Fed Tahan Suku Bunga, Kevin Warsh Didesak Naikkan Bunga
ORBITINDONESIA.COM – Federal Reserve diperkirakan menahan suku bunga acuan pekan ini, tetapi Ketua The Fed Kevin Warsh kian ditekan untuk segera menaikkan suku bunga. Tekanan itu datang saat inflasi AS masih keras kepala, sementara perang Iran, tarif baru Trump, dan biaya pembangunan AI mendorong harga naik.
Federal Reserve diperkirakan tidak mengubah suku bunga kunci saat rapat Selasa dan Rabu. Namun Ketua The Fed Kevin Warsh menghadapi tekanan yang meningkat untuk segera menaikkan suku bunga, langkah yang berpotensi memicu kemarahan Presiden Donald Trump yang mengangkatnya.
Perang Iran kembali menyala dan mendorong harga minyak serta gas naik. Tren ini diperkirakan memperburuk inflasi dalam beberapa bulan ke depan.
Lonjakan investasi untuk pembangunan ekosistem kecerdasan buatan ikut menaikkan biaya laptop, ponsel pintar, dan listrik. Di saat yang sama, kenaikan harga akibat tarif bisa menyusul setelah Trump memberlakukan bea baru terhadap puluhan mitra dagang AS.
Tekanan harga itu bisa saja bersifat sementara, bukan lonjakan inflasi berkelanjutan seperti 2021-2022. Namun inflasi menurut ukuran favorit The Fed telah berada di atas target 2% selama lebih dari lima tahun.
Inflasi inti yang mengecualikan energi dan pangan telah naik sejak Desember lalu. Sejak 2023, inflasi inti bertahan di sekitar 3% atau lebih, dan itu membuat ruang toleransi The Fed makin sempit.
Warsh sejak menjabat pada Mei menegaskan The Fed akan mengembalikan inflasi ke 2% tanpa merinci caranya. Dalam konferensi pers pertamanya bulan lalu, ia menolak memberi sinyal kebijakan seperti pendahulunya, terutama Jerome Powell.
Namun dalam kesaksian di Kongres awal bulan ini, Warsh menyatakan The Fed “tidak menoleransi” inflasi yang lebih tinggi. Dalam pernyataan suku bunga pertama di bawah kepemimpinannya, bank sentral berjanji “akan mewujudkan stabilitas harga.”
Retorika keras itu, ditambah perang Iran dan kenaikan harga energi, sudah mengangkat biaya pinjaman. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sempat menembus 4,7% pada Kamis lalu, tertinggi sekitar 18 bulan, dan itu ikut menekan bunga KPR.
Masalahnya, pasar biasanya menuntut bukti, bukan sekadar kata-kata. James Bullard, mantan Presiden The Fed St. Louis, menilai retorika Warsh efektif membangun kredibilitas, tetapi pasar akan bertanya, “Apa yang sudah Anda lakukan belakangan ini?”
Di internal The Fed, nada sebagian pejabat juga makin tidak sabar. Christopher Waller dari Dewan Gubernur menyindir bahwa “menatap inflasi dengan tajam sampai meleleh” bukan pilihan, dan ia mendorong pertimbangan kenaikan suku bunga jika inflasi inti terus naik.
Beth Hammack, Presiden The Fed Cleveland, menulis bahwa untuk pertama kalinya ia mendengar pemimpin bisnis meminta suku bunga lebih tinggi. Ia juga mendengar konsumen yang “tak bisa menutup kebutuhan” dan merasakan “keputusasaan” yang meningkat.
Namun data terbaru memberi ruang napas. Laporan inflasi terakhir menunjukkan inflasi inti mendingin cukup jelas pada Juni, sementara inflasi utama turun tajam saat harga bensin merosot hampir 10%.
Biaya sewa apartemen yang sempat melonjak saat pandemi kini tumbuh jauh lebih lambat dibanding beberapa tahun lalu. Ini penting karena sewa adalah komponen besar dalam inflasi jasa yang sulit diturunkan.
