Sidang Umum PBB dan Guterres: Dunia Saling Bergantung vs Politik Kekuatan

AP News

AP News

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Sidang Umum PBB kembali jadi panggung besar, tetapi juga cermin retaknya tatanan global yang makin tidak percaya pada kerja sama. Antonio Guterres menyerukan “dunia yang dibangun di atas saling ketergantungan”, sementara Donald Trump menegaskan kekuatan Amerika sebagai ukuran utama pengaruh. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Dalam pidato terakhirnya di Sidang Umum PBB sebagai Sekjen, Guterres memperingatkan “garis patahan dunia makin melebar” karena perang, suhu yang naik, dan kecerdasan buatan. Ia menolak masa depan yang bergerak ke fragmentasi, transaksi semata, dan kecurigaan. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Guterres meminta tatanan yang “ditopang jejaring koneksi ekonomi, politik, sosial, dan teknologi” agar negara tidak merasa bisa selamat sendirian. Pesan itu terasa mendesak karena masa jabatannya berakhir 31 Desember dan ia tak lagi punya waktu panjang untuk mengawal agenda reformasi. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Namun satu jam kemudian, Trump menyajikan narasi tandingan yang sama lugasnya. Ia menyebut dirinya memakai kekuatan untuk menjadikan Amerika “negara paling kuat di dunia”, sambil mengkritik PBB sebagai kendaraan “agenda kiri-jauh birokrat globalis”. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Kontras dua pidato itu merangkum konflik ide besar yang membayangi Sidang Umum PBB tahun ini. Apakah dunia akan bergerak ke multilateralisme yang rapuh tapi perlu, atau ke kompetisi kekuatan yang cepat namun berisiko. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Agenda pekan tingkat tinggi PBB dipenuhi perang: Iran, Gaza, Ukraina, Sudan, Kongo, dan Myanmar. Pertanyaan intinya sederhana tapi pahit, yakni apakah para pemimpin bisa menghentikannya atau hanya mengulang pernyataan normatif. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Guterres menegur logika “yang kuat yang menang”, dan mengingatkan negara adidaya bahwa “kekuatan mereka tidak sesuper itu”. Ia menambahkan bahwa “kekuatan militer saja tidak dapat menjamin perdamaian”, sebuah kalimat yang menyasar kebuntuan konflik modern. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Di sisi lain, Trump menggarisbawahi jejak ekonomi, teknologi, dan militer Amerika sebagai alat tawar. Ia juga menyorot lembaga seperti Mahkamah Pidana Internasional, yang tidak diikuti AS, sebagai simbol institusi global yang dianggap mengganggu kedaulatan. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Sidang Umum PBB juga dibayang-bayangi krisis iklim dan guncangan ekonomi akibat rute pelayaran serta rantai pasok yang tersendat. Biaya hidup naik di banyak negara, dan isu ini mudah dipakai sebagai amunisi politik domestik untuk menolak komitmen global. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Reformasi PBB menjadi tema besar yang terus berulang karena struktur kekuasaan Dewan Keamanan masih mencerminkan pemenang Perang Dunia II. Lima pemegang veto—AS, Rusia, China, Inggris, Prancis—tetap punya pengaruh tidak proporsional, sementara konsensus reformasi selalu tersangkut kepentingan yang saling mengunci. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Di balik layar, spekulasi tentang penerus Guterres menambah ketidakpastian. Ia menutup pidatonya dengan janji “tidak akan pernah menyerah” pada nilai-nilai PBB, dan menegaskan keyakinan bahwa “damai itu mungkin”. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Daftar pemimpin yang tampil memperlihatkan PBB masih magnet diplomasi, dengan sekitar 130 kepala negara dan pemerintahan dijadwalkan berbicara. Namun absennya tokoh-tokoh kunci juga menjadi pesan politik, karena Xi Jinping, Vladimir Putin, dan Narendra Modi disebut tidak hadir. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Kasus visa Mahmoud Abbas menambah ironi karena AS, sebagai tuan rumah, wajib mengizinkan diplomat semua negara anggota menghadiri pertemuan. Abbas kembali hanya berpidato lewat video, sementara Benjamin Netanyahu dijadwalkan hadir meski ada dorongan simbolik dari wali kota New York agar ia ditangkap, yang ternyata di luar kewenangannya. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Secara kelembagaan, PBB juga mengalami tahun yang berat karena tersisih dari pusat pengambilan keputusan konflik besar. Situasi keuangan memburuk setelah AS menunggak miliaran dolar iuran, sehingga kapasitas operasional lembaga ikut tergerus. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Mark Malloch-Brown, mantan wakil sekjen PBB, menyimpulkan paradoksnya: publik global masih percaya PBB, tetapi mereka “haus akan perubahan”. Kepercayaan tanpa pembaruan hanya akan menjadi modal politik yang terus menyusut. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Isu kecerdasan buatan kini naik kelas menjadi kekhawatiran global karena laju inovasi tidak diimbangi kontrol industri, apalagi pagar pengaman internasional. Dewan Keamanan PBB bahkan menambahkan rapat khusus AI, sebuah sinyal bahwa ancaman non-militer kini bisa menggeser definisi keamanan. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Beberapa hari sebelum pertemuan, pemimpin tiga perusahaan AI besar memperingatkan risiko teknologi lepas dari kendali manusia dan meminta jeda. Trump menepisnya sebagai “tipuan” dan mendorong percepatan agar AS tidak tertinggal dari China, sehingga perlombaan inovasi makin mirip perlombaan senjata. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Seruan “saling ketergantungan” Guterres terdengar idealis, tetapi justru itu realisme baru dalam dunia yang krisisnya lintas batas. Iklim, migrasi, perang proksi, dan AI tidak bisa diselesaikan dengan slogan kedaulatan yang berdiri sendiri. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Masalahnya, multilateralisme PBB sering dipaksa bekerja dengan alat yang tumpul, terutama veto dan kepentingan geopolitik. Ketika lembaga tidak mampu menghentikan perang atau menegakkan akuntabilitas, publik menyimpulkan PBB lemah, lalu negara kuat makin percaya pada jalur unilateral. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Trump memanfaatkan kekecewaan itu dengan menawarkan kepastian yang mudah dijual: kekuatan nasional sebagai jawaban. Namun kepastian semacam ini sering memindahkan biaya ke tempat lain, karena dominasi satu negara memicu reaksi, blok baru, dan eskalasi yang sulit dikendalikan. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Di titik ini, PBB bukan sekadar arena pidato, melainkan indikator kesehatan politik dunia. Jika PBB terus jadi tempat “bertemu tanpa menyelesaikan”, maka dunia akan mencari mekanisme lain yang lebih sempit, lebih transaksional, dan lebih berbahaya. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

