Mukbang dan Tren Makanan Viral: Risiko Kesehatan Anak Muda

Vietnam.vn

Vietnam.vn

Tech Life

ORBITINDONESIA.COM – Mukbang dan tren makanan viral di TikTok kerap terlihat seru, tetapi dampaknya bisa berujung mual, alergi, hingga sakit perut parah. Le Thanh Thuy di Ho Chi Minh City mengaku muntah hebat setelah meniru cumi kukus dibungkus kangkung mentah yang sedang ramai di media sosial.

Mukbang, gabungan kata Korea “meokneun” dan “bangsong”, kini menjelma tontonan harian yang memengaruhi cara anak muda memilih makanan. Video pendek membuat hidangan ekstrem, diet instan, dan “tips sehat” terasa mudah ditiru.

Di balik layar, motivasinya bukan semata rasa lapar atau kebutuhan gizi. Ada dorongan untuk tampil mengikuti tren, membuktikan diri modern, dan ikut percakapan digital yang bergerak cepat.

Thuy menyebut salad manggis viral terasa enak, tetapi pengalaman buruknya menjadi peringatan. Ia menilai konten makanan seharusnya sekadar referensi, bukan kompas yang diikuti tanpa pikir panjang.

Nguyen Thanh Phuc mengalami sakit perut parah setelah mencoba lumpia dicelup air dingin karena sedang tren. Ia mengakui konten bisa memberi ide menu, tetapi hasilnya bergantung pada kondisi tubuh masing-masing.

Luong Thi Thuy Quyen, mahasiswa, menuturkan diet penurunan berat badan dari TikTok tak hanya gagal, tetapi memicu reaksi alergi. Ia menekankan pentingnya riset mandiri dan memilah informasi sebelum meniru.

Fenomena ini menunjukkan perubahan fungsi media sosial dari ruang hiburan menjadi “ruang instruksi” gaya hidup. Video yang viral sering menang bukan karena akurat, melainkan karena memicu rasa penasaran dan mudah ditonton berulang.

Profesor Madya Trinh Hoa Binh, sosiolog dan mantan Direktur Pusat Penelitian Opini Publik, menilai anak muda kini tidak hanya menonton. Mereka meniru kebiasaan makan, cara memasak, bahkan perilaku tokoh daring untuk menegaskan identitas sebagai pribadi yang mengikuti tren.

Masalahnya, logika viral berbeda dari logika kesehatan. Konten dibuat untuk menarik perhatian, sehingga unsur “pamer”, tantangan, dan sensasi kerap mengalahkan pertimbangan gizi.

Binh menegaskan tren hanya aman bila kontennya benar, positif, dan bermanfaat. Jika motif utamanya sekadar memancing klik, peniruan nyaris tak memberi manfaat dan justru menambah risiko, terutama bagi kesehatan.

Di titik ini, algoritma berperan seperti kurator yang tidak punya etika medis. Ia menguatkan konten yang memicu reaksi cepat, sementara verifikasi ilmiah tidak otomatis ikut terangkat ke permukaan.

Konten diet untuk menurunkan berat badan atau “transformasi tubuh” menjadi contoh paling rawan. Binh mengingatkan banyak saran belum diverifikasi ilmiah dan tidak dijamin lembaga profesional, sehingga penerapan membabi buta dapat memicu risiko tak terduga.

Dr. Truong Huu Khanh, konsultan di Rumah Sakit Anak 1, menilai mukbang dan panduan makan untuk menurunkan atau menaikkan berat badan sangat populer. Namun ia menekankan potensi risikonya besar, terutama bagi remaja yang sedang berada pada fase pertumbuhan krusial.

Khanh mengingatkan kebutuhan nutrisi berbeda pada tiap kelompok usia. Karena itu, “rencana diet online” yang disalin mentah-mentah dinilainya jelas tidak akurat untuk diterapkan secara sembarangan.

Popularitas kreator juga bukan jaminan kebenaran. Menurut Khanh, banyak video dibuat untuk menarik penonton, sehingga pemirsa wajib memverifikasi informasi dan menilai kecocokannya dengan kondisi tubuh.

Ia menekankan tidak ada metode yang cocok untuk semua orang, bahkan dari instruktur bereputasi. Karena itu, memantau reaksi tubuh dan berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi menjadi langkah paling rasional sebelum mengikuti tren makanan viral.

Tren makanan viral bekerja seperti ujian sosial yang halus. Anak muda bukan hanya ingin kenyang, tetapi ingin diakui sebagai bagian dari arus, dan pengakuan itu sering dibayar dengan eksperimen pada tubuh sendiri.

Di sinilah letak kekeliruannya, karena tubuh bukan panggung konten. Ketika sakit perut, muntah, atau alergi muncul, yang menanggung konsekuensi bukan algoritma, melainkan individu.

Kita juga perlu jujur bahwa “referensi” di media sosial sering menyamar sebagai “rekomendasi”. Format video cepat, testimoni meyakinkan, dan komentar ramai menciptakan ilusi validasi, padahal tidak setara dengan standar ilmiah.

Tren mukbang dan diet instan seharusnya dibaca sebagai hiburan yang perlu jarak kritis. Jika ingin mencoba, ukurannya bukan seberapa viral, melainkan seberapa aman, seberapa masuk akal, dan seberapa sesuai dengan kondisi kesehatan.

Literasi kesehatan digital menjadi pekerjaan rumah bersama. Sekolah, keluarga, dan platform perlu mendorong kebiasaan cek sumber, cek konteks, dan cek risiko, bukan sekadar mengejar tontonan yang “ramai”.

Mukbang dan tren makanan viral di TikTok bisa memberi ide kuliner, tetapi juga bisa menjerumuskan pada keputusan makan yang serampangan. Kisah Thuy, Phuc, dan Quyen menunjukkan bahwa satu klik bisa berujung satu masalah kesehatan.

Yang paling berbahaya bukan tren itu sendiri, melainkan kebiasaan meniru tanpa memahami tubuh dan tanpa memeriksa kebenaran. Jika konten menuntut kita mengorbankan kesehatan demi sensasi, mungkin yang perlu “diet” adalah kebiasaan mengejar viral.

Pertanyaannya sederhana namun menentukan: sebelum ikut tren makanan viral, apakah kita sedang memilih makanan, atau sedang dipilih oleh algoritma? (Orbit dari berbagai sumber, 4 Juni 2026)