Kanker Paru pada Perempuan Nonperokok: Krisis Skrining Dini

CBS News

CBS News

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Kanker paru pada perempuan nonperokok kini menjadi alarm kesehatan publik, karena semakin banyak kasus baru muncul pada mereka yang tak pernah merokok. Kisah mendiang Susan Wojcicki, mantan CEO YouTube yang wafat di usia 56 tahun akibat kanker paru meski bukan perokok, menegaskan betapa penyakit ini bisa datang tanpa “tanda bahaya” klasik.

Kanker paru adalah penyebab kematian kanker nomor satu pada perempuan di Amerika Serikat, dan porsi kasus pada perempuan yang tidak pernah merokok terus meningkat. Anne Wojcicki mendirikan Susan Wojcicki Foundation untuk mendorong deteksi dini dan pencegahan, setelah keluarga mereka terpukul oleh kematian Susan.

Dalam episode “Healthful”, Anne berdiskusi bersama Shira Kupperman Boehler, nonperokok yang didiagnosis kanker paru stadium 1B pada usia 44 tahun, dan Dr. Kim Sandler dari Vanderbilt Lung Screening Program. Dr. Sandler menyebut ini “krisis kesehatan perempuan”, tetapi ironisnya jarang dibicarakan.

Masalahnya bukan semata pada kanker itu sendiri, melainkan pada keterlambatan menemukan penyakit sebelum menyebar. Saat gejala muncul, jendela kesempatan untuk menyembuhkan sering sudah menyempit.

Data yang paling mengguncang adalah bahwa kanker paru membunuh lebih banyak orang dibanding gabungan kanker payudara, pankreas, dan ovarium. Ini terjadi karena kanker paru sering “sunyi”, sehingga terdeteksi ketika sudah lanjut dan sulit ditangani.

Sebuah studi tahun 2023 di The Journal of Radiology mencatat pasien yang didiagnosis pada stadium I atau II memiliki tingkat kelangsungan hidup 81%. Sebaliknya, American Lung Cancer Association menyebut kelangsungan hidup pada kanker paru stadium lanjut sekitar 10%.

Di sinilah skrining menjadi pembeda antara hidup dan mati, dan teknologinya sudah tersedia. Low-dose CT scan adalah metode cepat dan relatif mudah untuk menangkap kanker paru pada fase awal, ketika terapi paling efektif.

Namun pedoman skrining di Amerika saat ini terutama menyasar kelompok berisiko tinggi berdasarkan riwayat merokok, yakni usia di atas 50 tahun dengan 20 pack-year. Pack-year berarti setara merokok satu bungkus per hari selama satu tahun.

Kerangka ini menyisakan lubang besar pada kelompok nonperokok, padahal sekitar 20% kasus kanker paru terjadi pada mereka yang tidak merokok. Lebih tajam lagi, perempuan yang tidak pernah merokok menyumbang dua pertiga dari kasus kanker paru pada kelompok nonperokok.

Shira mengusulkan skrining kanker paru dimulai pada usia 40 tahun, seperti mammogram untuk kanker payudara. Ia menekankan masalah utama: kita “tidak merasakan” paru-paru sampai terlambat, saat kanker sudah menyebar ke tulang atau otak.

Dimensi risiko lain yang sering luput adalah hubungan antara kanker payudara dan kanker paru. Dr. Sandler menegaskan bahwa setelah seseorang pernah mengalami kanker, risikonya meningkat untuk kanker lain, dan kanker paru adalah yang paling sering muncul setelah kanker payudara.

Temuan ini memaksa kita memikirkan ulang narasi “petir menyambar sekali”. Kesembuhan kanker pertama tidak selalu menutup buku, tetapi justru membuka bab pemantauan baru yang lebih disiplin.

Krisis ini bukan hanya klinis, tetapi juga krisis komunikasi dan kebijakan. Ketika kanker paru terus diasosiasikan semata dengan rokok, perempuan nonperokok cenderung tidak merasa “termasuk” dalam percakapan risiko.

Akibatnya, kewaspadaan rendah dan deteksi dini tertunda, sementara statistik menunjukkan kanker paru tidak menunggu kebiasaan merokok untuk mematikan. Stigma juga bekerja diam-diam, karena kanker paru sering dipersepsikan sebagai “kesalahan gaya hidup”, sehingga empati publik dan urgensi kebijakan melemah.

Pedoman skrining berbasis pack-year memang rasional untuk menargetkan risiko terbesar, tetapi ia tidak memadai untuk membaca pergeseran epidemiologi. Jika 20% kasus berasal dari nonperokok, maka pendekatan skrining yang hanya “mengunci” pada perokok berisiko tinggi adalah strategi yang kehilangan satu dari lima korban potensial.

Di titik ini, pertanyaannya bukan apakah low-dose CT berguna, melainkan siapa yang diberi akses dan kapan. Usulan skrining usia 40 tahun perlu diuji dengan riset biaya-manfaat, tetapi menolaknya tanpa evaluasi serius sama saja membiarkan kanker paru tetap unggul karena keterlambatan.

Indonesia bisa belajar dari debat ini, karena tren polusi udara, paparan rumah tangga, dan faktor lingkungan lain berpotensi memperluas risiko di luar rokok. Jika publik hanya menghafal “rokok penyebab kanker paru”, kita berisiko mengabaikan kelompok yang tidak merokok tetapi tetap rentan.

Kisah Susan Wojcicki dan Shira Kupperman Boehler menunjukkan satu pelajaran pahit: kanker paru dapat menyasar perempuan nonperokok, dan sering menang karena datang tanpa gejala. Data survival 81% pada stadium awal versus 10% pada stadium lanjut adalah argumen moral untuk membicarakan skrining lebih luas, bukan sekadar angka.

Kita perlu menggeser percakapan dari “siapa yang pantas dicurigai” menjadi “siapa yang pantas diselamatkan lebih cepat”. Jika kanker paru adalah krisis kesehatan perempuan yang jarang dibahas, maka diam adalah bentuk keterlambatan yang paling mahal.

Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana tetapi menuntut keberanian: apakah sistem kesehatan akan menunggu paru-paru “berteriak” lewat gejala, atau mulai mendengar lebih dini lewat skrining dan edukasi yang inklusif. (Orbit dari berbagai sumber, 2 Agustus 2026)