AI memperjelas dilema itu karena tidak ada negara yang bisa mengurung dampaknya di perbatasan. Tanpa standar global, yang menang bukan yang paling etis, melainkan yang paling cepat, dan itu mengundang kecelakaan sistemik yang tidak mengenal bendera. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Sidang Umum PBB tahun ini memperlihatkan pertarungan dua logika: kerja sama yang lambat tapi menyelamatkan, versus politik kekuatan yang cepat tapi mudah meledak. Guterres meninggalkan panggung dengan keyakinan bahwa damai mungkin, tetapi ia juga meninggalkan pertanyaan tentang siapa yang sanggup merawat keyakinan itu saat dunia makin terpolarisasi. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Jika negara-negara hanya datang untuk menegaskan posisi, PBB akan menjadi museum diplomasi, bukan mesin penyelesai krisis. Namun jika mereka berani mengikat diri pada aturan bersama, maka “saling ketergantungan” bukan slogan, melainkan strategi bertahan hidup. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)

Perenungannya sederhana: di era perang dan AI, siapa yang sebenarnya paling kuat—yang mampu memaksa, atau yang mampu bersepakat sebelum terlambat. Jawaban itulah yang akan menentukan apakah PBB tetap relevan, atau hanya menjadi panggung terakhir sebelum dunia benar-benar terpecah. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)