Anthony Hernandez Tuding Gregory Rodrigues Curang di UFC Sacramento

MMA Fighting

MMA Fighting

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Anthony Hernandez menuding Gregory Rodrigues melakukan kecurangan dengan menarik bagian dalam sarung tangan saat mereka bertarung di UFC Sacramento. Tuduhan itu muncul setelah Hernandez kalah angka mutlak dalam laga lima ronde yang juga diganjar Fight of the Night dan bonus US$100.000 untuk masing-masing petarung.

Di UFC Sacramento, dua petarung kelas menengah ini bertarung habis-habisan dalam main event, dan Rodrigues menang lewat keputusan juri. Skor juri mencatat 49-46 serta dua kartu 48-47, menandai kemenangan keputusan lima ronde pertama Rodrigues sepanjang kariernya.

Namun bagi Hernandez, ada ganjalan yang lebih besar daripada kekalahan itu sendiri. Ia mengklaim Rodrigues beberapa kali menarik bagian dalam sarung tangannya pada momen grappling yang krusial dan ia sudah melaporkannya kepada wasit Herb Dean.

Dari kacamata regulasi MMA, menarik sarung tangan lawan termasuk pelanggaran karena bisa mengubah posisi, menghambat pelepasan, dan menciptakan kontrol semu. Dalam pertarungan ketat, detail kecil seperti ini dapat menggeser momentum dan memengaruhi persepsi juri atas kontrol serta efektivitas grappling.

Hernandez menyebut insiden itu terjadi berulang, dan ia merasa respons yang ia dapat hanya sebatas peringatan. Ia berkata, “Dia menarik sarung tangan saya, seperti, empat kali… [Herb] bilang, ‘Hei, stop,’” sambil menyiratkan kekecewaan karena tidak ada pengurangan poin.

Di sisi lain, data yang tampak di hasil resmi memperlihatkan pertarungan memang berjalan tipis dan melelahkan bagi keduanya. Rodrigues unggul melalui tinju dan tendangan kaki yang membuat Hernandez beberapa kali goyah, sementara Hernandez juga memberi kerusakan balik lewat pukulan dan sikut keras.

Bonus Fight of the Night dan fakta bahwa ini kemenangan keputusan lima ronde pertama Rodrigues menegaskan betapa kompetitifnya laga tersebut. Justru karena kompetitif itulah, kontroversi “foul tanpa penalti” menjadi isu yang terasa lebih tajam dan lebih mudah memicu debat publik.

Hernandez juga mengungkap ia mengalami cedera bahu saat training camp yang membatasi persiapan. Meski begitu, ia tetap mengambil tanggung jawab atas performanya dengan mengatakan ia membuat “banyak kesalahan” dan harus beradaptasi setelah kakinya sakit sejak awal.

Tuduhan Hernandez menyentuh persoalan klasik dalam MMA: batas tipis antara “cerdik” dan “curang” ketika wasit memilih menegur alih-alih menghukum. Jika pelanggaran berulang tidak disertai konsekuensi, insentifnya berubah, dan “kecurangan kecil” bisa terasa seperti strategi yang layak dicoba.

Pernyataan Hernandez, “Saya bertarung bersih… mungkin saya harus lebih kotor,” adalah alarm moral yang seharusnya tidak dianggap sekadar luapan emosi pasca-pertandingan. Itu mencerminkan risiko budaya tanding, yakni ketika sportivitas kalah oleh logika hasil, dan aturan hanya sekuat keberanian untuk menegakkannya.

Namun penting juga menjaga kehati-hatian, karena klaim foul biasanya membutuhkan verifikasi rekaman dan penilaian resmi. Publik berhak kritis, tetapi juga berhak adil, sebab pertarungan ini tetap menunjukkan kualitas Rodrigues sebagai petarung tangguh dengan pukulan keras dan tekanan konsisten.

UFC Sacramento meninggalkan dua cerita sekaligus: pertarungan hebat yang pantas mendapat Fight of the Night, dan pertanyaan tentang penegakan aturan pada momen-momen kecil yang menentukan. Ketika satu pihak merasa “lapor tapi tak ditindak,” kepercayaan pada keadilan pertandingan ikut diuji.

Pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya satu kartu skor, melainkan standar sportivitas di level tertinggi. Jika “tarik sarung tangan” bisa berlalu hanya dengan teguran, berapa banyak pelanggaran lain yang akan dianggap normal sebelum MMA kehilangan garis etiknya sendiri?

(Orbit dari berbagai sumber, 25 Agustus 2026)