Terapi Kateter Kemoterapi Kanker Pankreas Stadium 3

CBS News

CBS News

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Terapi kateter kemoterapi untuk kanker pankreas stadium 3 memberi harapan baru ketika Hernando Salcedo, 83 tahun, nyaris tumbang oleh efek samping kemoterapi standar. Ia didiagnosis kanker pankreas stadium 3 pada Mei 2025, lalu menemukan kualitas hidupnya pulih setelah masuk uji klinis perangkat pengantar obat RenovoCath.

Salcedo terkejut saat perutnya membengkak pada Mei 2025, padahal ia dikenal sehat dan aktif. Pemeriksaan awal tidak menemukan penyebab, hingga MRI dua hari kemudian memastikan diagnosis: kanker pankreas stadium 3.

Menurut American Cancer Society, kanker pankreas stadium 3 memiliki prognosis buruk dengan tingkat kelangsungan hidup lima tahun sekitar 15%. Banyak pasien bertahan hanya beberapa bulan, dan tidak semua bisa menjalani operasi yang berpotensi mengangkat tumor.

Salcedo bukan kandidat operasi, sehingga pilihan yang tersisa adalah kemoterapi agresif untuk memperpanjang hidup, bukan menyembuhkan. Ia memulai kemoterapi di Miami Cancer Institute pada Juli 2025, namun efek sampingnya cepat menjadi berat.

Ia sulit makan dan turun berat badan, sementara energinya runtuh drastis. Putranya, Mauricio, mengatakan ayahnya berubah dari orang yang biasa berjalan 2–3 mil tiap pagi menjadi hampir tak mampu keluar rumah.

Kemoterapi intravena menyebar ke seluruh tubuh, sehingga efek samping sering tak terhindarkan. Pada kanker pankreas, masalahnya berlapis karena jaringan tumor cenderung padat dan suplai darahnya terbatas.

Dr. Ripal Gandhi menjelaskan kondisi ini membuat sebagian obat tidak benar-benar mencapai tumor. Akibatnya, pasien bisa “membayar mahal” dengan toksisitas sistemik, namun mendapat manfaat lokal yang tidak optimal.

Di titik inilah perangkat pengantaran obat menjadi penting sebagai inovasi klinis. RenovoCath dari RenovoRX berupaya mengantar kemoterapi lebih presisi, dengan kateter dua balon yang ditempatkan di arteri terdekat tumor.

Dua balon itu mengisolasi aliran darah sehingga obat dapat dilokalisasi di sekitar kanker. Gandhi menekankan, “Sangat sedikit obat yang sebenarnya beredar ke seluruh tubuh,” karena kemoterapi dipusatkan di lokasi kanker.

Data uji klinis yang dipresentasikan pada World Congress of GI Cancer Patients 2023 menunjukkan 65% lebih sedikit efek samping pada metode kateter dibanding kemoterapi tradisional, menurut Gandhi. Peserta yang menerima kemoterapi via kateter juga disebut mengalami peningkatan kelangsungan hidup sekitar enam bulan.

Uji klinis yang diikuti Salcedo memakai desain bertahap dan randomisasi, yang penting untuk menilai manfaat secara lebih adil. Peserta menjalani kemoterapi standar dua bulan, kemudian radiasi dan satu sesi kemoterapi tambahan sebelum dievaluasi melalui pencitraan.

Setelah kanker Salcedo tidak menunjukkan progresi, ia menjadi memenuhi syarat untuk fase kateter. Ia kemudian termasuk kelompok yang menerima kemoterapi dengan RenovoCath setiap dua pekan selama empat bulan.

Perubahan yang ia rasakan digambarkan “seperti siang dan malam” dibanding kemoterapi biasa. Salcedo berkata, “Saya merasa baik-baik saja keesokan harinya,” serta mengaku tidak merasakan mual dan nyeri seperti sebelumnya.

Gandhi juga menyebut ada pasien lain yang bertahan empat tahun setelah diagnosis, sesuatu yang ia nilai “nyaris tidak pernah terdengar” pada penyakit ini. Namun ia menegaskan, kanker pankreas stadium 3 umumnya tidak dapat disembuhkan, sehingga targetnya adalah memperpanjang harapan hidup sambil menjaga kualitas hidup.

RenovoCath sendiri telah mendapat izin penggunaan dari Food and Drug Administration sejak 2014, menurut juru bicara RenovoRX. Meski begitu, publik perlu membedakan antara izin perangkat dan pembuktian hasil spesifik untuk indikasi tertentu, yang masih menunggu data final.

RenovoRX menyatakan data akhir uji RenovoCath untuk kanker pankreas stadium 3 diperkirakan terbit pada akhir 2027. Ini penting karena hasil publikasi lengkap akan memberi gambaran lebih kuat tentang efektivitas, subkelompok pasien yang paling diuntungkan, serta risiko yang mungkin luput dari laporan awal.

Kisah Salcedo menunjukkan bahwa “harapan” dalam onkologi tidak selalu berarti kesembuhan, melainkan waktu yang bermakna. Ketika kemoterapi membuat pasien nyaris kehilangan fungsi dasar, kualitas hidup menjadi ukuran yang sama pentingnya dengan angka kelangsungan hidup.

Inovasi seperti kemoterapi terarah lewat kateter menggeser logika terapi dari “sebanyak mungkin obat” menjadi “sepresisi mungkin obat.” Ini selaras dengan kritik lama terhadap toksisitas sistemik, terutama pada pasien lansia yang cadangan fisiknya terbatas.

Namun euforia teknologi juga harus ditahan oleh disiplin bukti ilmiah. Data presentasi konferensi dan testimoni pasien kuat secara naratif, tetapi publik tetap memerlukan publikasi akhir, metodologi lengkap, dan evaluasi independen.

Di sisi lain, uji klinis sering menjadi ruang yang tidak merata aksesnya. Salcedo berada di pusat kanker besar dengan panel ahli, sementara banyak pasien lain mungkin tidak pernah ditawari opsi serupa karena lokasi, biaya, atau literasi kesehatan.

Karena itu, pertanyaan kebijakan menjadi mendesak: bagaimana memastikan inovasi yang menjanjikan tidak hanya dinikmati segelintir orang. Jika manfaatnya terbukti, sistem rujukan, pembiayaan, dan pemerataan fasilitas harus bergerak lebih cepat daripada laju penyakit itu sendiri.

Setahun setelah diagnosis, kanker Salcedo stabil sejak pertengahan April dan belum menyebar ke organ lain, menurut Gandhi. Ia kembali berjalan rutin, bertambah berat badan, dan bahkan sempat ke Kolombia untuk menghadiri pernikahan keponakannya, lalu menari semalaman dan merasa “sempurna.”

Mauricio mengakui mereka tidak berilusi terhadap prognosis kanker pankreas stadium 3 pada usia 83 tahun. Tetapi bulan-bulan tambahan dengan energi yang kembali, pikiran yang jernih, dan rencana masa depan terasa seperti “memenangkan lotre.”

Kisah ini memaksa kita menimbang ulang definisi keberhasilan medis: apakah sekadar memperpanjang hidup, atau mengembalikan hidup itu sendiri. Jika teknologi mampu memberi waktu yang layak dijalani, kita patut bertanya mengapa akses dan risetnya tidak dipercepat secara adil.

(Orbit dari berbagai sumber, 5 Agustus 2026)