Pidato Trump di PBB: Ancam Iran, Kejar Deal, Tekan Media
ORBITINDONESIA.COM – Pidato Trump di PBB kembali mengguncang diplomasi global, setelah ia berkata bisa “memusnahkan” Iran namun juga memprediksi kesepakatan damai akan tercapai usai pemilu paruh waktu AS. Di mimbar Majelis Umum PBB, Presiden Donald Trump memadukan retorika perang Iran, agenda Gaza, Ukraina, serta isu AI yang ia ingin ubah namanya menjadi “superintelligence”.
Di hadapan Sidang Umum PBB, Trump membela cara ia menangani konflik dunia selama dua tahun pertama masa jabatan keduanya. Ia menyebut dirinya tidak membiarkan masalah “membusuk”, dan menegaskan “sementara yang lain bicara, saya bertindak”.
Pidato sekitar 35 menit itu berlangsung saat ia dijadwalkan bertemu sejumlah pemimpin di sela-sela forum, termasuk PM Inggris dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Perang Iran akan memasuki bulan ketujuh, sementara rencana damai Gaza dan upaya mengakhiri invasi Rusia di Ukraina masih tersendat.
Trump membingkai perang Iran sebagai langkah mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir. Ia juga mengakui ada “keputusan besar” yang harus ia ambil setelah negosiasi berbulan-bulan dinilai gagal mengakhiri pertempuran.
Ancaman itu disampaikan dengan diksi ekstrem: apakah memberi ruang Iran “membangun kembali” lewat kesepakatan, atau “memusnahkan Republik Islam” dengan cepat. Namun ia segera mengunci narasi dengan prediksi: “Saya percaya kita akan membuat kesepakatan, tepat setelah pemilu.”
Trump menambahkan Iran disebut menunggu hasil pemilu paruh waktu, lalu ia menohok balik dengan kalimat politis: “Mereka tidak sadar, saya tidak mencalonkan diri.” Di hari yang sama, ia menyebut Jared Kushner dan utusan khusus Steve Witkoff bertemu pihak Iran di sela UNGA, dan pertemuan itu “sangat baik”.
Retorika “deal atau annihilate” adalah strategi tekanan maksimum yang dibawa ke panggung publik PBB. Ini bukan sekadar pesan ke Iran, tetapi juga sinyal ke sekutu dan lawan bahwa Washington siap menaikkan eskalasi sekaligus membuka pintu transaksi.
Kontradiksi muncul pada isu logistik perang. Trump menepis laporan stok amunisi menipis dengan klaim AS punya “lebih banyak amunisi daripada yang mungkin kita pikirkan untuk digunakan”, padahal Inspektur Jenderal Pentagon pekan lalu menyebut perang Iran memicu “kekurangan inventaris strategis” amunisi.
Di Amerika Latin, Trump menonjolkan intervensi di Venezuela dan pengadaan miliaran barel minyak Venezuela. Ia mengutip logika “to the victor belong the spoils”, yang menormalisasi keuntungan material sebagai pembenaran kebijakan luar negeri.
Ia juga mempromosikan perjanjian keamanan baru dengan Greenland dan Denmark, menyebut Greenland “perbatasan utara Amerika Utara”. Kesepakatan itu memberi AS ruang menambah “area pertahanan” di wilayah yang sudah memiliki kehadiran militer AS.
Langkah Greenland menunjukkan geopolitik Arktik makin diperlakukan sebagai ruang kompetisi keras, bukan sekadar isu iklim dan riset. Namun friksi dengan Kanada dan negara Eropa disebut kerap memanas terkait perdagangan, belanja pertahanan, dan dorongan Trump agar NATO membantu perang Iran.
Di sisi teknologi, Trump menyerang kritik atas percepatan AI, lalu mencoba membingkai ulang istilah menjadi “superintelligence” atau “SI”. Ia menyindir para pengkritik yang dulu meramal “kita semua mati dalam 12 tahun karena pemanasan global”, lalu menyamakan itu dengan ketakutan bahwa AI akan membunuh manusia.