John Williams, Presiden The Fed New York sekaligus wakil ketua komite penentu suku bunga, mengatakan ada alasan “menggembirakan” untuk berharap inflasi telah memuncak dan akan turun bertahap pada kuartal mendatang. Ia menyebut penurunan harga bensin sebelum perang Iran kembali, serta menilai dampak tarif terhadap inflasi sebagian besar sudah selesai.
Tetapi perang yang kembali pecah di Timur Tengah mengangkat lagi harga bensin di atas rata-rata nasional 4 dolar per galon, dari sekitar 3,80 dolar di libur 4 Juli. Kenaikan ini berpotensi mengerek inflasi utama tepat sebelum rapat The Fed berikutnya pada September.
Di titik ini, instrumen The Fed punya keterbatasan yang sering diabaikan publik. Suku bunga tinggi bisa menekan permintaan dan inflasi, tetapi tidak bisa memulihkan pasokan minyak dan gas yang terganggu perang.
Vincent Reinhart, ekonom Dreyfus-Mellon dan mantan ekonom senior The Fed, menilai The Fed menghadapi inflasi “jauh di atas target” terutama karena faktor yang “tidak bisa mereka pengaruhi.” Ini membuat pilihan kebijakan serba tidak ideal.
Warsh sendiri memberi petunjuk bahwa tugas The Fed adalah mencegah kenaikan harga spesifik seperti bensin atau perangkat komputer “melebar” ke sektor lain. Secara tradisional, pencegahan “pelebaran” dilakukan dengan menaikkan suku bunga ketika ada tanda efek rambatan.
Namun ada skenario lain yang sedang dipertaruhkan: “kebijakan lewat komunikasi.” Stephen Douglass dari NISA Investment Advisors menilai The Fed berharap “bicara keras” sudah cukup, dan ia tidak memperkirakan kenaikan suku bunga tahun ini.
Pandangan berseberangan datang dari Joseph Lavorgna, mantan ekonom utama Departemen Keuangan AS. Ia menegaskan tidak ada sejarah inflasi melandai perlahan tanpa dorongan The Fed, dan inflasi inti “tidak akan melambat secara ajaib.”
Kevin Warsh sedang berjalan di atas garis tipis antara kredibilitas dan konfrontasi. Jika ia terlalu cepat menaikkan suku bunga, ia bisa dituduh “mencekik” ekonomi dan memantik konflik politik dengan Trump.
Jika ia terlalu lama menahan suku bunga, risiko yang lebih halus justru menguat: publik percaya inflasi akan terus tinggi. Begitu ekspektasi inflasi terlepas, biaya untuk mengendalikannya biasanya jauh lebih mahal daripada kenaikan suku bunga yang terukur.
Retorika keras memang dapat memperketat kondisi keuangan tanpa keputusan formal. Tetapi strategi ini menumpuk utang reputasi, karena pasar pada akhirnya menagih konsistensi antara kata dan tindakan.
Perang Iran dan tarif adalah guncangan sisi pasokan yang sulit disembuhkan dengan suku bunga. Namun The Fed tetap bertanggung jawab mencegah guncangan itu berubah menjadi kebiasaan kenaikan harga di seluruh ekonomi.
Di sinilah dilema Warsh menjadi ujian kepemimpinan. Ia harus membuktikan bahwa independensi bank sentral bukan slogan, melainkan perangkat untuk melindungi daya beli warga.
Rapat pekan ini mungkin berakhir tanpa perubahan suku bunga, tetapi cerita besarnya justru ada pada tekanan yang menumpuk. Inflasi inti yang bertahan sekitar 3%, harga energi yang kembali naik, dan ketidakpastian tarif membuat “menunggu” menjadi keputusan yang makin mahal.
Warsh tampaknya ingin mencegah kenaikan harga yang terisolasi berubah menjadi inflasi yang meluas. Pertanyaannya, kapan “bicara keras” berhenti efektif dan The Fed harus “bertindak” meski berisiko politis.
Di tengah perang, AI, dan tarif, kebijakan moneter kembali menunjukkan batasnya. Namun satu hal tetap tegas: ketika kepercayaan publik pada stabilitas harga goyah, yang runtuh bukan sekadar angka inflasi, melainkan rasa aman ekonomi sehari-hari.
(Orbit dari berbagai sumber, 9 Agustus 2026)