DOJ Desak Pejabat Pemilu California Saring Nonwarga Negara

NBC News

NBC News

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Departemen Kehakiman AS (DOJ) mendesak pejabat pemilu California bekerja sama mengidentifikasi pemilih nonwarga negara dalam daftar pemilih terdaftar. Jika menolak, mereka diperingatkan bisa menghadapi tindakan hukum.

Langkah ini menajamkan konflik lama soal integritas pemilu, khususnya terkait surat suara pos (vote-by-mail) dan tuduhan pemungutan suara oleh nonwarga negara. California yang condong Demokrat kembali menjadi sasaran utama menjelang pemilu paruh waktu.

Terjemahan akurat artikel sumber: DOJ memperingatkan pejabat pemilu lokal di California agar bekerja sama dengan pemerintah untuk mengidentifikasi nonwarga negara dalam daftar pemilih terdaftar, atau menghadapi potensi tindakan hukum. Peringatan itu tertuang dalam surat yang diperoleh NBC News.

DOJ mengirim surat pada Jumat kepada 57 dari 58 county di California, menandai eskalasi upaya pemerintahan Trump untuk mencegah negara bagian itu menghitung surat suara dari pemilih yang oleh pemerintah federal diidentifikasi sebagai kemungkinan nonwarga negara. Los Angeles County menerima surat serupa pekan lalu.

NBC News memperoleh surat kepada Panitera Pemilih (Registrar of Voters) San Bernardino County, Joani Finwall, dari kantor jaksa federal (U.S. attorney’s office) di Los Angeles. Dalam surat itu, First Assistant U.S. Attorney Bilal Essayli menyebut kantornya memberikan daftar 1.133 “kemungkinan orang asing.”

“Dalam 48 jam, kami meminta Anda berkomitmen bekerja sama dengan DOJ dan DHS untuk mengidentifikasi siapa dalam daftar terlampir yang warga negara dan siapa yang bukan,” tulis Essayli. “Saya menulis untuk memperjelas secara tegas implikasi hukum jika terus mengirim surat suara pos kepada orang-orang dalam daftar itu atau menghitung surat suara yang mereka berikan sampai kewarganegaraan dapat diverifikasi.”

Bagi mereka yang status kewarganegaraannya tidak dapat dipastikan, Essayli meminta county “segera menginstruksikan pejabat pemilu yang tepat untuk memisahkan—bukan membatalkan—surat suara pos milik individu tersebut sampai status kewarganegaraannya dapat ditentukan.”

“Konsekuensi hukum karena memfasilitasi atau mengabaikan kejahatan federal sangat besar. Seorang orang asing yang memilih dalam pemilu federal adalah kejahatan federal—dan dengan sadar memfasilitasi tindakan semacam itu sama-sama melanggar hukum,” tulis Essayli.

“Surat-surat itu berbicara sendiri,” kata Essayli dalam pernyataan kepada NBC News. “Pejabat pemilu mana pun yang dengan sadar memproses surat suara seorang nonwarga negara membuka diri pada risiko hukum.”

The New York Times pertama kali melaporkan keberadaan surat-surat tersebut. Senator Alex Padilla dari California menyatakan DOJ era Trump tidak memberikan bukti atas klaim kecurangan pemilih besar-besaran, dan mengakui data yang mereka rujuk tidak akurat serta tidak dapat diandalkan.

Padilla menegaskan, berapa pun gugatan atau ancaman kepada pejabat pemilu, pemerintah federal tidak berwenang mengintervensi. Pemerintahan Trump menjadikan pengejaran pemilih nonwarga negara sebagai prioritas menjelang midterms dan menyoroti California.

Pemerintah menggugat untuk memblokir California menghitung lebih dari 20.000 surat suara pos dari pemilih yang dicurigai bukan warga negara AS. Pada Kamis, pemerintah meminta Pengadilan Banding Sirkuit ke-9 AS menerapkan pembatasan itu sebelum pengadilan tingkat bawah memutus perkara.

Keyword utama “DOJ desak pejabat pemilu California” bertemu sub-keyword “pemilih nonwarga negara” dan “surat suara pos” dalam satu manuver politik-hukum yang berlapis. Surat DOJ ke 57 county menunjukkan koordinasi terpusat, bukan sekadar imbauan administratif.

