Sarkisian Bela Ohio State: Kekalahan Tipis Jangan Hancurkan CFP

CBS Sports

CBS Sports

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Steve Sarkisian meminta komite College Football Playoff (CFP) tidak “menghukum” Ohio State setelah kalah tipis 24-23 dari Texas di Austin. Ia menegaskan kekalahan dengan skor rapat, terjadi 25 detik jelang laga usai, justru harus dibaca sebagai bukti keberanian menjadwalkan laga besar non-konferensi.

Terjemahan akurat artikel sumber: Steve Sarkisian tahu rasanya “tergores” oleh kekalahan tipis melawan lawan papan atas, dan ia berharap hal itu tidak terjadi pada Ohio State musim ini. Setelah kemenangan comeback Texas yang luar biasa atas Ohio State pada Sabtu malam, Sarkisian menggunakan sebagian konferensi pers hari Senin untuk membela Buckeyes di depan publik.

Ia berkata, “Saya harap Ohio State tidak dihukum karena memainkan pertandingan Sabtu malam itu. Mereka bermain luar biasa. Skornya 24-23. Mereka kalah karena kami mencetak poin dengan sisa 25 detik.” Ia menambahkan, bila Ohio State berakhir 9-3, komite harus menghargai bahwa mereka datang ke Austin pada September saat suhu 100 derajat dan tetap tampil hebat.

Sarkisian melangkah lebih jauh dengan mengatakan Ohio State seharusnya “diberi penghargaan” karena bersedia memainkan laga seperti ini. Menurutnya, bila komite hanya menatap jumlah kekalahan tanpa konteks, tim-tim akan berhenti menjadwalkan laga besar non-konferensi dan memilih lawan FCS atau Group of Six demi aman.

Ia berbicara dari pengalaman karena musim lalu Texas mengalami hal serupa. Sarkisian mengingat Texas 9-3 finis tepat di luar playoff, dengan salah satu kekalahan berupa kalah tujuh poin dari Ohio State di Columbus pada Week 1.

Ia menegaskan, “Ini bukan menangisi susu yang tumpah. Saya rasa kami tidak mendapat ganjaran karena pergi ke Columbus tahun lalu.” Texas kala itu menjalani jadwal brutal, menghadapi lima lawan top-10 dan menang tiga kali, sementara dua kekalahan terjadi di kandang lawan melawan Ohio State dan Georgia.

Menjelang peringkat akhir, ketika Texas finis No. 13, Sarkisian berargumen Texas 10-2 semestinya masuk CFP “tanpa pertanyaan.” Absennya Texas membuatnya mempertanyakan kelanjutan seri kandang-tandang melawan Notre Dame, dengan ucapan, “Apa pun setelah itu bisa didiskusikan,” menurut 247Sports.

Ohio State bisa menghindari nasib serupa bila tidak terpeleset lagi dua kali. Jadwal mereka masih berat dengan laga melawan Indiana, USC, Oregon, dan Michigan, namun yang paling merusak resume Texas 2025 bukan kekalahan dari elite melainkan kekalahan tandang dari Florida yang berakhir 4-8 dan memecat Billy Napier di tengah musim.

Florida juga kalah dari South Florida dan dipermalukan Kentucky serta Tennessee. Kesimpulan artikel sumber menyebut, jika ada banyak tim 10-2 dan Ohio State salah satunya, kalah dari Texas di Austin tidak seharusnya menjadi dosa besar, tetapi kekalahan ketiga bisa membuka pintu tersingkir seperti Texas.

Pernyataan Sarkisian menyorot masalah klasik seleksi CFP, yakni tarik-menarik antara “jumlah kekalahan” dan “kualitas kekalahan.” Skor 24-23 dengan touchdown penentu di 25 detik terakhir menunjukkan margin yang sangat tipis, bukan ketimpangan kualitas.

