AC di Eropa Jadi Kebutuhan Saat Gelombang Panas Ekstrem

Business Insider

Business Insider

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Air conditioning (AC) di Eropa yang dulu dianggap kemewahan, kini diburu karena gelombang panas ekstrem membuat suhu melampaui 100 derajat Fahrenheit di sejumlah wilayah. Setelah Juni terpanas dalam catatan di Eropa Barat, penjualan AC melonjak dan banyak orang mulai mengakui: kebiasaan “tahan panas” tak lagi realistis.

Selama puluhan tahun, banyak warga Eropa memandang AC sebagai barang tak perlu, cukup untuk hotel, mal, atau liburan ke luar negeri. Di sisi lain, rumah-rumah Amerika sudah lama mengandalkan AC, sehingga orang Amerika heran mengapa orang Eropa memilih berkeringat saat heat wave.

Artikel sumber menegaskan perubahan itu kini terjadi karena panas semakin panjang dan makin sulit “diakali” dengan kipas serta jendela terbuka. Kieron Heath, penulis dan podcaster asal Essex, Inggris, mengaku akhirnya membeli AC portabel Meaco seharga sekitar £585 pada April, setelah beberapa musim panas yang kian menyiksa.

Ia menyebut kipas hanya memutar udara panas tanpa benar-benar mendinginkan. Ia lelah “dua minggu kepanasan, sulit tidur, merasa tidak enak badan, dan mengantuk,” sehingga pembelian AC kini ia sebut “keputusan yang sama sekali tak perlu dipikir panjang.”

Lonjakan permintaan kini terlihat di data perusahaan, bukan sekadar anekdot. Euromonitor International menyebut AC “bergerak melampaui kategori ceruk” di beberapa negara Eropa, dan tren ini “struktural, bukan sementara,” kata Alexandre Loeur kepada Business Insider.

Samsung melaporkan penjualan AC di Eropa tumbuh dua digit pada paruh pertama 2026, dengan pasar kunci Italia, Spanyol, dan Prancis juga naik dua digit. Midea menyebut pengiriman ke Spanyol dan Prancis melonjak 108% dibanding tahun lalu, sementara penjualan e-commerce di Jerman naik 37% dan sebagian unit portabel sempat habis setelah heat wave awal.

Mitsubishi Electric menyatakan permintaan sangat kuat di Prancis, Spanyol, Inggris, dan Jerman. LG bahkan menjalankan salah satu pabriknya di Korea Selatan pada kapasitas penuh sejak April untuk mengejar permintaan global.

Asosiasi industri Eurovent menilai ini bukan fenomena sekali lewat. Wakil Sekretaris Jenderal Stijn Renneboog merujuk pemodelan Komisi Eropa: jumlah AC ruangan di Uni Eropa naik dari kurang 7 juta unit pada 1990 menjadi sekitar 57 juta pada 2020, dan bisa melampaui 100 juta pada 2030.

Tekanan terbesar datang dari risiko kesehatan publik. EuroMOMO memperkirakan kematian berlebih di Eropa naik dari sekitar 33.000 pada pertengahan Juni menjadi lebih dari 45.000 pada akhir Juni dan awal Juli.

Di Inggris dan Wales, peneliti yang dipimpin Imperial College London memperkirakan gelombang panas akhir Juni menyebabkan 2.183 kematian terkait panas. Angka ini menempatkan heat wave tersebut sebagai salah satu yang paling mematikan di Inggris dalam beberapa tahun terakhir.

Penolakan Eropa terhadap AC selama ini punya alasan yang masuk akal, tetapi kini mulai rapuh. Rumah lebih tua, listrik lebih mahal, pemasangan sering butuh izin pemilik rumah atau renovasi mahal, dan ada stigma bahwa AC boros atau tidak perlu.

International Energy Agency mencatat hanya sekitar satu dari lima rumah tangga Eropa memiliki AC, sementara di Amerika Serikat sekitar sembilan dari sepuluh. Ketimpangan ini bukan sekadar soal teknologi, melainkan soal budaya kenyamanan dan definisi “normal” dalam menghadapi panas.

Heath menyebutnya hampir kultural, terutama di Inggris, karena panas dulu dianggap singkat sehingga investasi AC terasa mubazir. Namun kunjungannya ke Arkansas membuatnya paham logika Amerika: dari rumah ke mobil, dari mobil ke kantor atau mal, selalu ada AC sehingga tubuh punya jeda untuk pulih.

Sebaliknya, ia menggambarkan pulang ke Inggris sebagai “kejutan” karena panas menempel dari bandara sampai pintu rumah. Ketika panas menjadi pengalaman tanpa jeda, daya tahan mental dan fisik terkikis, dan pilihan “bertahan” berubah menjadi risiko.

Di titik ini, debat AC bukan lagi soal gaya hidup, tetapi soal adaptasi iklim yang adil dan cerdas. Jika Eropa beralih masif ke AC tanpa strategi, konsumsi listrik dan emisi bisa naik, tetapi jika menolak total, korban kesehatan bisa terus bertambah.

Jalan tengahnya ada pada efisiensi dan desain kota. AC hemat energi, bangunan dengan insulasi baik, peneduh, ventilasi silang, ruang hijau, dan standar keselamatan panas di tempat kerja dapat menurunkan kebutuhan pendinginan tanpa mengorbankan nyawa.

Heath merangkum pergeseran itu dengan kalimat yang sederhana dan telak: dari kemewahan menjadi kebutuhan. Pertanyaan yang tersisa bukan apakah Eropa akan membeli AC, tetapi bagaimana Eropa membangun sistem yang membuat warganya tetap aman tanpa memperparah krisis iklim.

Gelombang panas menguji bukan hanya termometer, tetapi juga kebijakan publik dan empati sosial. Jika panas ekstrem menjadi “normal baru,” maka normal baru itu harus disambut dengan adaptasi yang masuk akal, terjangkau, dan berkelanjutan.

(Orbit dari berbagai sumber, 7 Agustus 2026)