Deshaun Watson dan Cleveland Browns: Kemenangan Palsu, Krisis Nyata

CBS Sports

CBS Sports

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Kata Deshaun Watson, ia “tepat berada di tempat yang ia inginkan”, setelah Cleveland Browns menang 23-19 atas Tampa Bay Buccaneers yang dipimpin Baker Mayfield. Tetapi kemenangan Week 2 itu justru menonjolkan paradoks besar Browns: hasil jangka pendek yang menunda pertumbuhan jangka panjang. Ini bukan sekadar soal skor, melainkan soal arah masa depan franchise.

Dalam hidup dan sepak bola, sukses sesaat sering menghalangi pembangunan yang lebih tahan lama. Itulah yang dinilai terjadi pada Browns (1-1) di Week 2, ketika satu kemenangan menutupi masalah struktural yang belum selesai. Browns seperti mendapat napas, tetapi bukan obat.

Watson jauh dari ekspektasi ketika Browns menukarnya dari Houston Texans dengan paket berpusat pada tiga pilihan putaran pertama. Ia lalu menerima kontrak lima tahun senilai 230 juta dolar AS yang sepenuhnya dijamin, di tengah beban isu hukum di luar lapangan. Kombinasi ini membuat setiap penampilan buruk terasa lebih mahal, baik secara finansial maupun reputasi.

Setelah dipermalukan 34-10 oleh Jacksonville Jaguars di Week 1, tekanan mengarah pada kemungkinan “tirai” era Watson. Week 2 semestinya bisa menjadi titik evaluasi, apalagi menjelang laga kandang Week 3 melawan Carolina Panthers (1-1). Namun Browns memilih bertahan, dan kemenangan tipis memberi alasan untuk menunda keputusan sulit.

Watson menunjukkan kilasan masa lalunya, tetapi konteksnya penting. Di usia 31 tahun pada musim 2026, ia datang dengan riwayat operasi bahu yang mengakhiri musim 2023. Ia juga mengalami robek Achilles pada 2024 dan 2025, yang menggerus mobilitasnya.

Melawan Buccaneers, Watson mencatat 238 yard, dua touchdown, dan akurasi 24 dari 30 lemparan (80%). Ia menyatakan, “Saya membuat permainan, dan saya bilang ke Monk saat halftime untuk percaya pada saya.” Ia lalu menuntaskan 17 dari 21 lemparan terakhirnya untuk 183 yard, plus seluruh touchdown-nya.

Todd Monken memuji keras performa babak kedua itu. “Dia bermain habis-habisan di babak kedua, dan dia melakukannya tanpa kami bisa lari dengan baik,” kata Monken. Pujian ini menjelaskan mengapa kemenangan terasa memuaskan, meski fondasinya rapuh.

Masalahnya, data jangka panjang Watson bersama Browns tetap suram. Sejak 2022, dari 51 quarterback dengan minimal 500 percobaan umpan, Watson berada di peringkat 50 untuk EPA per dropback (-0,17) dan yards per dropback (5,1). Ia juga peringkat 50 untuk sack rate (11,2%), yang menandakan masalah pemrosesan dan perlindungan yang tidak selesai.

Catatan game-by-game mempertegas bahwa Week 2 adalah pengecualian, bukan tren. Dalam 21 start sejak 2022, Watson hanya lima kali melewati 70% completion. Ia belum pernah mencatat 300 yard passing sebagai Browns, dan hanya sekali membuat tiga passing touchdown atau lebih.

Karena itu, kemenangan atas Mayfield yang sedang goyah tidak otomatis membenarkan pilihan Browns. Mayfield disebut memiliki 17 turnover dalam 13 laga terakhirnya, sehingga ini bukan tolok ukur elite. Browns menang, tetapi mereka belum menjawab pertanyaan inti: apakah Watson masih bisa menjadi mesin kemenangan yang konsisten.

Di sisi lain, jadwal memberi ancaman cepat. Panthers baru saja melumat Atlanta Falcons 34-3 dan memperlakukan quarterback lawan seperti “mainan kunyah”. Linebacker Devin Lloyd bahkan menjadi pemain pertama sejak 2012 yang mencatat dua intersepsi, touchdown return dari intersepsi, dan satu sack dalam satu pertandingan.

Jika tekanan serupa menimpa Watson di Week 3, Browns akan kembali ke titik awal. Bedanya, mereka kehilangan waktu evaluasi untuk opsi yang lebih relevan bagi masa depan. Mereka punya Shedeur Sanders, pick putaran kelima 2025, dan rookie putaran keenam Taylen Green yang atletis tetapi mentah.

Artikel sumber juga menyoroti “jam” kontrak Watson yang berdetak jelas. Pada 11 Maret pukul 16.00 EST, awal tahun liga NFL baru, Browns bisa membatalkan kontraknya dengan penetapan post-June 1. Konsekuensinya adalah dead cap terbatas 34,663 juta dolar AS pada 2027, yang memberi jalan keluar yang lebih realistis.

Di sinilah ironi Browns menjadi tajam: kemenangan Watson bisa menjadi kerugian jangka panjang. Setiap “kilau” produksi ofensif membuat manajemen merasa cukup aman untuk menunda transisi. Padahal transisi itulah yang menentukan apakah Browns membangun ulang dengan disiplin atau sekadar menambal retakan.

Monken bahkan sempat membalas sindiran “Browns is the Browns” dengan emosi. “Browns are gonna Browns. F--k that! Para pemain menanggapinya serius,” katanya. Kalimat itu menggambarkan identitas yang ingin dibangun, tetapi identitas tidak bisa bertumpu pada nostalgia performa quarterback yang menurun.

Watson adalah albatros finansial dan PR, bukan hanya karena kontraknya, tetapi juga karena “kerangka” isu luar lapangan yang membuat dukungan publik sulit terkonsolidasi. Franchise modern memerlukan legitimasi moral dan performa, bukan salah satunya saja. Saat keduanya rapuh, kemenangan tipis justru bisa menjadi candu.

Secara strategis, Browns seharusnya memaksimalkan sisa musim sebagai laboratorium keputusan. Mereka perlu tahu apakah Sanders punya kapasitas starter, atau apakah Green bisa dipoles menjadi proyek serius. Mereka juga harus menilai kapan dan apakah perlu memakai salah satu dari dua pilihan putaran pertama 2027 untuk quarterback baru.

Dengan kata lain, “menang sekarang” tidak selalu berarti “maju”. Jika kemenangan itu menunda keputusan yang sudah tak terhindarkan, ia berubah menjadi emas palsu. Dan emas palsu paling berbahaya justru ketika terlihat berkilau.

Cleveland Browns memang menang di Week 2, dan Watson memang tampil lebih rapi dari pekan sebelumnya. Tetapi angka-angka sejak 2022 menunjukkan bahwa satu malam bagus tidak menghapus pola penurunan yang panjang. Browns harus berani membedakan antara kebangkitan dan kebetulan.

Pertanyaan besarnya sederhana tetapi tidak nyaman: apakah Browns sedang mengejar masa depan, atau hanya menghindari rasa malu mengakui kesalahan investasi? Jika Week 3 kembali kacau, bangku cadangan bukan sekadar hukuman, melainkan keputusan organisasi. Pada akhirnya, keberanian terbesar bukan merayakan kemenangan tipis, melainkan memilih arah yang benar saat kemenangan itu justru menyesatkan. (Orbit dari berbagai sumber, 23 September 2026)