Trump Minta Ukraina Hentikan Serangan Kilang, Krisis Diesel Global

Al Jazeera

Al Jazeera

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Donald Trump meminta Ukraina berhenti menghantam kilang diesel Rusia, sambil menuding serangan itu memicu kelangkaan diesel global dan ikut mendorong harga di AS. Namun data dan analisis pasar menunjukkan perang AS-Iran di Timur Tengah justru menjadi pendorong terbesar lonjakan harga energi, sementara serangan Ukraina lebih berperan sebagai faktor tambahan.

Trump pada Minggu berbicara di Amgen Irish Open di lapangan golfnya di Doonbeg, Irlandia, dan mengaku telah membahas isu itu dengan Volodymyr Zelenskyy. Ia berkata Zelenskyy “harus berhenti melumpuhkan diesel di Rusia”, dengan alasan “masih banyak target lain” dan menautkan krisis diesel pada perang Rusia-Ukraina.

Ukraina sejak lama menyatakan infrastruktur energi Rusia adalah target militer yang sah. Bagi Kyiv, minyak dan gas adalah mesin pembiayaan Moskow, sehingga memukul kilang berarti memukul kemampuan perang Rusia.

Di saat yang sama, pasar energi diguncang perang AS dengan Iran. Setelah AS dan Israel menyerang Iran pada Februari, harga minyak dan bahan bakar melesat di atas 100 dolar per barel, sempat turun saat gencatan senjata, lalu naik lagi ketika pertempuran kembali meningkat.

Tekanan politik di Washington ikut menebal karena pemilu paruh waktu AS pada November. Solar di AS disebut sudah menyentuh rekor, dan kenaikan biaya angkutan membuat harga barang sehari-hari ikut terdorong.

Serangan Ukraina ke fasilitas minyak Rusia berlangsung berbulan-bulan dan memaksa Rusia membatasi ekspor bahan bakar. Data Kpler menunjukkan ekspor fuel oil Rusia turun ke 591.000 barel per hari pada Agustus, dari rata-rata 860.000 barel per hari pada 2025.

Beberapa jam sebelum komentar Trump, militer Ukraina menyatakan telah menghantam kilang TANECO di Tatarstan. Polisi setempat menyebut dua warga sipil tewas, menandakan perang energi ini punya biaya kemanusiaan yang nyata.

Rusia membalas dengan menarget SPBU, terutama dekat garis depan, dan serangan meningkat sejak April dengan setidaknya 246 SPBU dilaporkan terkena. Akhir bulan lalu, puluhan SPBU di St Petersburg kehabisan pasokan, dan antrean panjang muncul di sejumlah wilayah Rusia.

Chris Beauchamp, analis pasar IG Group, menilai dampak paling langsung sementara ini jatuh pada warga sipil Rusia. Ia menyebut langkah itu dirancang untuk menambah tekanan domestik terhadap presiden Rusia melalui rasa sakit ekonomi harian.

Lalu seberapa besar peran Rusia dalam pasokan diesel dunia. Artikel ini menyebut Rusia kini memasok sekitar 150.000 barel diesel per hari secara global, turun 81 persen dari rata-rata lima tahun, akibat pembatasan ekspor dan kerusakan kilang karena serangan Ukraina.

International Energy Agency mencatat gabungan ekspor diesel dari Rusia dan kawasan Teluk pada Agustus lebih rendah 1,6 juta barel per hari dibanding Februari. Pada Februari, keduanya menyumbang hampir 45 persen perdagangan global, sehingga penurunan kecil saja bisa bergaung besar pada harga.

Di AS, dampaknya terasa pada papan harga di pompa. Menurut American Automobile Association, harga diesel naik hampir 65 persen sejak serangan AS dan Israel ke Iran pada Februari, dengan rata-rata nasional sekitar 6,20 dolar per galon pada Minggu.

Bensin reguler berada di 4,31 dolar per galon, naik sekitar 45 persen pada periode yang sama. Karena kapal, kereta, dan truk bergantung pada diesel, biaya logistik naik dan merembet ke harga barang kebutuhan.

Beauchamp menekankan Ukraina hanya “bahan kecil” dalam gambaran besar. AS tidak mengimpor diesel Rusia sejak 2022, sehingga jalur transmisi utama ke harga domestik AS lebih banyak lewat harga minyak global dan gangguan rantai pasok internasional.

Ia menunjuk perang dengan Iran sebagai alasan utama karena harga minyak disebut 40 persen lebih rendah sebelum konflik itu pecah. Ia memperingatkan eskalasi ini “mengancam mendorong ekonomi dunia ke resesi” karena energi adalah input paling dasar bagi industri dan konsumsi.