Dalam logika kompetisi, laga non-konferensi besar adalah alat ukur lintas liga dan penguat jadwal. Jika komite tidak memberi nilai tambah pada keberanian mengambil risiko, insentifnya runtuh dan jadwal akan mengarah ke lawan yang lebih aman.

Sarkisian secara spesifik mengaitkan konteks lingkungan, yakni bermain tandang di Austin pada September dengan suhu 100 derajat. Detail ini bukan sekadar dramatisasi, karena faktor cuaca dan atmosfer kandang sering menjadi pembeda pada laga ketat.

Namun, argumen “jangan dihukum” punya batas yang jelas. Artikel sumber mencontohkan Texas 2025, di mana noda terbesar justru kekalahan dari Florida yang finis 4-8 dan memecat pelatih di tengah musim.

Artinya, komite bukan hanya menilai kalah atau menang, tetapi siapa lawan dan bagaimana kekalahan itu terjadi. Kekalahan dari tim lemah lebih sulit “dijual” dibanding kalah tipis dari kandidat juara.

Di titik ini, Sarkisian sedang menyodorkan standar seleksi yang lebih rasional. Kalah dari Texas di Austin seharusnya diperlakukan sebagai sinyal kekuatan, sementara terpeleset melawan tim level bawah adalah alarm konsistensi.

Masalahnya, publik sering menuntut aturan yang sederhana dan mudah dihitung. Sementara itu, realitas seleksi playoff menuntut narasi, pembobotan lawan, dan interpretasi konteks yang berpotensi memicu kontroversi.

Komite CFP pada akhirnya harus memilih, apakah ingin mendorong jadwal berani atau membiarkan jadwal aman menjadi strategi dominan. Jika pilihan kedua terjadi, hiburan dan nilai komersial college football bisa menurun karena laga besar September makin langka.

Sarkisian sedang melakukan sesuatu yang jarang, yakni membela tim yang baru saja ia kalahkan. Sikap ini tampak altruistis, tetapi juga strategis karena ia pernah dirugikan oleh logika seleksi yang terlalu kaku.

Di balik kalimat “Ohio State harus diberi penghargaan,” tersimpan kritik halus pada komite. Ia menilai seleksi yang tidak menghargai strength of schedule akan mendorong semua pelatih menjadi oportunis, bukan kompetitif.

Meski begitu, pembelaan ini tidak boleh menjadi cek kosong bagi tim besar. Jika Ohio State nanti 9-3, komite tetap harus menilai dua kekalahan lain, apakah datang dari lawan elite atau dari “Florida versi baru” yang merusak resume.

Justru di sinilah publik perlu bersikap lebih dewasa terhadap kekalahan. Kekalahan tipis dari tim kuat tidak identik dengan kegagalan, tetapi kekalahan ketiga atau kekalahan dari tim lemah adalah cerita yang berbeda.

College football selalu menjual drama, namun drama tanpa prinsip seleksi yang konsisten akan berubah menjadi sinisme. Jika komite ingin dipercaya, ia harus transparan dalam menjelaskan mengapa satu kekalahan “termaafkan” dan yang lain “mematikan.”

Pesan Sarkisian sederhana tetapi berdampak, yakni jangan membuat tim takut menjadwalkan laga besar non-konferensi. Jika kalah tipis dari Texas di Austin dianggap dosa, maka keberanian akan diganti kalkulasi aman.

Komite CFP perlu menegaskan bahwa kualitas lawan dan konteks pertandingan adalah bagian dari penilaian, bukan hiasan narasi. Di saat yang sama, tim juga harus menerima bahwa kekalahan “buruk” seperti Texas vs Florida 4-8 adalah beban yang sulit dihapus.

Pertanyaannya, apakah CFP ingin menjadi panggung bagi tim paling berani atau sekadar tim paling minim risiko. Jawaban itulah yang akan menentukan apakah September tetap penuh laga besar atau hanya parade pertandingan mudah. (Orbit dari berbagai sumber, 16 September 2026)