) menyebut pertanian dan permukiman menetap sebagai pemicu awalnya, sebelum gelombang kepunahan bahasa menyusutkan keragaman hingga sekitar 7.500 bahasa saat ini.

Manusia mungkin pernah berbicara jauh lebih banyak bahasa daripada sekarang, terutama pada rentang 3.000 hingga 1.000 tahun lalu. Perkiraan itu melampaui angka modern, yakni lebih dari 7.500 bahasa unik yang digunakan di seluruh dunia.

Temuan ini dipublikasikan pada 23 Juli di Science dan mengusulkan bahwa kebangkitan pertanian memicu “boom” bahasa. Orang berpindah dari kehidupan nomaden pemburu-peramu ke komunitas kecil yang menetap dan relatif terisolasi.

Jika hasilnya akurat, kepunahan bahasa bukan fenomena yang hanya terjadi di era modern. Heidi Harley, linguis di University of Arizona, menyebut gambaran keragaman historis ini “mind-blowing”.

Harley menekankan betapa ekstremnya proyeksi jumlah bahasa yang pernah ada. “Jumlah bahasa yang mereka proyeksikan pernah ada itu seperti, ‘Apa? Itu gila’,” katanya.

Masalahnya, jejak bahasa di catatan arkeologi sangat minim, kecuali bila ada sumber tertulis. Joe Salmons, linguis historis di University of Wisconsin–Madison, menyebut peneliti sering tahu “sangat sedikit” tentang keragaman bahasa di masa lampau.

Keterbatasan bukti ini membuat narasi tentang evolusi keragaman bahasa menjadi saling bertolak belakang. Claire Bowern, linguis historis Yale University dan penulis bersama studi, mengatakan banyak hitungan sebelumnya hanya “perkiraan di atas kertas”.

Dalam studi ini, Bowern dan tim berupaya melacak lintasan global keragaman bahasa selama 12.000 tahun terakhir. Mereka memulai dengan mengestimasi jumlah bahasa 12.000 tahun lalu, yakni di sekitar akhir zaman es terakhir.

Metodenya membagi perkiraan populasi global saat itu dengan ukuran rata-rata kelompok pemburu-peramu dari latar etnis dan budaya yang sebanding. Model tersebut mengasumsikan kelompok sekitar 800 orang memakai bahasa yang sama, berdasar riset abad ke-20 pada kelompok pribumi Alaska dan data keragaman bahasa historis global.

Dari perhitungan itu, diperkirakan ada 3.300 hingga 7.800 bahasa yang dituturkan 12.000 tahun lalu. Angka ini menjadi titik awal untuk memodelkan perubahan keragaman bahasa dari waktu ke waktu.

Tim kemudian memakai model statistik untuk memperkirakan evolusi keragaman bahasa seiring perubahan struktur sosial. Mereka mengasumsikan kelompok penutur bahasa yang sama cenderung membesar, karena masyarakat bergerak dari nomaden ke pertanian dan kemudian berkembang menjadi negara-bangsa.

Namun hasil analisis justru menyatakan keragaman bahasa meningkat dalam beberapa milenium berikutnya ketika pertanian menyebar secara global. Puncaknya diperkirakan sekitar 2.000 tahun lalu, ketika “puluhan ribu” bahasa digunakan.

Secara kasar, itu sekitar sepuluh kali lebih banyak daripada jumlah bahasa pada akhir zaman es terakhir. Jika benar, sejarah bahasa manusia bukan garis lurus menuju penyatuan, melainkan sempat mengalami fragmentasi besar-besaran.

Alasan ledakan ini masih belum jelas, tetapi Bowern menduga transisi menuju permukiman permanen menjadi faktor penting. Komunitas kecil yang menetap lebih mudah terisolasi, sehingga dialek dan bahasa cepat menyimpang dari tetangga terdekat.

Dugaan itu diperkuat riset di Nugini dan Vanuatu. Studi-studi regional tersebut menunjukkan dialek dan bahasa permukiman petani kecil lebih tajam perbedaannya dibanding kelompok pemburu-peramu di wilayah yang sama.

Di titik ini, “pertanian” tampil bukan hanya sebagai revolusi pangan, tetapi juga revolusi komunikasi. Ketika manusia menambatkan hidup pada lahan, mereka juga menambatkan identitas pada bunyi, kosakata, dan aturan bahasa yang makin khas.

Temuan “puluhan ribu bahasa” mengguncang intuisi populer bahwa modernitaslah biang keladi utama kepunahan bahasa. Studi ini justru menyiratkan bahwa kepunahan bahasa bisa menjadi konsekuensi berulang dari perubahan cara hidup dan struktur kekuasaan.

Ada ironi yang sulit diabaikan: pertanian mungkin menciptakan ledakan bahasa, tetapi jalur panjangnya menuju negara-bangsa justru mendorong penyusutan. Ketika kelompok membesar dan terintegrasi, bahasa dominan cenderung menelan bahasa kecil melalui administrasi, perdagangan, dan pendidikan.

Meski demikian, model ini tetap perlu dibaca sebagai rekonstruksi probabilistik, bukan sensus historis. Asumsi “800 orang satu bahasa” bisa meleset di banyak konteks, karena bilingualisme, jaringan perkawinan, dan lingua franca mungkin sudah lazim sejak awal.

Keterbatasan bukti arkeologis juga berarti kita mengisi banyak celah dengan statistik. Namun justru di situlah nilai jurnalistiknya: publik diingatkan bahwa sains sering bekerja dengan ketidakpastian yang terukur, bukan kepastian yang mutlak.

Yang paling tajam dari studi ini adalah pesan politik-kulturalnya. Jika keragaman bahasa pernah jauh lebih besar, maka setiap bahasa yang punah hari ini bukan sekadar “yang biasa terjadi”, melainkan hilangnya satu cabang dari hutan sejarah yang pernah sangat lebat.

Di sisi lain, kita juga perlu waspada pada romantisasi masa lalu. Banyak bahasa mungkin lahir dari isolasi, tetapi isolasi juga berarti rapuh, karena sedikit guncangan demografis saja dapat memadamkannya.

Dengan kata lain, pertanyaan kuncinya bukan hanya “berapa banyak bahasa pernah ada”. Pertanyaan yang lebih mendesak adalah “kondisi apa yang membuat bahasa bisa bertahan tanpa harus mengurung komunitasnya”.

Studi di Science mengajukan gambaran besar tentang ledakan bahasa dunia yang mungkin memuncak sekitar 2.000 tahun lalu. Pertanian dan permukiman menetap diduga memecah komunitas menjadi kantong-kantong kecil yang melahirkan banyak bahasa.

Namun sejarah yang sama juga memperlihatkan sisi gelap integrasi, ketika kelompok membesar dan bahasa kecil tersingkir. Jika kepunahan bahasa bukan hal baru, tantangan kita adalah memastikan bahwa “yang berulang” tidak otomatis “yang tak terhindarkan”.

Pada akhirnya, bahasa adalah arsip hidup tentang cara manusia memahami dunia. Pertanyaannya, apakah kita akan membiarkan arsip itu menyusut demi efisiensi, atau merawatnya sebagai keragaman pengetahuan yang tak tergantikan. (Orbit dari berbagai sumber, 5 Agustus 2026)