Box Office The Odyssey Tembus $120 Juta, Nolan Menang Telak
ORBITINDONESIA.COM – Box office The Odyssey milik Christopher Nolan melesat dengan pendapatan $51 juta pada Jumat, dan proyeksi akhir pekan naik hingga $120 juta. Kenaikan ini menempatkannya di jalur pembukaan terbesar Nolan sejak The Dark Knight Rises, sekaligus mengubah peta persaingan film 2026 dalam hitungan jam.
Terjemahan akurat artikel sumber: “The Odyssey” tidak membutuhkan Kuda Troya untuk menerobos puncak tangga box office Jumat. Film “The Odyssey” karya Christopher Nolan meraup $51 juta pada Jumat dari 3.919 layar di Amerika Utara.
Perkiraan awal menyebut saga ini akan mengumpulkan $90 juta hingga $100 juta pada Minggu, namun setelah hari pembukaan yang gemilang, proyeksi naik setinggi $120 juta. “The Odyssey” segera menjadi film ketiga pada 2026 yang dibuka di atas $100 juta setelah “Toy Story 5” ($159 juta) dan “The Super Mario Galaxy Movie” ($131 juta).
“The Odyssey” memiliki biaya produksi besar, $250 juta. Pembukaan $120 juta akan menjadi yang terbaik bagi Nolan sejak “The Dark Knight Rises,” yang debut dengan $160 juta pada 2012.
Proyeksi akhir pekan pertama “The Odyssey” melampaui “Oppenheimer,” pemenang film terbaik 2023, yang meraih $82 juta pada akhir pekan pembukaan dan menutup penayangan dengan $975 juta. Dengan $51 juta pada Jumat, “The Odyssey” juga sudah melampaui total akhir pekan pembukaan “Interstellar” (2014) yang sebesar $47,5 juta.
“The Odyssey,” berdasarkan epos Yunani kuno karya Homer, mengisahkan Odysseus yang harus menempuh perjalanan berat pulang ke Ithaca setelah Perang Troya. Matt Damon memerankan Odysseus, memimpin jajaran pemain Tom Holland, Anne Hathaway, Robert Pattinson, Lupita Nyong’o, Zendaya, Charlize Theron, Elliot Page, Jon Bernthal, dan John Leguizamo.
“Moana” berada di posisi kedua pada Jumat dengan $5,5 juta, memasuki akhir pekan kedua di bioskop Amerika Utara. Perkiraan pesaing menyebut remake live-action itu akan meraih $19 juta pada Minggu, turun 56% dari pembukaan domestik yang lembek, $43 juta.
Variety melaporkan bahwa, dengan memperhitungkan anggaran produksi $250 juta, “Moana” bisa merugi sekitar $100 juta bagi Disney jika keadaan tidak berbalik. Hal seperti itu jarang, tetapi pernah terjadi.
Pada 2024, spin-off live-action “Lion King” milik Disney, “Mufasa,” dibuka hanya $34 juta namun akhirnya mencapai $722 juta global. Film itu rilis saat Natal, sehingga menguasai bioskop pada bulan-bulan rilis lambat Januari dan Februari.
“Moana” tidak memiliki kemewahan itu karena harus mengejar “Toy Story 5” dan “Minions & Monsters.” “Minions & Monsters” menambah $4,3 juta domestik pada Jumat untuk posisi ketiga.
Film itu diperkirakan mengumpulkan $14 juta hingga Minggu. Setelah tiga akhir pekan, petualangan animasi yang membawa para minion kuning ke era keemasan Hollywood diproyeksikan mencapai $136 juta domestik.
“Minions & Monsters” berpotensi menjadi salah satu pendapatan terendah dalam waralaba, tetapi dibuat hanya dengan $85 juta. Artinya Universal tidak butuh banyak lagi untuk membawa film itu ke zona untung.
Lima besar pada Jumat ditutup oleh “Toy Story 5” dan “Evil Dead Burn.” “Toy Story 5” berada di posisi keempat dengan $4,2 juta pada Jumat, dan diperkirakan meraih $13,8 juta hingga Minggu.
Total Amerika Utara “Toy Story 5” akan mendekati $429 juta setelah lima akhir pekan. “Evil Dead Burn” berada di posisi kelima dengan sekitar $1,4 juta pada Jumat, dan diperkirakan meraih $4,7 juta pada akhir pekan, dengan total domestik sekitar $23 juta.