Angka 1.133 “likely aliens” yang disebut dalam surat ke San Bernardino menjadi pusat narasi, tetapi tidak otomatis menjadi bukti pelanggaran. “Likely” adalah kategori probabilistik, sehingga risiko salah sasaran terhadap warga negara yang sah tetap terbuka.

Tenggat 48 jam menambah tekanan psikologis dan operasional bagi kantor pemilu lokal. Dalam praktik, verifikasi kewarganegaraan sering bergantung pada basis data lintas lembaga yang kualitasnya bervariasi.

DOJ juga meminta surat suara dipisahkan, bukan dibatalkan, bagi status yang belum terkonfirmasi. Ini terdengar prosedural, tetapi segregasi dapat memperlambat tabulasi dan memicu sengketa hasil, terutama jika margin ketat.

Ancaman “legal jeopardy” bagi pejabat yang memproses suara nonwarga negara memperlihatkan strategi penegakan hukum sebagai alat disiplin administrasi. Namun, pembuktian “knowingly” atau dengan sadar memfasilitasi kejahatan federal biasanya kompleks dan tidak sederhana.

Di sisi lain, pemerintah disebut menggugat agar California tidak menghitung lebih dari 20.000 surat suara pos dari pemilih yang dicurigai bukan warga negara AS. Permintaan agar Sirkuit ke-9 menerapkan pembatasan sebelum putusan pengadilan bawah menandakan upaya menang lewat prosedur cepat.

Pernyataan Senator Alex Padilla menyorot titik rapuh: klaim kecurangan besar-besaran tanpa bukti yang kuat, serta pengakuan data yang “inaccurate and unreliable.” Jika data lemah, maka daftar “kemungkinan” bisa menjadi instrumen yang menggerus hak pilih sah.

California yang “heavily Democratic” membuat isu ini sulit dilepaskan dari kalkulasi elektoral. Ketika penegakan menjadi selektif secara geografis, publik wajar bertanya apakah ini murni integritas pemilu atau juga strategi politik.

Integritas pemilu memang menuntut satu prinsip keras: nonwarga negara tidak boleh memilih dalam pemilu federal. Tetapi demokrasi juga menuntut prinsip yang sama kerasnya: warga negara yang sah tidak boleh dipersulit hanya karena dugaan berbasis data yang tidak transparan.

Surat DOJ memindahkan beban pembuktian ke pejabat lokal, seolah kesalahan administratif setara dengan kejahatan federal. Dalam iklim seperti itu, pejabat pemilu bisa memilih sikap paling aman, yaitu menahan suara, meski yang dirugikan adalah pemilih sah.

Bahaya terbesar bukan hanya kemungkinan nonwarga negara memilih, melainkan normalisasi intervensi federal yang agresif terhadap administrasi pemilu negara bagian. Jika standar “likely” menjadi cukup untuk menghambat penghitungan, maka setiap pemilu berpotensi dipenuhi daftar-daftar baru yang sulit diverifikasi publik.

Transparansi metodologi menjadi kunci, termasuk bagaimana DOJ dan DHS menyusun daftar, tingkat kesalahannya, dan mekanisme koreksi cepat. Tanpa itu, narasi “pencegahan kecurangan” mudah berubah menjadi “pencegahan pemilih” dengan dampak yang asimetris.

Pertarungan DOJ versus pejabat pemilu California memperlihatkan satu pelajaran: demokrasi modern hidup dari data, tetapi juga bisa terluka oleh data yang buruk. Ketika daftar “kemungkinan” dipakai sebagai dasar ancaman hukum, kepercayaan publik ikut dipertaruhkan.

Yang perlu dijaga adalah keseimbangan antara penegakan hukum dan perlindungan hak pilih, dengan audit terbuka dan jalur pemulihan yang cepat bagi pemilih sah. Jika tidak, kita akan memasuki era ketika ketidakpastian administratif menjadi senjata politik, bukan sekadar masalah teknis.

(Orbit dari berbagai sumber, 29 Oktober 2026)