IEA juga menyimpulkan kerusakan kilang Rusia dan turunnya ekspor memperparah kerugian yang sudah terjadi akibat perang di Teluk. Selat Hormuz, yang pernah mengirim sekitar seperlima pasokan minyak global, tetap menjadi titik tarik-menarik antara AS dan Iran.

Masalahnya bukan hanya minyak mentah, tetapi juga kapasitas kilang yang mengubah minyak menjadi bahan bakar. Kilang di Timur Tengah dan Rusia mengalami kerusakan akibat perang, sehingga pasokan diesel sebagai produk jadi menjadi lebih rapuh.

Alternatif rute ekspor pun ikut terganggu. Pipa East-West Arab Saudi, jalur kunci pengganti Hormuz, dilaporkan lumpuh pada Kamis setelah serangan drone yang diduga diluncurkan dari Irak.

Beauchamp menilai penghentian serangan Ukraina bisa menurunkan harga sedikit dan hanya dalam jangka pendek. Ia menambahkan, selama pendorong utama belum selesai, penurunan itu akan cepat terbalik karena pasar tetap menilai risiko Teluk sebagai risiko sistemik.

Andreas Krieg dari King’s College London sependapat bahwa perang Iran adalah guncangan terbesar bagi ketersediaan diesel global. Ia menyebut kampanye Ukraina sebagai “tekanan tambahan yang sangat penting”, tetapi bekerja di atas gangguan yang lebih besar yang berpusat di Teluk.

Kesimpulannya, dua krisis ini tidak saling meniadakan. Keduanya bersifat kumulatif, dan justru kombinasi itulah yang membuat diesel menjadi komoditas paling sensitif saat ini.

Pernyataan Trump terdengar seperti upaya memindahkan pusat kesalahan dari Timur Tengah ke Eropa Timur. Dalam tahun politik, narasi “Ukraina penyebab harga naik” lebih mudah dijual ketimbang mengakui perang dengan Iran ikut membakar biaya hidup pemilih.

Namun, data yang ia hadapi tidak sesederhana itu. Jika AS tidak lagi mengimpor diesel Rusia sejak 2022, maka tudingan bahwa serangan Ukraina “langsung” menciptakan krisis diesel AS tampak lebih sebagai framing politik ketimbang diagnosis ekonomi.

Di sisi lain, Ukraina juga tidak bermain tanpa konsekuensi moral dan strategis. Menyerang kilang dan memukul pasokan domestik Rusia dapat mempercepat tekanan internal, tetapi juga memperlebar dampak pada warga sipil dan menambah volatilitas energi global.

Yang jarang diucapkan lantang adalah ini: energi telah menjadi medan perang kedua, dan publik dunia menjadi penanggung biayanya. Ketika kilang terbakar di Rusia dan jalur ekspor terguncang di Teluk, harga di pompa menjadi referendum diam-diam atas keputusan geopolitik para pemimpin.

Karena itu, pertanyaan kuncinya bukan “siapa yang paling bersalah”, melainkan “siapa yang paling mampu meredam guncangan”. Tanpa de-eskalasi di Teluk dan kepastian jalur pasok, meminta Ukraina berhenti menyerang mungkin hanya memberi jeda kecil, bukan solusi.

Krisis diesel global tidak lahir dari satu tombol yang ditekan Zelenskyy, dan juga tidak bisa diselesaikan dengan satu permintaan Trump di lapangan golf. Data menunjukkan serangan Ukraina memang menggerus kapasitas Rusia, tetapi perang AS-Iran dan risiko di Selat Hormuz menciptakan guncangan yang lebih luas dan lebih sistemik.

Di tengah harga diesel AS yang naik hampir 65 persen sejak Februari dan ekspor diesel Rusia yang merosot tajam, publik berhak menuntut kejujuran sebab-akibat. Jika dua krisis bersifat kumulatif, maka solusi pun harus kumulatif, dari diplomasi Teluk hingga stabilisasi kapasitas kilang.

Perenungan akhirnya sederhana namun tidak nyaman: ketika energi dijadikan senjata, siapa pun bisa menang di medan tempur, tetapi semua orang membayar di kasir. Apakah para pemimpin dunia siap menukar kemenangan naratif jangka pendek dengan stabilitas yang benar-benar menurunkan harga dan risiko resesi?

(Orbit dari berbagai sumber, 15 September 2026)