Keyword box office The Odyssey kini menjadi penanda bahwa “event movie” masih punya daya ledak, bahkan ketika tiket mahal dan pilihan hiburan melimpah. Angka $51 juta pada Jumat dari 3.919 layar berarti rata-rata sekitar $13 ribu per layar, sinyal permintaan yang agresif.
Proyeksi yang melonjak dari $90–$100 juta ke $120 juta menunjukkan efek “word of mouth” instan dan dorongan pra-penjualan yang kuat. Ini juga menegaskan bahwa nama Christopher Nolan masih berfungsi sebagai merek, bukan sekadar sutradara.
Secara historis, pembukaan $120 juta menempatkan Nolan kembali ke kelas “The Dark Knight Rises” ($160 juta) dan jauh di atas “Oppenheimer” ($82 juta). Ironinya, “Oppenheimer” justru membuktikan stamina dengan total $975 juta, jadi tantangan “The Odyssey” bukan hanya start, melainkan napas panjang.
Biaya produksi $250 juta membuat target balik modal menjadi lebih ketat, apalagi jika biaya pemasaran global ikut membengkak. Namun pembukaan besar memberi ruang aman psikologis bagi pasar, karena bioskop dan penonton cenderung mengikuti pemenang.
Di sisi lain, drama sesungguhnya terjadi pada “Moana” live-action yang diperkirakan turun 56% pada pekan kedua, menuju $19 juta. Jika laporan Variety tentang potensi rugi $100 juta benar, ini bukan sekadar film yang “kurang laku,” melainkan alarm untuk strategi remake Disney.
Perbandingan dengan “Mufasa” (2024) penting karena menunjukkan peran kalender rilis dalam menyelamatkan film yang start-nya lemah. “Moana” rilis tanpa “koridor libur panjang” dan harus berhadapan dengan “Toy Story 5” serta “Minions & Monsters,” sehingga ruang bernapasnya sempit.
“Minions & Monsters” memberi pelajaran berbeda, yakni efisiensi anggaran. Meski disebut akan menjadi salah satu yang terendah di waralaba, biaya $85 juta membuat ambang untungnya realistis, sementara total domestik diproyeksikan mencapai $136 juta dalam tiga akhir pekan.
“Toy Story 5” yang sudah mendekati $429 juta domestik pada akhir pekan kelima memperlihatkan kekuatan IP klasik yang stabil. Dalam ekosistem seperti ini, film horor seperti “Evil Dead Burn” hidup sebagai penyeimbang, tetapi dengan angka $23 juta domestik, ia jelas bermain di liga yang berbeda.
Kemenangan box office The Odyssey terasa seperti pembuktian bahwa publik masih mencari sinema yang “serius” namun tetap megah dan mudah dipasarkan. Nolan memadukan legitimasi artistik dengan skala blockbuster, lalu menutup celah yang sering membuat film besar tampak generik.
Namun ada pertanyaan yang lebih tajam: apakah industri sedang kembali menggantungkan harapan pada segelintir nama dan IP raksasa. Ketika $250 juta menjadi angka “wajar,” risiko kreatif justru menyusut karena studio akan menuntut kepastian, bukan eksperimen.
Kasus “Moana” memperlihatkan sisi rapuh dari strategi daur ulang. Remake bukan otomatis gagal, tetapi ketika pasar jenuh dan kalender padat, penonton tampaknya mulai meminta alasan yang lebih kuat daripada nostalgia.
Di tengah itu, film berbiaya lebih hemat seperti “Minions & Monsters” menunjukkan model bisnis yang lebih tahan guncangan. Profitabilitas bukan hanya soal pendapatan tertinggi, melainkan soal rasio biaya, momentum, dan ketepatan rilis.
Box office The Odyssey mengirim pesan sederhana: penonton masih mau datang berbondong-bondong jika film menawarkan skala, cerita, dan “nama” yang dipercaya. Tetapi kemenangan pembukaan tidak otomatis menjamin kemenangan akhir, karena daya tahan pekan-ke-pekan kini menjadi ujian utama.
Di saat yang sama, “Moana” dan film-film lain mengingatkan bahwa anggaran besar tanpa diferensiasi bisa berubah menjadi beban. Pertanyaannya, setelah euforia akhir pekan ini, akankah Hollywood memilih memperbanyak taruhan raksasa, atau kembali merawat keberanian membuat film yang tak selalu aman namun lebih segar.
(Orbit dari berbagai sumber, 29 Juli 2026)