Namun penggantian label tidak menghapus masalah tata kelola. Risiko AI bukan hanya “robot menyerang”, melainkan disinformasi, otomatisasi senjata, dan ketimpangan ekonomi yang menuntut regulasi lintas negara.
Hubungan AS-China menjadi latar besar UNGA karena Xi Jinping dijadwalkan berkunjung ke Gedung Putih untuk kunjungan kenegaraan berisiko tinggi. Kedua pihak disebut berupaya memulihkan relasi ekonomi pasca perang dagang balasan tahun lalu, sekaligus membuka komunikasi tentang risiko AI.
Trump memuji Xi meski ada pertanyaan tentang entitas China yang membantu Iran dan membeli minyak Rusia. China adalah pembeli terbesar minyak mentah Rusia, sehingga berpotensi menjadi sasaran UU yang ditandatangani Trump pekan lalu yang mengancam tarif besar bagi pelanggan energi utama Rusia.
Trump juga menepis laporan Wall Street Journal bahwa entitas China memberi Iran citra satelit sebuah pangkalan di Yordania yang digunakan tentara AS sebelum Iran menewaskan tiga warga Amerika di sana. Ia berkata Xi “berperilaku cukup masuk akal”, dan AS juga “cukup masuk akal”.
Di dalam negeri, dimensi kebebasan pers ikut masuk ke panggung. Setelah Gedung Putih melarang Politico, CNN, dan MS NOW, jaringan pool kepresidenan yang terdiri dari ABC, CBS, CNN, Fox, dan NBC menangguhkan liputan pool.
Akibatnya, publik kemungkinan minim siaran televisi atas pertemuan Trump dengan pemimpin asing di PBB. Ketiga media itu mengumumkan gugatan terhadap pemerintahan Trump dengan alasan Amandemen Pertama, sementara kamera lain tetap merekam UNGA secara umum.
Pidato Trump di PBB memperlihatkan diplomasi sebagai panggung dominasi, bukan forum kompromi. Ketika ancaman “memusnahkan” disandingkan dengan janji “deal”, pesan utamanya adalah: perdamaian terjadi bila pihak lain tunduk pada syarat Washington.
Masalahnya, retorika semacam ini bisa memperpendek jalur negosiasi sekaligus memperpanjang luka perang. Lawan bisa menganggapnya penghinaan, sekutu bisa menganggapnya beban, dan publik global melihat PBB direduksi menjadi mikrofon kampanye kekuatan.
Di Venezuela, frasa “spoils” membuka pertanyaan etika yang sulit dihindari. Jika sumber daya diperlakukan sebagai hadiah pemenang, maka prinsip kedaulatan dan hak warga lokal rentan menjadi catatan kaki.
Di Greenland, perluasan “area pertahanan” menegaskan bahwa Arktik kini dipandang sebagai garis depan militer. Ini bisa memicu spiral keamanan, karena setiap penambahan pos dipersepsikan pihak lain sebagai ancaman yang perlu dibalas.
Di isu AI, Trump benar bahwa teknologi besar tak bisa dihentikan hanya dengan ketakutan. Namun kepemimpinan “aman dan bertanggung jawab” butuh transparansi, standar audit, dan koordinasi internasional, bukan sekadar rebranding istilah.
Yang paling mengkhawatirkan adalah sinyal pembatasan akses media saat peristiwa diplomatik penting berlangsung. Ketika liputan dibatasi, ruang publik menjadi lebih mudah diisi narasi sepihak, dan akuntabilitas kebijakan luar negeri melemah.
Pidato Trump di PBB menampilkan satu benang merah: kekuatan sebagai bahasa utama, lalu kesepakatan sebagai hadiah setelah tekanan mencapai puncak. Ia mengklaim “membuat damai”, tetapi ia juga memelihara politik ancaman yang membuat damai terasa seperti ultimatum.
Pertanyaan yang tersisa bukan hanya apakah Iran akan meneken deal setelah pemilu paruh waktu. Pertanyaan yang lebih besar adalah apakah dunia masih bisa mempercayai PBB sebagai ruang merawat nalar kolektif, ketika retorika pemusnahan dan pembatasan liputan justru mendapat panggung paling terang.
(Orbit dari berbagai sumber, 24 September 2026)