PMI Jakarta Timur Latih Pengendalian KLB DBD dan Surveilans Masyarakat
ORBITINDONESIA.COM – PMI Jakarta Timur menggelar pelatihan Pengendalian KLB DBD dan Surveilans Berbasis Masyarakat (SBM) untuk dengue di Pekayon dan Balekambang. Di tengah risiko wilayah DAS Ciliwung, pelatihan ini menegaskan bahwa pencegahan demam berdarah dengue tidak bisa mengandalkan fogging semata.
Demam Berdarah Dengue (DBD) berulang menjadi alarm tahunan di banyak kota besar, termasuk Jakarta Timur. Mobilitas tinggi, kepadatan hunian, dan perubahan pola hujan membuat nyamuk Aedes mudah menemukan ruang berkembang biak.
Karena itu, PMI Kota Jakarta Timur menjalankan Mosquito Borne Disease Prevention Program (MBDPP) melalui pelatihan Pengendalian Kejadian Luar Biasa (KLB) dan SBM. Sebanyak 30 peserta dari Kelurahan Pekayon dan Balekambang dilatih di Markas PMI Jakarta Timur pada Rabu, 15 Juli 2026.
Peserta berasal dari kader jumantik aktif, relawan, dan staf PMI yang akan menjadi penggerak edukasi serta surveilans di wilayahnya. Mereka diposisikan sebagai “mata dan telinga” komunitas untuk mendeteksi gejala risiko sebelum menjadi lonjakan kasus.
Dalam sambutan pembukaan, Ketua PMI Jakarta Timur Bambang Pangestu menekankan kolaborasi sebagai kunci. “Pengendalian dengue tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja,” ujarnya, sekaligus menuntut keterlibatan warga, relawan, tenaga kesehatan, dan pemangku kepentingan.
Pernyataan itu penting karena praktik pencegahan DBD sering berhenti pada respons saat kasus sudah naik. Ketika penanganan hanya reaktif, rantai penularan sudah telanjur terbentuk di rumah-rumah dan lingkungan padat.
Pelatihan ini mengajarkan konsep dasar pengendalian KLB, SBM, pengendalian vektor, komunikasi risiko, hingga rencana tindak lanjut komunitas. Metode partisipatif dipakai melalui studi kasus, simulasi, diskusi, dan evaluasi pre-test serta post-test.
Di atas kertas, paket materi itu menyasar dua titik lemah pengendalian DBD. Titik pertama adalah deteksi dini yang kerap terlambat karena warga tidak terbiasa melapor atau mengamati pola demam di lingkungan.
Titik kedua adalah perubahan perilaku yang sering kalah oleh rutinitas harian. Program PSN dan PHBS biasanya kuat di awal, lalu melemah ketika tidak ada pengingat sosial yang konsisten.
Dengan SBM, PMI mencoba memindahkan pusat gravitasi pencegahan dari kantor dan puskesmas ke gang-gang permukiman. Cara ini sejalan dengan pendekatan kesehatan masyarakat modern yang menempatkan komunitas sebagai aktor, bukan sekadar objek sosialisasi.
Fokus DAS Ciliwung juga bukan pilihan acak. Wilayah bantaran dan daerah aliran sungai cenderung memiliki kerentanan lingkungan, mulai dari genangan, sanitasi yang tidak merata, hingga kepadatan hunian yang menyulitkan kontrol jentik.
Narasumber dari PMI Pusat, Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur, dan PMI setempat memberi sinyal bahwa pelatihan ini ingin terhubung dengan sistem kesehatan formal. Jika koordinasi berjalan, laporan komunitas dapat menjadi pemicu respons cepat fasilitas kesehatan dan pemerintah setempat.
Pelatihan ini patut dibaca sebagai koreksi atas cara publik memaknai pencegahan DBD. Selama ini, fogging sering dianggap “solusi utama”, padahal ia hanya memukul nyamuk dewasa dan tidak otomatis memutus sumber jentik.
Namun, pendekatan berbasis masyarakat juga tidak boleh menjadi cara halus untuk memindahkan beban negara kepada warga. Ketika kader jumantik diminta aktif, pemerintah tetap wajib memastikan dukungan logistik, data yang transparan, serta tindak lanjut cepat saat indikator KLB menguat.
Di sinilah komunikasi risiko menjadi krusial. Warga akan patuh jika pesan sederhana, konsisten, dan disertai bukti perubahan di lingkungan, bukan sekadar imbauan musiman.
Apresiasi Lurah Pekayon Akhmad Bakri menunjukkan pintu kolaborasi terbuka. “Semoga apa yang telah dilakukan dapat mengurangi dan mencegah terjadi DBD,” katanya, tetapi harapan itu perlu diterjemahkan menjadi agenda kerja lintas sektor.
Jika pelatihan berhenti sebagai seremoni, dampaknya akan hilang dalam beberapa pekan. Jika ia menjadi siklus rutin pemantauan jentik, pelaporan demam, dan evaluasi wilayah rawan, Jakarta Timur bisa mengurangi peluang lonjakan kasus.
Pelatihan Pengendalian KLB DBD dan SBM yang digelar PMI Jakarta Timur menunjukkan satu pesan sederhana. Pencegahan dengue adalah kerja sehari-hari yang dimulai dari rumah, tetapi harus ditopang sistem yang sigap dan adil.
Pertanyaannya tinggal satu: setelah pelatihan usai, apakah komunitas diberi ruang untuk benar-benar memimpin perubahan, atau hanya diminta “siaga” tanpa dukungan yang memadai. Pada jawaban itulah masa depan pengendalian DBD di wilayah DAS Ciliwung dipertaruhkan.
(Orbit dari berbagai sumber, 26 Juli 2026)